Belanda pun Tak Setuju Sultan Perempuan

265
Kiai Haji Abdul Muhaimin membacakan usulan MPR DIY, Rabu (11/10/2017) di nDalem Yudhanegaran. (istimewa)

KORANBERNAS.ID – Polemik perempuan sebagai Sultan Hamengku Buwono memimpin Kasultanan Mataram Islam Ngayogyakarta Hadiningrat rupanya pernah terjadi di zaman dulu masa pemerintahan Kolonial Belanda.

Waktu itu, Belanda mencoba ikut campur tangan, tidak menghendaki perempuan menjadi Sultan. “Sultan harus laki-laki. Belanda dulu juga menghendaki (Sultan) harus laki-laki,” tutur GBPH Cakraningrat, Rabu (11/10/2017) di nDalem Yudhanegaran Jalan Ibu Ruswo Yogyakarta.

Menjawab pertanyaan wartawan sehubungan munculnya nama GKR Mangkubumi yang kabarnya dipersiapkan menjadi Sultan di Keraton Yogyakarta, salah seorang rayi dalem yang berada di ring satu Keraton Yogyakarta ini secara tegas menyatakan tidak setuju. “Dari pertama kita sudah tidak setuju,” tuturnya.

Hal ini dikuatkan dengan hasil permufakatan keluarga pada 7 Maret 1989. Itu sebabnya dia ingin agar Dewan Musyawarah Keluarga Ahli Waris Hamengku Buwono IX di Kasultanan Yogyakarta segera bertemu dan bermusyawarah. Masalah tersebut perlu segera dibahas melalui musyawarah, untuk kebaikan bersama.

Baca Juga :  Gara-gara Mahar Emas Palsu, Pemuda Ini Dibui

Sependapat, Kiai Haji Abdul Muhaimin selaku Ketua Majelis Permufakatan Rakyat (MPR) DIY kepada wartawan menyatakan apabila perempuan menjadi Sultan di Keraton Yogyakarta maka taruhannya adalah integritas keraton itu sendiri.

Bahkan dampaknya sangat mempengaruhi legitimasi Keraton Yogyakarta, baik itu secara adat maupun legitimasi dari masyarakat. “Jane sapa penerus Hamengku Buwono itu?” ujar Kiai Abdul Muhaimin.

Pengasuh pondok pesantren Nurul Ummah Kotagede itu menegaskan, apabila bola salju Sultan perempuan terus menggelinding maka akan merusak maskulitas Keraton Yogyakarta. “Pernahkah ada Sultan wanita?” ujarnya bertanya.

Secara teologis, lanjut dia, Keraton Yogyakarta itu memiliki runutan sejarah dengan Khulafaur Rasyidin yang diteruskan Bani Abassiyah sampai Turki Usmani, dan sama sekali belum pernah ada perempuan menjadi Sultan.

Bahkan, Kiai Abdul Muhaimin masih ingat dalam sebuah seminar Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menjadi keynote speaker secara tegas menyatakan Sultan harus laki-laki.

Baca Juga :  Difabel Dilatih Bertanam Hidroponik

Kiai Abdul Muhaimin juga menegaskan dirinya tidak ingin masuk ring satu Keraton Yogyakarta karena itu bukan ranahnya. Dia turun bersama elemen-elemen masyarakat karena kecintaannya terhadap Keraton Yogyakarta.

Ibarat lagu, dirinya merespons karena ada yang memulai, bahkan masyarakat DIY sudah mampu melihat secara sangat gamblang terkait keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) beberapa waktu lalu.

Menurut dia, masyarakat DIY sudah mengetahui tampaknya ada silent majority, dan mungkin juga tangan-tangan tersembunyi yang menginginkan Keraton Yogyakarta jangan sampai hidup langgeng.

Kiai Haji Muhaimin menambahkan dirinya sudah berkeliling sampai Kalimantan, Sulawesi dan Sumatra dan menyaksikan sendiri kerajaan Islam di sana tinggal tersisa artefaknya saja.

Satu-satunya yang masih ada di Indonesia hanya Keraton Yogyakarta. Jika yang terakhir ini sampai bernasib sama menjadi artefak, maka masyarakat DIY khususnya dan Indonesia umumnya akan kehilangan warisan budaya yang nilainya sangat berharga. (sol)