Berbahaya, Pakai Obat Golongan Steroid tanpa Resep Dokter

279
Direktur RS Mata “Dr Yap” dr Eny Tjahjani Permatasari Sp M M kes (tengah) saat sesi foto bersama di sela-sela acara Press Release World Glaucoma Week (WGW) 2018, Senin (12/03/2018). (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Pemakaian obat golongan steroid dalam jangka waktu lama dan tanpa resep dokter bisa berbahaya karena berdampak pada munculnya penyakit glaukoma atau kebutaan permanen.

“Misalnya, mata merah dan gatal diobati (dengan tetes mata). Karena cocok dan sakitnya langsung hilang, kemudian beli lagi sambil membawa dan menunjukkan botolnya,” ungkap Dr dr Retno Ekantini Sp M (K) M Kes, dokter spesialis mata subdivisi glaukoma Rumah Sakit Mata “Dr Yap”, Senin (12/03/2018) di rumah sakit setempat Jalan Teuku Cik Ditiro No 5 Yogyakarta.

Dia mengatakan, penggunaan obat steroid dalam jangka panjang mengakibatkan saluran pembuangan cairan bola mata atau humor aquos buntu.

Dampak selanjutnya, terjadilah tekanan tinggi sehingga saluran tersebut rusak. Mestinya, obat steroid tidak dijual bebas tanpa resep dokter. Pemakaiannya harus hati-hati serta ada batasnya, maksimal satu bulan.

Dia mencontohkan, penggunaan obat golongan steroid bagi penderita asma, alergi, rematik, kelainan ginjal selalu diikuti dengan pengecekan pada tekanan bola matanya.

“Penggunaan obat steroid boleh, tetapi harus diawasi,” ujarnya pada konferensi pers persiapan World Glaucoma Week (WGW) 2018 yang diselenggarakan rumah sakit ini.

Baca Juga :  Sikomen Mudahkan Provider Lacak Zonasi Menara

Hadir pula dr Eny Tjahjani Permatasari Sp M M kes selaku Direktur RS Mata “Dr Yap”, Wakil Direktur Pelayanan dan Pendidikan dr Rastri Paramita Sp M serta dr Erin Arsianti Sp M M Sc selaku Ketua Panitia WGM 2018 yang juga dokter spesialis mata subdivisi glaukoma serta dr Tatang Talka Gani SpM (K).

Jika pemakai obat tersebut terdeteksi menderita glaukoma, maka harus ditangani secara medis. Sedangkan glaukoma terbagi dua klasifikasi yaitu primer dan sekunder. Glaukoma sekunder tidak diturunkan dan diketahui penyebab pastinya.

Menurut dokter Retno, apabila dalam satu keluarga diketahui ada penderita glaukoma primer maka keluarga tersebut perlu memeriksakan kondisi matanya.

Sedangkan glaukoma sekunder disebabkan banyak hal di antaranya trauma mata, radang mata, diabetus melitus atau kencing manis,  pendarahan dalam mata, bahkan mata katarak pun bisa menyebabkan glaukoma.

“Gejala yang dialami penderita glaukoma sangat beragam tergantung dari jenis glaukoma yang diderita, apakah akut atau kronis,” ungkapnya.

Gejala glaukoma akut sangat jelas karena penderita merasakan sakit kepala, mata pegal, mual, muntah, mata merah, penglihatan buram mendadak dan melihat pelangi di sekitar lampu.

Baca Juga :  PKS Daftarkan 45 Caleg

“Namun seringkali pasien tidak menyadari gejala tersebut, penderita akan berobat dengan obat sakit kepala sampai akhirnya diketahui penyebabnya adalah glaukoma akut, pasien datang terlambat dalam kondisi saraf mata sudah rusak,” sambung dr Tatang Talka Gani SpM (K).

Menurut dia, glaukoma muncul tanpa gejala. Penderita tidak merasakan apapun namun perlahan-lahan penglihatan menurun karena kerusakan saraf mata terjadi secara perlahan-lahan. Pada saat penderita mengeluhkan gangguan penglihatan biasanya telah terjadi kerusakan berat.

Penanganan glaukoma juga bisa dilakukan dengan cara menurunkan tekanan bola mata ke level aman supaya tidak lagi merusak saraf mata atau memperlambat kerusakan syaraf tersebut sehingga kebutaan dapat dicegah.

Dia menegaskan, pemberian terapi obat-obatan maupun bedah termasuk laser hanya dapat mencegah atau memperlambat  kehilangan penglihatan.

Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting dilakukan untuk mencegah hilangnya penglihatan dan mencegah progresivitas glaukoma agar tidak menjadi buta.

Yang pasti, pemeriksaan mata secara rutin berguna untuk mencegah kehilangan penglihatan secara permanen akibat glaukoma. Dengan demikian, mata tetap berfungsi sampai akhir hayat. (sol)