Belajar Bikin Manuk-manukan di Kampung Dolanan

269
Anak-anak mengamati pembuatan permainan tradisional kitiran kertas di Kampung Dolanan Dusun Pandes Desa Panggungharjo Sewon Bantul. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Di era modernisasi saat ini ditandai membanjirnya permainan pabrikan impor, menjadikan permainan tradisional semakin jarang ditemui di masyarakat.

Anak-anak sepertinya lebih mengenal games lewat gadget yang canggih dibanding dolanan tradisional serupa othok-othok, kitiran, angkrek atau wayang kertas, kembang kertas. Atau manuk-manukan dan jenis permainan lainnya.

Berawal dari keresahan dan keprihatinan  itulah, warga Dusun Pandes Desa Panggungharjo Sewon Bantul kemudian bersepakat melestarikan permainan tradisional dan membangun kampung dolanan.

Semula permainan itu dimaksudkan untuk pemulihan trauma anak-anak pascagempa bumi 27 Mei 2016, ditambah dahulunya kampung ini memang dikenal sebagai kampung dolanan. Waktu itu sebagian penduduknya bekerja sebagai pembuat dolanan untuk dijual ke berbagai penjuru wilayah DIY.

Hingga kini, para lansia atau sesepuh di Kampung Pandes masih terus aktif berkarya membuat dolanan. Lihatlah ada Mbah Joyo, Mbah Atemo, Mbah Wiyar, Mbah  Suradi dan Mbah Buang.

Setiap hari mereka masih telaten membuat aneka mainan seperti kepet atau kipas, angkrek, manuk-manukan, dan kitiran. Pembeli mainannya pun didapat saat ada kunjungan ke rumahnya.

Baca Juga :  Parpol Penerima Bantuan Keuangan Diminta Serahkan LPJ Secepatnya

Mbah Atemo yang sudah kesulitan berkomunikasi karena berusia 80 tahun, tampak masih meraut bambu dan menyusun  bahan lain menjadi mainan.

“Kalau bicara keuntungan, ya hampir tidak ada karena ini sedikit sekali, apalagi bambunya juga beli. Namun membuat dolanan bukan semata bicara keuntungan bagi ibu saya, namun merupakan kegiatan untuk mengisi  masa tuanya,” kata Sri, salah seorang anak Mbah Atemo. Ibunya memang sejak muda  sudah membuat aneka mainan tradisional.

Bisa bertahan

Mbah Suradi, perajin mainan angkrek mengatakan permainan tradisional memang tidak sepopuler pada generasi dulu. “Tetapi saya yakin permainan ini bisa bertahan, asalkan orang tua juga mengenalkan dan memberikan pemahaman kepada anak-anaknya mengenai permainan tradisional tersebut,” kata Mbah Suradi yang mulai tekun membuat mainan setelah pensiun sebagai PNS tahun 2006.

Suradi tetap konsisten membuat mainan tradisional angkrek, sebagai sarana untuk mengenalkan mainan itu kepada generasi saat ini dan di masa mendatang. “Saya menekuni pembuatan mainan tradisional sebagai bentuk dukungan untuk turut meletarikannya,” kata Suradi.

Baca Juga :  Dosen Asal Jogja Ini Jadi Tenaga Ahli Hukum Bupati

Apalagi dirinya melihat anak-anak sekarang kurang begitu peduli terhadap permainan angkrek yakni mainan boneka kertas  bergambar prajurit bersenjata, dimainkan dengan cara ditarik talinya.

Para pengunjung yang datang bisa juga membeli bahkan belajar membuat mainan. Misalnya anak-anak PAUD, TK, siswa bahkan mahasiswa dan masyarakat  umum.

Penggagas kampung dolanan, Wahyudi Anggoro Hadi, mengatakan  tujuan dibangunnya kampung dolanan untuk melestarikan permainan tradisional agar tidak punah. Di sana digelar pula workshop atau belajar membuat mainan tradisional.

Bukan hanya kegiatannya saja  yang bernuansa tradisional, namun saat pengunjung memasuki kawasan Kampung Dolanan, patung-patung jerami yang mengenakan pakaian tradisional telah siap menyambut di sepanjang jalan. Begitu juga dengan patung terbuat dari anyaman bambu.

Kampung Dolanan juga memiliki kawasan outbound dan track yang menyenangkan. Ada kolam lele, sawah luas dan tempat bermain gamelan lengkap dengan guru.

“Kegiatan untuk kunjungan wisata biasanya sudah kami jadikan satu paket wisata.  Namun ketika tidak ada kunjungan, kampung ini sepi seperti kampung biasa. Tetapi mbah-mbah tetap aktif berproduksi,” katanya. (sol)