Bayar Kos Kini Bisa Lewat Aplikasi

810
Chief Executive Officer INDEKOST, Diaz Kaslina, (tengah) menyampaikan keterangan pada media gathering di Angkringan Saridele, Kamis (26/07/2018). (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Hampir semua anak kos pernah mengalami problematika terlambat bayar uang kos bulanan. Atau, ingin membayar kos secara tunai tetapi uang keburu terpakai dan hilang.

Bisa juga terjadi sebaliknya, pemilik kos sedianya ingin melipatgandakan nilai properti sekaligus menjaring pundi-pundi dari kamar sewa di rumahnya, ternyata menjadi investasi zonk alias tidak menghasilkan lantaran kamarnya tidak terjual.

Hal lain yang kerap terjadi, kamar kos disewakan tanpa sepengetahuan pemilik atau uang sewa tidak sampai kepada pemilik.

Bayangkan jika pemilik memiliki 20 kamar dengan harga Rp 1,5 juta per bulan, jika tidak dilaporkan 2 kamar saja, maka pemilik kos dalam setahun akan kehilangan omzet Rp 36 juta

Melihat kondisi seperti itu, sejumlah anak kos merasa tergugah ingin membantu kemudian membuat aplikasi yang memudahkan booking maupun pembayaran bulanan.

Aplikasi yang diberi nama INDEKOST itu sudah bisa di-install melalui Playstore (Android) dan Appstore (iOS). Aplikasi ini juga dirancang sangat ringan berukuran sekitar 1,5 MB saja sehingga tidak membuat berat HP.

“INDEKOST didirikan untuk memberikan banyak kemudahan bagi anak kos,” ungkap Diaz Kaslina, Chief Executive Officer INDEKOST, Kamis (26/07/2018), pada Media Gathering di Angkringan Saridele Jalan Sidobali No 10B, Muja Muju Umbulharjo Kota Yogyakarta.

Bahkan, kata dia, pada bulan pertama sejak diluncurkan pihaknya memberikan diskon ratusan ribu rupiah untuk pemesanan kos, sehingga anak kos dapat menghemat uang kiriman orang tua atau gajinya.

“Pada bulan berikutnya, jika berlangganan pembayaran bulanan melalui INDEKOST, juga kami berikan diskon sewa kos pada periode tertentu dan promo, misal gratis laundry, gratis cuci motor dan sebagainya,” kata Diaz didampingi Chief Marketing Officer, Sunny Firdiansyah beserta tim.

Perusahaan start-up digital INDEKOST memang menawarkan suatu terobosan untuk pemesanan dan pembayaran sekaligus pemasaran kos bagi para pemilik kos.

“Kos yang sudah masuk kepada kami, tidak sekadar menjadi listing saja. Kami juga tidak hanya bermain SEO (Search Engine Optimization) tetapi juga menawarkan langsung kepada mahasiswa dan karyawan di kantor-kantor,” kata Diaz.

Aplikasi INDEKOST selain sudah dapat di-install di Playstore dan Appstore, juga berada di bawah naungan perusahaan dalam negeri yaitu PT Indonesia Digi Ekosistem. Bahkan perusahaan digital lokal ini diirik beberapa perusahaan asing. Akhirnya, mereka memilih rekanan Digi Asia Bios.

INDEKOST menawarkan suatu terobosan sistem pembayaran bulanan hunian sewa untuk kos. Pencatatan transaksi kos yang semula manual sekarang dapat terpantau hanya melalui aplikasi di handphone pemilik kos.

Pembayaran juga cashless, dapat melalui m-banking, ATM, bahkan e-wallet. Perusahaan asing ini kemudian memberikan suatu sistem pendukung untuk pembayaran mereka dan fitur lainnya.

Menurut Diaz Kaslina tim INDEKOST juga merupakan Anak Kost. “Kami merintis INDEKOST karena sadar bahwa kami sebagai anak kos susah hidupnya. Kami pernah kok, mengalami tinggal di kos harga Rp 300-400 ribuan,“ ungkapnya.

Berangkat dari pengalaman mereka sebagai anak kos, mereka membuat suatu sistem pembayaran lengkap dengan booking invoice, bukti pembayaran, tagihan bulanan, dan lain sebagainya.

Tim INDEKOST merupakan campuran alumni dari berbagai universitas dalam negeri yang merantau ke daerah lain sehingga mengerti permasalahan dan seluk-beluk kehidupan anak kos.

“Harapan kami dengan adanya aplikasi INDEKOST ini, anak kos mendapatkan berbagai kemudahan dalam keuangannya,” ujarnya.

Sunny Firdiansyah menambahkan, sejak dilaunching sebulan silam di Jogja saja saat ini sudah terdaftar 500 kamar. “Baru launching sebulan kita sudah jalan dan ternyata respons owner kos bagus,” kata dia.

Bagi pemilik kos yang ingin bergabung, tidak ada kriteria khusus. Semua kos-kosan bisa masuk. “Untuk tahap awal ini kita utamakan yang dekat kampus dan perkantoran. Di wilayah Jogja kita fokus ring satu kampus-kampus  besar. Misalnya UMG, radius 1 km sampai 5 km dari kampus,” jelasnya. (sol)