Bekas Kantor Jadi Tempat Penitipan Barang

165
Kondisi bangunan bekas kantor tubup Klaten wilayah Jatinom. (masal gurusinga/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Bekas kantor pembantu bupati (tubup) Klaten wilayah Jatinom kini menjadi multifungsi.

Selain menjadi kantor UPTD Pasar wilayah Jatinom, juga menjadi tempat penitipan barang. Bahkan beberapa waktu sempat jadi tempat penampungan sampah sementara.

Pedagang yang menitipkan barang di salah satu bangunan di sana dikenai biaya Rp 800 ribu hingga Rp 900 ribu per bulan. Itu terjadi sudah lama sekali sebelum UPTD Pasar berkantor di sana pada awal Januari 2018.

Informasi yang dihimpun dari pedagang, kewajiban membayar uang penitipan barang itu dikoordinasi oleh seseorang bernama Totok, yang juga seorang pedagang.

“Totok yang menerima uang itu sebelum diserahkan ke UPTD Pasar. Totok menerima jasa seratus ribu rupiah setiap bulannya,” kata seorang pedagang.

Baca Juga :  SDN Suryodiningratan 2 Maju Lomba Tingkat DIY

Penitipan barang di bekas kantor tubup wilayah Jatinom sudah berlangsung lama. Tepatnya sebelum UPTD Pasar berkantor di sana.

Dapat dibayangkan jika sebulan ada pendapatan Rp 800 ribu hingga Rp 900 ribu maka dalan setahun bisa dihitung berapa pendapatan yang diperoleh.

Tidak diketahui apakah pendapatan dari jasa penitipan barang itu disetor ke kas daerah atau tidak. Sebab pihak pasar tidak tahu secara pasti.

Kepala UPTD Pasar Jatinom Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM, Triyanto SPd, mengakui adanya penitipan barang di bekas kantor tubup itu. Dia juga mengakui adanya kompensasi dari penitipan barang itu.

“Memang ada yang kami terima. Sebagian sudah buat operasional kantor seperti membeli pompa air, perbaikan jaringan air, bayar tenaga keamanan kantor dan yang baru ini untuk biaya kartinian yang sama sekali tidak ada anggaran dari dinas,” katanya.

Baca Juga :  Sejumlah Motor Mogok Akibat Banjir di Klaten Utara

UPTD Pasar, kata dia, siap mempertanggungjawabkan pengelolaan uang dari penitipan barang itu jika sewaktu-waktu dinas mempertanyakan.

Beberapa waktu lalu warga juga mempertanyakan pemanfaatan fungsi pekarangan bekas kantor tubup sebagai tempat penampungan sampah sementara.

Akibatnya warga sekitar mengeluh dan tidak lama kemudian sampah-sampah itu pun hilang. (sol)