Beras Murah Sejumlah Empat Ton Laris

197
Kepala BKPP DIY Arofa Noor Indriyani melayani pembelian beras murah saat menghadiri Bazar Murah Toko Tani Indonesia, Jumat (12/01/2018), di Pasar Beringharjo Yogyakarta. (dwi suyono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Hari belum beranjak siang ketika satu unit mobil pikap bak terbuka tiba di depan pintu masuk belakang Pasar Beringharjo Kota Yogyakarta, Jumat (12/01/2018). Mobil itu penuh muatan beras.

Tak berselang lama usai diparkir dan banner bertuliskan Bazaar Murah Toko Tani Indonesia terpasang di samping mobil di dekat tenda portabel, warga yang penasaran langsung mendekat.

Begitu mengetahui ada bazar beras murah, sebagian calon pembeli langsung mengerumuni mobil menunggu bazar dibuka. Ya, harganya memang cukup murah Rp 8.800 per kilogram. Coba bandingkan dengan harga beras serupa yang dijual di warung-warung wilayah perkampungan Kota Yogyakarta saat ini yang menembus Rp 11.500 hingga Rp 12.000 per kilogram.

Mangga… mangga. Beras murah. Mirah saestu. Niki langsung petani. Berase empuk, baru digiling kemarin,” ungkap petugas dari Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BPKPP) DIY melalui mikrofon. Petugas lainnya melayani pembeli, termasuk sejumlah buruh gendong yang ikut antre, tak ingin melewatkan kesempatan itu.

Beras murah berkualitas itu terbukti laris. Sekitar setengah jam usai bazar dibuka, sudah separo yang terjual. Pembeli mengakui beras kemasan 5 kilogram seharga Rp 44.000 yang dijual di bazar ini kualitasnya bagus. Karena itu, supaya bazar yang berlangsung sehari itu tepat sasaran, jumlah pembelian dibatasi per orang maksimal dua kemasan.

Baca Juga :  “Wauu, Besar Sekali Gajahnya...”

Mendadak

Kepala BKPP DIY, Arofa Noor Indriani kepada wartawan di sela-sela acara mengatakan, bazar yang diselenggarakan bekerja sama dengan sejumlah pihak termasuk TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) kali ini memang mendadak, setelah menerima instruksi dari kementerian di Jakarta Kamis sore.

“Kita melihat situasi dan kondisi saat ini harga beras relatif meningkat. Karena itu kita mengadakan bazar pangan murah. Di antara komoditas lain seperti minyak goreng atau bawang merah yang relatif stabil, untuk DIY harga beras yang cenderung naik,” tuturnya.

Bazar digelar di dua pasar yaitu Pasar Beringharjo dan Pasar Kranggan, total empat ton beras. “Harapan kami, dengan beras murah Rp 8.800 berkualitas bagus bisa memberi kenyamanan masyarakat. Harga di luar sudah di atas Rp 10 ribu,” tambahnya.

Dia menjamin beras dari Toko Tani Indonesia (TTI) masih fresh, bukan beras yang ditandu tapi dipasok langsung oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).

Baca Juga :  Pakan Ternak Gunungkidul dari Limbah, Seperti Apa?

Kenapa harga beras meningkat di pasaran, Arofa mengakui harga memang tidak bisa direncanakan. Faktor lain karena belum panen raya. “Baru ada sebagian daerah yang panen raya. Nanti panen raya sekitar akhir Februari atau akhir Maret,” ungkapnya.

Inflasi

Beras memang komoditas utama yang perlu diperhatikan sebelum yang lain-lain. Apabila harganya bergejolak maka bisa menimbulkan permasalahan, tidak hanya di tingkat konsumen tetapi juga produsen.

Itu sebabnya TPID DIY termasuk di dalamnya Bank Indonesia (BI) Perwakilan Yogyakarta maupun Bulog harus cepat merespons supaya inflasi di Daerah Istimewa Yogyakarta dapat terus terjaga tetap rendah dan stabil.

“Tugas BI, TPID dan instansi-instansi terkait adalah menjaga inflasi dan kestabilan harga. Beras merupakan salah satu komoditas pemicu inflasi. Jika harganya naik maka akan menyebabkan inflasi,” ungkap Esti Binukaningsih dari BI Perwakilan Yogyakarta.

Berdasarkan catatan, inflasi di DIY pada Desember 2017 (year on year) 4,2 persen. Sedangkan inflasi secara nasional 4 plus minus 1 persen. (sol)