Belajar Pintu Gerbang Majapahit dari Pati

638
Kepala Dinas Kebudayàan Sleman, Aji Wulantara SH MHum ketika mengunjungi pintu gerbang Majapahit di Rendole Muktiharjo Margorejo Kabupaten Pati, Sabtu (20/01/2018).(istimewa)

KORANBERNAS.ID — Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Aji Wulantara SH MHum mengunjungi Pintu Gerbang Majapahit, salah satu situs sejarah nusantara yang berada di Rendole Muktiharjo Margorejo Kabupaten Pati, Sabtu (20/01/2018) lalu. Aji didampingi Wasita SS MAP, Kepala Bidang Dokumentasi, Sarana dan Prasarana Kebudayaan serta Kepala Seksi Cagar Budaya dan Tradisi Sejarah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati Trevita Puspita Hadi SE MM.

“Kunjungan tersebut mengemban misi untuk mempelajari dan mendalami sejarah nusantara yang memiliki nilai tinggi dalam pembentukan kebudayaan nusantara. Kunjungan ini untuk memperoleh informasi dan gambaran tentang potensi seni budaya, tradisi lokal dan kuliner di kawasan tersebut,” kata Wasita di kantornya, Senin (22/01/2018).

Sementara Kepala Seksi Cagar Budaya dan Tradisi Sejarah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati Trevita Puspita Hadi mengungkapkan, obyek wisata budaya Pintu Gerbang Majapahit merupakan asset bangsa yang adiluhung. Gerbang itu menggambarkan sejarah jaman Hindu pada masa kerajaan yang paling berjaya di nusantara pada abad 15 Masehi.

Obyek tersebut merupakan situs peninggalan yang berupa Pintu Gerbang yang terbuat dari kayu jati. Pintu gerbang ini merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit yang diperebutkan oleh Raden Kebo Nyabrang sebagai persyaratan untuk diakui sebagai Putra Sunan Muria dan Raden Ronggo yang juga menginginkan pintu gerbang tersebut.

Sunan Muria mendengar perselisihan tersebut dan kemudian melerai yang akhirnya mengakui bahwa Raden Kebo Nyabrang sebagai putranya. Kemudian dia diberi amanah untuk menjaga Pintu Gerbang Majapahit tersebut hingga akhir hayat.

Sedang Aji Wulantara memahami fenomena sejarah tersebut menggambarkan jiwa ksatria dan tanggung jawab yang tinggi terhadap sebuah amanah. Bahwa tokoh utama dalam legenda tersebut memiliki jiwa “sengguh ora mingkuh” dalam upaya untuk membuktikan kecintaannya terhadap orang tua melalui tugas yang berat.

Filosofi ini sangat mendasar dan layak untuk diimplementasikan dalam organisasi dan dunia kerja, bahwa jiwa yang kuat, semangat dan loyalitas tinggi akan turut menentukan dan berkontribusi positif terhadap keberhasilan sebuah organisasi. (yve)