Berburu Batik hingga Keripik

Pasar Beringharjo Dipadati Pengunjung dari Luar Kota

116
Suasana Pasar Beringharjo Yogyakarta Rabu (13/06-2018) siang. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Pasar Beringharjo Yogyakarta beberapa hari belakangan ini dibanjiri pengunjung. Mereka umumnya berasal dari luar kota dan datang secara berombongan maupun keluarga.

Sebagian besar berburu busana terutama batik, sebagian lagi aneka makanan untuk jamuan tamu di hari raya Idul Fitri 1439 Hijriyah. Camilan seperti emping, kacang bawang, aneka keripik maupun geplak pun laris.

Rabu (13/06/2018) sejak pagi hingga sore, pada pintu masuk utama pasar terpajang batik dengan motif warna-warni, di kiri kanan tak pernah sepi dari pengunjung.

Para pedagang pun menyambut dengan penuh harapan. Sebagian pengunjung membeli busana batik murah sampai menengah. Sementara batik yang harganya lebih dari Rp 200 ribu per potong peminatnya tak seramai batik murah meriah.

“Mereka banyak membeli daster Rp 100.000 dapat tiga potong. Atau blus atasan lengan panjang berkisar antara Rp 40.000 sampai Rp 90.000,” kata seorang pedagang.

Baca Juga :  Salurkan Infak Salat Idul Adha ke Lombok

Kulot batik atau bawahan batik sampai mata kaki juga banyak dicari. Harganya bervariasi mulai Rp 40.000 sampai Rp 50.000. “Yang kualitas kainnya bagus bisa sampai Rp 75.000. Daripada membuat sendiri, hanya habis untuk ongkos jahitnya. Bahkan kadang tidak cukup,” kata Ny Sumarni, pembeli asal Purbalingga yang datang ke Yogyakarta bersama teman-temannya.

Pengunjung memilih busana batik. (arie giyarto/koranbernas.id)

Busana bermotif

Bbatik Beringharjo hampir setiap minggu memunculkan desain dan motif baru. Selain dari Yogya, busana tersebut juga disetor dari luar kota di antaranya Pekalongan dan Solo.

Sedang di lantai dua sisi timur sudah ada yang membuat selongsong ketupat dari janur kuning. Karena proses membuat ketupat cukup membutuhkan waktu relatif panjang, untuk bisa dihidangkan pada malam Lebaran,  banyak warga memasak ketupat sejak Rabu malam.

Masyarakat Yogya sebagian besar mempunyai tradisi menghidangkan ketupat, opor ayam serta sambal goreng kerecek. Ini merupakan menu turun temurun sejak nenek moyang.

Baca Juga :  Bantul Siap Sambut Lebaran

Sementara itu kebutuhan busana menjelang Lebaran ini juga ditangkap sebagai peluang bisnis bagi pedagang busana keliling.

Di Pasar Sentul Yogya misalnya seorang pedagang menawarkan busana-busana, sebagian busana muslimah. Mengambil tempat di sisi timur jalan masuk utama pasar, busana-busana itu digantungkan sedemikian rupa sehingga menarik perhatian.

Butik ala Pasar Sentul diminati konsumen. (arie giyarto/koranbernas.id)

Sedang yang lain ditumpuk di bawahnya dengan alas sederhana. Pembeli pun bebas ngudhal-udhal busana yang ada di tumpukan.

Butik ala pasar ini ternyata ramai pengunjung, semuanya ibu-ibu. Apalagi ada gamis yang harganya Rp 50.000. Paling mahal ditawarkan Rp 125.000 dengan hiasan payet.

Warnanya pun bervariasi. Sementara di mulut jalan masuk sisi barat, seorang pedagang menggelar dagangan berupa celana kombor dengan harga sangat murah.

Lebaran memang memberi berkah pada banyak orang. Terutama yang jeli untuk memanfaatkannya. (sol)