Berburu Kuliner Zaman Sunan Giri di Bantul

242
Ornamen penyajian bergaya tradisional untuk menu Serat Centhini.(arie giyarto/koranbernas.id)

KORAN BERNAS.ID–Serat Centhini sejak berabad lalu sangat terkenal sebagai sebuah buku. Karya babon abad XIX tersebut merupakan ensiklopedi kebudayaan Jawa. Ditulis oleh sebuah tim terdiri dari Kiai Ngabehi Ronggowarsito, Kiai Ngabehi Yosodipuro II,  dan Kiai Ngabehi Sastrodipuro (Kiai Haji Mohammad Ilhar) dipimpin Adipati Anom Amangkunegoro III (Sunan Paku Buwono V).

Karya sastra ini mengangkat pengalaman pengembaraan putra putri Sunan Giri Prapen dan suguhan kulinernya. Kini bahkan beberaps jenis kuliner sudah tidak dikenal lagi.

Untuk menjaga agar bagian dari kekayaan budaya itu tidak hilang ditelan zaman, oleh Winarno, chef dari Tembi Rumah Olah-olahan (TRO) diterjemahkan dalam paket kuliner.

Dilaunching baru-baru di Rumah Makan Bulondo, belakang SMA Negeri 3, Kotabaru Yogyakarta, mantan chef dari hotel dan restoran di Banyumas itu menjelaskan berbagai paket yang unik namanya.

Ada paket Ndelok Wayang, paket Tarub. Ditambah paket Mligi Gubugan Centhini di antaranya Gubugan Mataram, Wirasaba, Paesan, Bogor, Patanen. Kemudian Sajen Memule, Wonogiri, Gubugan Tidar dan sebagainya.

Berbagai makanan olahan yang kini mulai asing di antaranya gudeg manggar, gule manggar, opor tombro, sega golong, jangan menir, dendeng iwak kebo, sega lemeng, oseng nangka muda, dendeng gepuk. Ada juga gule pondoh, srundeng, sega liwet, jenang abang, jenang putih, jajan pasar  tombro bacem dan lain-lain.

Semua Ini dipadupadankan dalam masing-masing paket sesuai dengan sejarah kuliner waktu itu. Tampil dalam alam kekinian dipadu properti masa lalu sehingga tampilan dan citarasanya lebih menarik dan lezat.

Kuliner TRO ini diambil dari sebagian ragam suguhan untuk Syeh Amongrogo dan Cebolang dalam pengembaraannya. Mulai dari Bogor, Dukuh Argopuro Lumajang, Padepokan Gunung Tidar Magelang, Kerto (ibukota Mataram, sekarang masuk Kecamatan Pleret Bantul),  rumah Pijangkara (Mataram) serta Tembayat Klaten.

“Semua menu kembali ke masa lalu. Rasanya tidak kalah dengan makanan modern yang digandrungi masyarakat. Yang jelas, lebih sehat dan cocok dengan perut kita,” kata Winarso kepada Koran Bernas.id.

Rumah Makan Bulondo sudah agak lama berdiri, dengan spesial menu Bakmi Jawa. Selain bakmi biasa, ada juga kreasi bakmi buntel atau dengan berbagai toping. Anda penasaran, silakan saja coba ke sana. (Arie Giyarto/ SM)