Beda Pendapat Boleh, Tapi Harus Taat UU

209
Diskusi dan sarasehan “Merawat Kebhinekaan Supaya Bhineka Tunggal Ika” di Angkringan Enaknan Jalan kaliurang, Senin (31/7) petang. (istimewa)

KORANBERNAS.ID–Hidup di Indonesia adalah keberuntungan karena dilingkupi keberagaman. Walaupun ada konflik namun situasi relatif kondusif dan tidak ada perang. Maka  kita semua harus  mensyukurinya dan menjaga keberagaman tadi, agar tidak menimbulkan  persoalan di tengah masyarakat.

Untuk  itu dosen Ilmu Religi dan Budaya Universitas Atmajaya, St Sunardi berharap masyarakat Indonesia harus optimis menghadapi keberagaman, jangan justru timbul rasa pesimis.

“Hal ini karena kita melihat akhir-akhir ini sikap toleransi dan keberagama mulai memudar dengan berbagai perbedaan pendapat yang muncul,”kata Sunardi saat diskusi dan sarasehan merawat  “Kebhinekaan supaya Bhineka Tunggal Ika” di Angkringan Enaknan Jalan Kaliurang.

Ditambahkan, demokrasi di Indonesia sudah didengungkan sejak lama. Namun ada beberapa kelompok masyarakat yang ternyata tidak siap dengan demokrasi tadi.  Misalnya warga yang mempermasalahkan perbedaan.

“Secara ideologis, parpol juga semakin buyar baik yang berideologi nasionalis ataupun Pancasila,” katanya.

Sehingga saat ini di Indonesia semakin hari semakin kehilangan tokoh  dan pemimpin yang kharismatik. Penyebabnya adalah pemikiran yang selalu linear dan ukurannya hanya dengan visi dan misi semata.

Sementara Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang juga Anggota Indonesian Conference on Religion on Peace, Nur Kholiq Ridwan berpendapat bahwa Allah hakekatnya menginginkan keberagaman kelompok. Namun umatnya justru senantiasa berselisih. Larangan berselisih sudah jelas diatur dalam Al-quran

“Namanya pendapat memang  tidak boleh dimatikan. Namun ketika sudah ada Undang-undang harus ditaati,” katanya. (sm)