Bedah Menoreh Siap Tembus Kulonprogo ke Borobudur

610
Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo (baju biru) menengok jalur Bedah Menoreh, Rabu (07/02/2018).(sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Pembangunan jalan ‘bedah Menoreh’ menghubungkan New Yogyakarta International Airport (NYIA) dengan Borobudur nyaris tembus. Tinggal 6 km yang sekarang perlu pelebaran agar terstandar.

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo, Rabu (07/02/2018) menjelaskan, jalur tersebut dimulai dari Kecamatan Kokap sampai Kecamatan Girimulyo sejauh 41 kilometer. Diteruskan dari Tegalsari, Girimulyo ke Samigaluh sepanjang 20 kilometer di perbatasan Magelang. Sisanya 20 kilometer itu putus 6 kilometer antara Tegalsari-Kebonharjo ini dan mulai akan dibuka dengan pembebasan lahan.

“Sebetulnya tidak putus, hanya yang lebarnya sudah standar sudah 40 kilometer, sisanya masih kurang. Tahun ini mulai disediakan lahannya dan tahun 2019 ditarget selesai, harapannya tahun 2020 sudah bisa dikerjakan. Dengan dana dari kabupaten, provinsi atau pusat,” tuturnya.

Hasto kembali menengok jalur jalan tersebut. Dia melakukan pembangunan daerah simultan dengan pembangunan bandara.

“Jalan Borobudur Suroloyo dulu kan tidak tembus, nah jalur itu juga bagian dari Bedah Menoreh. Tahun ini kita membebaskan ruas yang putus antara Tegalsari, Purwosari Kecamatan Girimulyo dengan Kebonharjo Kecamatan Samigaluh sepanjang 6 kilometer dengan lebar 14 meter sebagai jalan utama,” papar Hasto.

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo menengok jalur Bedah Menoreh, Rabu (07/02/2018).(sri widodo/koranbernas.id)

Ditegaskannya, sebagai rintisan Bedah Menoreh harus segera dimulai. Sebab program itu dananya tidak sedikit karenanya minimal badan jalan sudah disiapkan terlebih dahulu. Dalam proses pembangunannya, pemkab sudah mengajukan dan melakukan presentasi ke pusat.

“Saya sudah presentasi sebanyak empat kali dan tidak ada yang menolak, Pak Gubernur DIY sendiri memprioritaskan jalur bedah menoreh antara bandara-Borobudur,” ujarnya.

Jalur tersebut menghubungkan pusat-pusat tempat wisata yang menarik. Dengan landscape yang bagus, diharapkan jalur itu didukung kekayaan budaya dan tradisi. Bahkan kalau perlu ada heritage-nya. Karenanya Bupati Gianyar Bali didatangkan juga untuk berbagi pengembangan budaya berwawasan nusantara seperti di Bali.

“Izin membuat kawasan api di Bukit Menoreh juga masih diurus, sehingga nanti kita membuat sendratari Kecak dengan api di Bukit Menoreh misalnya, tidak apa-apa seperti itu. Yang pasti, bedah menoreh tidak ada artinya jika tidak didukung dengan budaya berwawasan nusantara yang bisa memperkuat dan menjadi magnet wisatawan untuk datang,” lanjutnya.

Beberapa obyek wisata yang sudah mulai dirintis dan digarap heritage dan seni budayanya, salah satunya obyek wisata Goa Kiskendo (Girimulyo) dengan suguhan sendratari Sugriwo Subali. Selain itu ada Sendangsono (Kalibawang) yang sarat dengan tradisi dan religi. Kekuatan atau potensi itu tidak bisa disaingi.

“Yang lainnya masih kita dorong, contoh Kedung Pedut itu apa sajian tradisinya, kan masih sekedar menyuguhkan keindahan alam. Ayunan langit, Kali Biru, Waduk Sermo, Gunung Gajah semua baru menawarkan wisata alam. Nah di atas Boro (wisata farm Kambing PE) itu bagus, ada kombinasi ternak dan alam, bahkan pengelola masih membuat sendratari dengan kostum kambing, itu bagus dan perlu didorong ke depannya,” ucapnya.

Secara terpisah Ketua DPRD Kulonprogo Akhid Nuryati mengingatkan upaya mengangkat potensi wisata dan budaya yang ada harus bersama sama dan terkoordinir di antara stakeholder.

“Baik penataan obyek yang menarik dan bersih, suguhan budaya, jamuan kuliner hingga pengkondisian SDM harus dilakukan bersama sama dan terkonsep. Jangan dinas membuat kebijakan atau program setelah ada masalah,” ujarnya. (yve)