Batan Manfaatkan Limbah Radioktif Jadi Baterai Nuklir

257
Kepala Batan Djarot Sulistyo Wisnubroto diwawancarai wartawan. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Di Indonesia terdapat 15 ribu pemegang izin pemanfaatan radioaktif mulai dari perusahaan pertambangan besar, rumah sakit hingga pabrik rokok. Indonesia juga memiliki tiga reaktor nuklir, salah satunya berada di kawasan Babarsari Yogyakarta.

Selama ini, limbah-limbah radioaktif tersebut tersimpan aman di dalam tanah dalam jangka panjang di bawah kendali dan pengelolaan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan).

Sebagian dari limbah itu dikembalikan ke negara asal setelah habis pakai atau dimusnahkan. Selebihnya diteliti untuk dijadikan baterai nuklir.

“Dari limbah-limbah radioaktif yang dikelola Batan, sebagian zat tersebut punya potensi dimanfaatkan sebagai baterai nuklir,” ungkap Djarot Sulistyo Wisnubroto, Kepala Batan, Kamis (19/04/2018).

Dia didampingi Peneliti Batan Winter Dewayatna, Deputi Teknologi Energi Nuklir Suryantoro, Kepala Pusat Teknologi Limbah radioaktif Husen Zamroni serta Peneliti Baterai, Sudaryanto.

Baca Juga :  Mengurus Ijin Bisa Online

Kepada wartawan di sela-sela Rapat Koordinasi Pengolahan Limbah Radioaktif di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) Yogyakarta, lebih lanjut Djarot menyampaikan baterai nuklir tersebut saat ini sedang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Limbah Radioaktif (PLTR) Batan.

Para peneliti Batan menyampaikan penjelasan seputar baterai nuklir di STTN Yogyakarta, Kamis (19/04/2018). (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baterai nuklir selain sangat strategis mendukung sistem pertahanan negara, juga bisa dimanfaatkan untuk sumber listik di daerah terpencil. Salah satu keistimewaan baterai nuklir adalah tahan lama (longlife) puluhan tahun bahkan ratusan tahun.

“Baterai nuklir itu menarik. Lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA, mengirim wahana tanpa awak ke Mars bisa bergerak sendiri dengan sumber energi baterai nuklir. Ide itu bagus dan Indonesia bisa memanfaatkan juga,” kata Djarot.

Dia menambahkan, sejak 2009 Amerika Serikat sudah menghidupkan kegiatan baterai nuklir. Sedangkan Indonesia baru pada tahapan langkah awal. Batan sendiri memiliki 3.000 sumber radioaktif, sebagian dari limbah itu radiasinya masih memancar.

Baca Juga :  Bupati Sleman Resmikan Student Park STTNAS Yogyakarta

Adapun prinsip kerja baterai nuklir adalah mengubah sinar radioaktif atau pancaran radiasi menjadi menghasilkan energi listrik. Baterai nuklir kini jadi impian karena tidak tergantung siang dan malam, berbeda dengan baterai kimia yang mengalami proses oksidasi atau berkarat.

Djarot menegaskan, penggunaan baterai nuklir harus tetap memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan.

Husen Zamroni menambahkan, daya listrik yang dihasilkan baterai nuklir tergantung pada daya radiasinya. Makin besar daya radiasi maka makin besar daya listrik yang dihasilkan.

Dia mencontohkan, Plutonium-238 setiap 1 kilogramnya mampu menghasilkan energi listrik 560 watt, yang dapat dijadikan bahan baterai nuklir jenis RTG yang mampu menghasilkan listrik sebesar 25-40 watt. (sol)