Batik Lipatan Karya Umi Shibori Indah dan Menakjubkan

315
Umi Hidayah, pembuat batik lipatan asal Dusun Mojosari Desa Srimartani Kecamatan Piyungan menunjukkan batik karyanya yang indah dengan beragam motif. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Dari lipatan segi empat, segi tiga dan bentuk lain terciptalah karya batik nan indah dan menawan. Ya, di tangan Umi Hidayah (45), lipatan-lipatan itu bisa menjadi karya menakjubkan. Apalagi selama menciptakan karya batik  dirinya selalu dibantu dan dibimbing suaminya, Eko Kucing yang dikenal sebagai seniman lukis.

Penasaran dengan batik lipatan? Datang saja ke tempat produksinya di Dusun Mojosari Desa Srimartani Kecamatan Piyungan.

Untuk menuju ke sana sangat mudah. Dari ruas jalan Jogja-Wonosari, barat tikungan Bokong Semar langsung masuk ke utara, di situlah lokasi pembuatan batik lipatan.

Memulai usaha sejak setahun silam, bukan perkara mudah bagi guru PAUD ini untuk menghasilkan karya batik. Maklumlah selama ini dirinya tidak pernah menggeluti batik atau lukis. Berkat bantuan dan arahan dari suaminya, kini Umi menjadi pembatik lipatan yang andal dan diperhitungkan di wilayah Bantul.

Sudah ribuan lembar batik dihasilkan, bukan saja dibeli oleh konsumen domestik dari berbagai kota di tanah air, namun hingga mancanegara seperti Jerman dan Amerika.

“Batik ini juga dikenal dengan nama sibhori berasal dari bahasa Jepang yang artinya lipatan. Karena memang untuk membuat motif batik kita mengawali dan mengandalkan lipatan pada kain,” kata Umi kepada koranbernas, beberapa waktu lalu.

Baca Juga :  Jelang Puncak Ibadah Haji, Mekkah Makin Padat

Berkali-kali gagal

Pertama kali membuat batik, Umi sempat kesulitan bahkan karyanya tidak langsung jadi. Meski berkali-kali gagal namun dia tidak berhenti dan terus mencoba termasuk mengolah takaran warna agar benar-benar pas.

Dengan kegigihan dan  konsistennya membuat batik lipatan itu pula, Umi akhirnya sukses mencipta batik sesuai harapan. Kini  di kalangan pecinta  batik, namanya  dikenal dengan sebutan Umi Sibhori.

Adapun proses pembuatan batik lipatan diawali dengan pemilihan kain putih  dan dilipat sesuai selera. Bisa segi empat, segi tiga bahkan acak-acakan. Selanjutnya lipatan itu diikat kencang dan rapat menggunakan karet, dan diwarna dengan cara dicelup atau disolet warna remasol.

“Setelah itu, warna ditunggu hingga benar-benar kering sekitar satu jam,” katanya. Jika sudah kering, warna dikunci dengan water glass dan diinapkan semalam. Baru hari berikutnya dikeringkan dengan cara diangin-anginkan. Setelah kering barulah dicuci hingga licinnya water glass hilang dan kembali diangin-anginkan hingga kering.

“Dengan demikian proses sibhori ini butuh waktu tiga hari,” katanya. Umi dibantu 5 orang tenaga terutama untuk proses pemberian warna atau pelipat kain. Sekali proses dirinya membuat 10 lembar kain atau lebih ketika ada pesanan misal kain seragam.

Baca Juga :  Tipe-X Goyang Owabong

“Penggunaan warna ini sudah saya hitung. Jadi jarang sekali ada yang sisa,” katanya. Dengan demikian batik karyanya minim polutan.

Tidak sama persis

Selain itu, karena ini permainan lipatan dan pewarnaan, maka tidak ada yang sama persis kendati pembuatannya bersamaan. “Kalau mirip sekali iya, namun kalau persis tidak bisa antara satu kain dengan kain yang lain,” katanya. Memang, semua proses dilakukan secara manual.

Umi membanderol karya batiknya setiap lembar Rp 125.000 hingga Rp 150.000. Selain di tempat usahanya, batik Sibhori juga bisa diperoleh di kios BUMDes Desa Srimartani yang berlokasi di depan Balai Desa Srimartani, Jalan Piyungan-Prambanan yang belum lama ini diresmikan. “Saya berharap batik ini akan semakin banyak peminatnya,” ujarnya.

Lurah Srimartani H Mulyana secara terpisah mengatakan, potensi di Srimartani sangatlah beragam. Selain batik lipatan,  desa ini juga memiliki potensi pertanian dan terbentuk 17 kelompok tani serta kelompok P3A untuk jenis tanaman padi dan sayur.

Ada 13 kelompok peternakan baik kambing, sapi ataupun domba, kelompok perikanan, pengolahan abon lele, pengolahan wader presto, ayam goreng, aneka keripik hingga wedang uwuh instan. Semua potensi itu yang bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. (sol)