Begini Kisah Eks Psikotik yang Ternak Burung di  Rumah Singgah

220
Seorang penghuni Rumah Ssinggah Eks Psikotik Dosaraso, menunjukkan  burung berkicau peliharaannya. (nanang wh/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Memasuki Rumah Singgah Eks Psikotik  Dosaraso di bekas Rumah Sakit Umum Dr Soedirman Kebumen,  serasa bertamu di rumah pribadi. Sang penghuni membuka pintu gerbang, sebelum tamu memberi salam kepada tuan rumah.

Yang beda, si penghuni eks psikotik hanya membuka pintu gerbang dorong, tanpa mempersilakan tamu masuk rumah singgah ini.

Harap maklum, penghuni  yang membuka pintu gerbang eks psikotik itu baru selesai menjalani rawat inap di Rumah Sakit Jiwa dr Soerojo Magelang atau dirawat jalan di Poli Jiwa UPTD  Puskesmas Pejagoan.

Setidaknya ini yang dialami koranbernas.id ketika bertamu sekaligus  meliput fasilitas untuk eks psikotik  yang didirikan dan  dikelola Dinas Sosial Pengendalian Penduduk dan Keluarga  Berencana Kebumen.

“Setiap penghuni kami ajarkan seperti itu, membuka pintu gerbang dan menutup, ketika ada tamu,“  kata Anis, Tenaga  Kesejahteraan Sosial  Kecamatan (TKSK) yang  bertugas di rumah  singgah itu, Rabu (30/01/2018).

Anis bekerja di tempat itu bersama 25 TKSK se-Kabupaten Kebumen.  Setiap hari dibagi tiga shift dan tiap shift selama  delapan jam.

Baca Juga :  Syahrini Punya Bakpia Unik, Seperti Apa Ya...

Pada  siang hari, ada petugas  sekretariat non TKSK yang berada di rumah  singgah.  Hari itu ada 14  orang penghuni. Tiga orang di antaranya berada di ruang isolasi, karena kondisi  kejiwaannya labil serta masih dalam perawatan Poli Jiwa Puskesmas Pejagoan.

“Kami bertanggung jawab kebersihan dan makan yang cukup gizi. Jika ada penghuni sakit, kami bawa ke Puskesmas  Pejagoan,“  kata Anis.

Mereka tiap  hari harus mandi. Ada kamar mandi dengan air yang cukup. Baju pun berganti ganti.

Setelah berbincang dengan Anis, koranbernas berbincang bincang dengan penghuni, kecuali yang  berada di ruang isolasi.  Penghuni yang  bebas berada di luar kamar bisa menyebutkan  nama dan asal mereka.

Bertanya kapan pulang

Ada beberapa yang bertanya kapan bisa pulang ke rumah. Seorang penghuni, yang sepintas tingkah lakunya bukan eks psikotik, Tasiyo (37), mengaku memelihara burung berkicau.

Di rumah singgah  ini memang ada tujuh ekor burung berkicau.  Tasiyo tiap hari memberinya makan dan minum. Jika hujan, sangkar burung dipindah.  “Burung-burung itu  punya saya,  beli di pasar burung,“  kata Tasiyo.

Baca Juga :  Pocong Ikut Protes Pemecatan PHL

Tasiyo mengungkapkan, dirinya pertama kali menjalani  perawatan jiwa, setelah menganiaya ibunya hingga meninggal dunia.

Warga Desa Penimbun Kecamatan Karanggayam Kebumen itu menendang ibunya hingga tersungkur,  karena marah spontan. Dia sempat ditahan  di Polsek Karanggayam.

Dari hasil observasi kejiwaan oleh psikiater RSJ Soerojo  Magelang, dia dinyatakan mengalami  gangguan jiwa. Bujangan ini pun dirawat di RSJ itu.

“ Sepulang  dari Magelang, saya dikirim ke panti sosial  di Cilacap.  Empat tahun saya di panti,“  kata Tasiyo.

Dia menyesal menjadi penyebab kematian ibunya, karena tendangan mautnya di bagian dada, hingga ibunya muntah darah, tak tertolong jiwanya.

Tasiyo kini menjalani kehidupan normal, seperti bukan seorang eks psikotik. Dia bisa  ngobrol dengan  sesama penghuni. Bahkan  kepada koranbernas dia menunjukkan  kolam yang  terbuat  dari terpal plastik, milik Martono, staf Dinas Sosial Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana.

Kolam terpal itu rencananya untuk memelihara ikan.  “Saya  mau  di sini. Kata pak dokter mau dijadikan karyawan di sini,“  kata Tasiyo. (sol)