Warga Tinggalkan Desanya dengan Berlinang Air Mata

233
Bupati Hasto Wardoyo mengikuti proses bedhol desa warga terdampak bandara. (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Acara bedhol desa dua pedukuhan di Glagah Temon Kulonprogo semarak namun penuh linangan air mata. Warga seperti merasakan betapa beratnya meninggalkan rumah dan pekarangan yang menjadi tempat tinggal bertahun-tahun. Namun demikian mereka juga menaruh harapan hidup ke depan dengan lebih nyaman dan mapan.

Sejak pukul 08:00 warga Bapangan dan Kepek Glagah sudah berkumpul di SD Glagah 3 bersama para siswa sekolah tersebut. Para pelajar itu mengikuti upacara bedhol desa. Tua muda pria wanita berkumpul bahkan ada di antaranya datang menggunakan kursi roda.

“Berat memang sebenarnya untuk meninggalkan tanah dan pekarangan di mana merupakan warisan dari kakek buyut kami,”  ujar Marjana (82)  warga Bapangan di atas kursi rodanya. Marjana datang diantar dua putranya.

Dia mengakui, meninggalkan rumah lamanya sebenarnya tidak nyaman karena tidak bisa mempertahankan warisannya. “Jangankan mempertahankan, memperbaiki saja saya belum pernah kok,” ujarnya.

Baca Juga :  Hampir Semua Wilayah Jawa Kekeringan

Meski berat namun karena mendukung program pemerintah akhirnya dia ikut relokasi. Dia mengaku masuk rumah relokasi 17 Oktober lalu.

“Pindahan bertepatan dengan tanggal pernikahan kami. Saya memang hanya tinggal dengan istri. Dua anak saya tinggal di Wates dan Pengasih. Empat lainnya tinggal di luar Kulonprogo,”  katanya.

Puluhan warga lainnya yang bedhol desa kemarin menunjukkan sikap sama. Trenyuh. Terlebih ibu-ibu yang sudah usia lanjut,  berulang ulang mereka menyeka airmata.

Warga terdampak pembangunan NYIA, yang mengikuti bedhol dusun, menggendong tanah dari kediaman lama mereka, menuju kediaman baru mereka di lahan relokasi. Tanah tersebut diambil dari titik empat penjuru arah mata angin.

Sulistyaningsih warga Bapangan menuturkan, tanah yang mereka ambil itu kemudian dibungkus dalam bumbung.

Tanah tersebut digendong bersama dengan air minum, beras sebagai simbol makanan dan kunyit sebagai simbolisme bumbu masakan. Sebagai perlambang bekal pangan mereka di rumah baru, agar tak berkekurangan.

Baca Juga :  Universitas Terbuka Tetap Utamakan Kualitas
Iring-iringan warga tinggalkan rumah dan pekarangan mereka. (sri widodo/koranbernas.id)

Bedhol desa diawali upacara di halaman SD Glagah 3 Pedukuhan Kepek yang juga tergusur. Siswa SD ini akan pindah belajar sementara di rumah penduduk Macanan yang tidak tergusur.

Dalam upacara ini Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo memahami rasa berat warga meninggalkan rumah pekarangan.

Namun dia memberikan harapan agar hidup menjadi lebih baik. Pemkab Kulonprogo bersama PT Angkasa Pura dan desa Glagah akan memperhatikan kehidupan selanjutnya.

Prosesi bedhol desa dilakukan dengan jalan kaki dari Kepek SD Glagah 3 menuju tempat relokasi. Barisan paling depan bregada prajurit abdi dalem. Di belakangnya Bupati Hasto Wardoyo Ketua DPRD Kulonprogo  Akhid Nuryati dan pejabat lainnya. Baru kemudian warga terdampak.

Di lokasi relokasi, aktivitas diawali dengan penanaman pohon perindang. Dan upacara ditutup doa dan dhahar kembul. (sol)

.