“Batu Tumpuk” Ini Akan Memikat Hati, Coba Saja

886
Camat sedayu Dr Fauzan Mu’arifin dan Panit 1 Bhinmas Polsek Sedayu Iptu Agus Supraja SH berfoto di lokasi “Batu Tumpuk” Kedung Watu, Dusun Brongkol, Desa Argodadi, Sedayu, Bantul, Jumat (2/03/3018). (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Sebuah tempat wisata alternatif hadir bernama “Batu Tumpuk” yang berlokasi di Kedung Watu, Dusun Brongkol, Desa Argodadi, Sedayu. Untuk menuju ke lokasi juga bukan hal yang sulit. Seperti saat koranbernas.id datang ke lokasi bersama Camat Sedayu Drs Fauzan Mu’arifin dan Panit I Bhinmas Polsek Sedayu, Iptu Agus Supraja SH, Jumat (2/03/2018).

Kendati jalan agak menanjak, namun tetap dengan mudah dilalui oleh kendaraan baik roda dua ataupun roda empat ke lokasi yang idenya dicetuskan oleh Toni Sunaryo, seorang tukang bangunan yang tinggal di Brongkol.

Begitu tiba di sana, kita akan disuguhi pemandangan alam pedesaan yang hijau dan sejuk. Selain melihat “Batu Tumpuk” nan memikat diantara aliran sungai yang berair jernih, kita juga bisa melihat dasar sungai dengan ‘lukisan’ dan ‘guratan’ kecoklatan bak lukisan sang maestro yang sarat makna.

Disana kita juga bisa bertemu dan bercengkrama dengan anak-anak maupun warga sekitar. Ya, di tempat itu memang banyak ditemui anak-anak dan warga yang berenang ataupun mandi, karena ada tempat yang dibendung oleh pemuda setempat untuk arena bermain. Semua gembira, semua ceria menikmati bentangan alam anugerah sang pencipta.

“Adanya kreatifitas “Batu Tumpuk” ini patut kita apresiasi dan tentu kita dukung nantinya untuk pengembangannya. Karena memang tempat ini ternyata menarik kedatangan masyarakat,” kata Camat Fauzan.

Baca Juga :  Inilah Identitas Mayat di Cepoko

Untuk itulah sebagai pemimpin di wilayah, Fauzan sudah bertemu dukuh dan LPMD setempat untuk bisa menskenariokan tempat itu menjadi lebih indah dan tertata. Seperti sarana pendukung agar “Batu Tumpuk” bisa menjadi obyek wisata alternatif pilihan utama wisatawan.

“Kita akan kembangkan tempat ini menjadi wisata alam yang menarik. Di ujung sana ada batu dengan panjang 5 meter dan biasa di gunakan untuk plorotan. Ada juga batu pipih yang nanti bisa ditatah sebuah nama atau apalah, sesuai kreatifitas. Memang harus ditatah, karena ini jenisnya batu keras,” katanya. Juga perlu ada papan petunjuk lokasi agar memudahkan pengunjung.

Kepada masyarakat sekitar dirinya juga berpesan agar turut menjaga wilayah yang masih ‘perawan’ ini agar tetap terjaga kelestarinya. Misal dengan tidak membuang sampah ke sungai yang mata airnya dari
Metes, Desa Argorejo itu.

Sementara pencetus ide, Toni Sunaryo mengatakan kalau pembuatan “Batu Tumpuk” dilakukan dua hari lalu saat iseng-iseng jam istirahat atau rolasan sebagai tukang bangunan di sekitar lokasi. “Saat istirahat saya main ke sungai, sekitar satu jam saya iseng menumpuk batu-batu yang saya dapat di lokasi,”katanya.

Baca Juga :  “Kursi Roda Itu tidak Beragama”

Kegiatan itu ternyata ditiru teman-temanya dan melakukan hal yang sama pada hari berikutnya hingga sore. Dengan suasana penuh canda, akhirnya Toni dan teman-temanya berhasil membuat “Batu Tumpuk” atau orang sering menyebut “Stone Balancing” hingga tujuh tumpuk di beberapa bagian sungai. Tidak hanya batu ukuran kecil, namun juga ukuran besar dan berbagai bentuk baik bulat, kotak, pilih hingga lonjong. Kemudian foto “Batu Tumpu” tadi dikirim ke beberapa temannya dan ternyata menarik kedatangan orang ke tempat tersebut.

Sementara Iptu Agus Supraha SH mengatakan apa yang dilakukan Toni bisa menjadi contoh bagi anak muda yang lain. Dibandingkan berkegiatan yang tidak ada manfaatnya, bahkan kadang berbuat negatif atau onar, lebih baik waktu yang selo dimanfaatkan untuk kegiatan positif termasuk bersatu dengan alam.

“Ini ide kreatif, indah dan positif. Ini bisa menjadi contoh bagi anak muda lain agar selalu memanfaatkan waktu luang dengan kegiatan positif dan berguna,” kata Iptu Agus yang juga nampak asyik berfoto ria di lokasi seperti pengunjung lainnya. (yve)