Berbusana Batik, Bupati “Nyeblok” ke Sawah

290
Bupati Bantul H Suharsono menanam padi perdana Inpari 31 dan Inpari33 menggunakan mesin tanam Jarwo Tranpalnter di Klomtan Tri Lestari, Bulak Gedangan, Desa Panjangrejo, Pundong, Rabu (04/10/2017). (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Tanam serentak Kelompok Tani (Klomtan) Tri Lestari, di Dusun Gedangan, Desa Panjangrejo, Kecamatan Pundong ditandai dengan nyeblok-nya bupati Bantul, H Suharsono ke lahan sawah, Rabu (04/10/2017) siang. Masih mengenakan batik dan celana kerja, tanpa sungkan orang nomor satu di Kabupaten Bantul tersebut terjun ke sawah berlumpur dan mengoperasikan alat mesin tanam jarwo tranpalnter. Mengenakan caping, ayah dua putra tersebut nampak  tidak canggung mengoperasikan mesin tanam modern tersebut.

“Saya berharap dengan adanya mesih tanam ini akan memudahkan petani dalam bertanam dan lebih cepat,” kata Bupati dalam acara  gerakan tanam Jajar Legowo Super Werang Coklat Batang (Jarwo Super WBC) yang digelar BPPT DIY serta  Dinas Pertanian Pangan, Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul tersebut. Hadir juga Irjen Tanaman Pangan Justan Riduan Siahaan AK, MACC CA, pejabat BPPT DIY, pejabat Bantul dan ratusan petani setempat.

Ditambahkan bupati, jika pihaknya sangat mendukung sektor pertanian untuk bisa berkembang dengan baik di kabupaten Bantul. Sehingga dukungan besar juga diberikan kepada sektor agraris.

Sementara pengurus Klomtan Tri Lestari Parjoto dan Sutarjo mengatakan kalau total lahan milik Klomtan adalah 25 hektar. Dalam Musim Tanam (MT) ini mereka mendapat bantuan dari pemeritah berupa bibit Inpari 31 dan Inpari 33 sebanyak  30 kilogram per hektar. Kemudian per hektar lahan juga mendapat bantuan 200 kilogram urea dan 30 kilogram pupuk ponska.

“Kami tentu berterima kasih sekali atas bantuan yang diberikan ini,” kata Sutarjo yang berperan sebagai penyuluh mandiri di desa tersebut,

Saat ini, petani memang memilih untk menanam Inpari 31 dan Inpari 33 karena lebih tahan terhadap serangan hama utamanya wereng.

“Untuk Impati 31 dan Inpari 33 baru pertama kalinya kami tanan. Namun berdasarkan uji coba di tempat lain,  varietas ini tahan terhadap serangan hama  tersebut,”katanya.

Untuk hasil panenan juga mengalami peningkatan yang signifikan.Jika  jenis lain saat dilakukan uji coba (demplot) per 10 M2 menghasilkan 9,5 GKP untuk varietas Inpari 31 mendapat 10,6 GKP dan Inpari 33 mendapat 11 GKP.

“Maka petani sepakat menggunakan Inpari 31 dan Inpari 33 karena lebih menguntungkan,”imbuh Parjito yang merupakan bendahara kelompok. Selain bantuan tadi, petani juga sudah mengikuti Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT). (SM)