Beli Thiwul pun Pakai Nomor Antrean

687
Pembeli thiwul gathot, ketan lopis Mbah Sutinem harus pakai nomor antrean. Tempatnya sederhana, di teritisan rumah kawasan Jalan Diponegoro Yogyakarta. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Makanan gathot, thiwul, grontol dan sejenisnya sudah terhapus dari menu sebagian masyarakat yang merasa “modern”. Orang tua enggan membiasakan anak-anaknya makan makanan yang dianggap tak bergengsi ini.

Terkesan ada rasa malu apabila teman-teman anaknya bangga menyebut KFC, Mc Donald,  Pizza Hut dan sejenisnya. Sementara anaknya tidak bisa nyambung.

Padahal sebenarnya Allah SWT menciptakan manusia dengan dukungan logistik di lingkungannya, berupa tanaman berbagai jenis mulai dari padi, kacang-kacangan, umbi-umbian, sayuran dan buah-buahan yang cocok dengan pencernaan masyarakat setempat.

Tapi setelah banyak gerakan back to nature, rame-rame kembali ke alam, berbagai jenis makanan tradisional kembali muncul di berbagai kesempatan. Apalagi pemerintah daerah dan instansi mewajibkan makanan tradisional sebagai suguhan tamu maupun rapat-rapat internal. Termasuk thiwul, gathot dan, ketan bubuk, lopis, cetil dan sebagainya banyak dicari.

Di Kota Yogyakarta, tidak hanya thiwul yang berada di seberang gereja Jalan AM Sangaji pembelinya harus antre. Di Jalan Diponegoro ada juga nenek yang sudah puluhan tahun berjualan gathot tiwul dan sejenisnya.

Jika di Jetis mulai buka sekitar pukul 16:30, Mbah Sutinem menggelar dagangannya mulai pukul 06:30. Tempatnya sangat sederhana, di teritisan rumah. Persisnya di tikungan Jalan Diponegoro ke arah Bumijo. Uniknya di sana setiap pembeli harus antre dengan nomor antrean yang sudah disediakan.

Baca Juga :  Seorang Dokter dan 37 Bidan Diangkat Jadi PNS

Waduh, elok. Pakai antre nomor segala,” kata seorang ibu sambil tersenyum. Dia mengaku baru pertama kali membeli di sana, Selasa (07/08/2018) pagi.

Pembeli yang lain justru melihat hal itu sebagai sesuatu yang tepat.  “Biar tidak rebutan. Lha yang membeli memang banyak sekali. Kalau tidak, bisa saling ndhresel, minta duluan,” kata Narno yang pagi itu menjadi salah seorang pengantre.

Agar pelayanan adil

Adanya nomor ini memang dimaksudkan agar pembeli tidak berebut. Mbah Sukinem sendiri jadi lebih enak melayani. Wanita usia 73 tahun ini dibantu oleh anak perempuannya yang bertugas menjadi kasir sekaligus tukang mbitingi serta mengatur nomor antrean.

Meski sudah lanjut usia tapi Mbah Sutinem masih begitu sehat. Perempuan berpostur mungil itu suaranya masih cemengkling. Wajahnya bersih berseri. Dia hanya bertanya pada anaknya, bukan pada pembeli.

Meski pembeli berjubel tetapi semua berjalan tertib. Hampir seperti saat berobat ke dokter, Mukinem, anaknya memanggil nomor berikutnya.

Ini berbeda dengan yang di Jetis. Meski anak yang membantu sudah berusaha mengurutkan pembeli yang datang, tanpa nomor masih sering terjadi yang datang belakang malah dapat duluan. “Kalau dengan nomor ini jadi adil. Dilayani sesuai kedatangan. Jadi lebih nyaman,” kata seorang pembeli.

Baca Juga :  Jantung Berdebar Serasa Hanyut di Aliran Cinta

Selain gathot thiwul, wanita asal Trihanggo Gamping Sleman itu setiap harinya juga menyediakan lopis, ketan bubuk, dan ceti. Keseluruhannya dalam jumlah banyak. Proses pembuatannya lumayan rumit dan memakan waktu. Itu dilakukan setelah pulang dari jualan.

Ya istirahat dulu, kemudian kami persiapkan sesuai tugas masing-masing,” kata Mukinem menjelaskan. Untuk membuat lopis, Mbah Sutinem menyiapkan daun pisang berbentuk selongsong. Mbah Kakung yang mengisi beras ketannya dan merebusnya hingga lontong ketan itu matang dalam waktu berjam-jam.

Mukinem sendiri sudah punya tugas tertentu. Meski prosesnya rumit dan memakan waktu, termasuk mengolah gathot, tapi karena sudah terbiasa semua berjalan enteng begitu saja.

Meski membutuhkan tenaga luar biasa, tetapi Mbah Sutinem nyaris  tidak pernah libur. Hari Minggu pun tetap buka karena banyak pembeli luar kota berdatangan. Tentu saja kalau ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan, atau tidak enak badan, baru tidak jualan.

Selebihnya dia siap kerja keras, bangun dinihari untuk menyiapkan dagangan dan langsung menggelar dagangannya hingga hari berangsur siang. Karena di sinilah keluarganya bergantung hidup. (sol)