Berhentilah Menistakan Air Hujan

Seorang anak dari lereng timur Gunung Merapi sedang bermain air hujan. (v kirjito)

KORANBERNAS.ID — Darmo Suwito (57), yang akrab disapa Mbah Jelam, sempat putus asa hingga dua kali mencoba bunuh diri karena penyakit kencing batu menahun yang diidap sejak remaja.

Ia pernah mencoba gantung diri dengan lilitan selimut rumah sakit sebelum kepergok perawat. Usaha bunuh diri kedua kali dilakukan di rumahnya, tetapi diselamatkan tetangga. Keputusasaan menghinggapi Mbah Jelam.

Ia sudah menjalani enam kali operasi batu ginjal dan bolak-balik memeriksakan diri ke rumah sakit, rutin satu pekan sekali. Ketika dijumpai di rumahnya yang berlantai tanah, tak ada lagi jejak putus asa itu. Semangat hidupnya malah meluap-luap.

“Saya biasanya ke Apotek Klaten tiap minggu, beli obat. Kemarin, petugasnya tanya, kok, lama enggak ke sini? Saya jawab, sudah sembuh setelah minum air hujan yang disetrum,” katanya.

Sejak setahun terakhir, Mbah Jelam menyaring air hujan sebelum dielektrolisis. “Setelah kenal air setrum. Saya enggak pernah beli obat lagi, sudah pulih,” tambah Mbah Jelam yang memakai air setrum untuk masak, menanak nasi, hingga mandi. (“Laboratorium Hujan di Bunder,” dalam “Air Hujan Rasa Urban,“ Kumpulan artikel Kompas tentang gerakan budaya air Hujan, editor dan pengantar V Kirjito).

Saya kenal baik dengan Mbah Jelam. Sampai hari ini, hidup sehat. Bekerja di ladangnya tidak mengenal lelah. Benar-benar bangkit dari keputusasaannya. Ia sungguh bangkit hidup baru sesungguhnya, mencintai air hujan yang jatuh di atas atap rumah sederhananya. Setiap hari mengambil air jernih dari langit, lalu menyetrumnya. Ilmu sederhana yang ia peroleh dari “Kandhang Udan Bunder”. Belajar bersama seniman Panji Udan Agus Bimo Prayitno, Gus Arifin, mBah Sunar dan saya sendiri awal-awal tahun 2014.

Pengalaman mBah Jelam dan warga Bunder yang sejak nenek moyang mereka ratusan tahun yang lalu hidup dengan air hujan, sungguh-sungguh membuka mata, malah membuka pikiran, untuk tidak meremehkan air hujan. Kodrat manusia ingin tahu lebih detil, menggunakan alat-alat ukur yang saintifik pun ikut bangkit seperti mBah Jelam. 

Ilmu iku kelakone kanthi laku, kata pepatah Jawa. Bersama teman-teman yang penasaran dengan pengalaman mbah Jelam, menerjemahkan pepatah itu demikian: pengetahuan itu diperoleh dari percobaan, eksperimen. Buku dan teori sangat membantu. Praktik dan eksperimen sesering mungkin, itulah, sebut saja dengan kata laku air hujan. Atau lebih umum, budaya hujan. Budaya seperti apa? Budaya mencintai air hujan dengan segenap hati, segenap akal budi, dengan segenap tenaga, jurus teknik-teknik inovatif, dan seterusnya.

Baca Juga :  Kelik : Sering Mendapat Keluhan Soal Utang dan Problem Keluarga

Membersihkan darah

Air Hujan adalah air suling alam. Mendekati kualitas air murni. Datang dari langit dengan ketinggian  1.000 m lebih dari permukaan laut. Langit yang tanpa sampah padat, entah kotoran hewan, kotoran manusia, limbah pabrik, dan sebagainya. Ada asap kendaraan dan pabrik, tetapi begitu melayang di udara segera terurai dan netral. Air hujan sedikit kotor ketika jatuh di atap rumah. Tetapi atap rumah di manapun tidak menjadi tempat sampah. Sampah selalu dibuang di tanah yang digali. Kemudian meresap ke dalam tanah ketika hujan. Jumlah dan jenis-jenis sampah jauh lebih banyak. Akibatnya, tentu memengaruhi kualitas air dalam tanah.

Air bersih dari langit berikut sentuhan inovatif elektrolisis sederhana, — bahasa kerakyatannya disetrum, — kemudian dikonsumsi menjadi air minum, sangat berperan dalam proses metabolisme, membentuk darah yang bersih. Cek lab darah, urin dan feses saya sendiri dan para penggiat budaya hujan, semuanya normal. Darah yang bersih, sangat berpengaruh pada tingkat kesehatan dan stamina.

Yang paling mudah diamati adalah kotoran tubuh. Urin, feses, keringat, bau mulut, hingga ketombe pun tidak menimbulkan bau khasnya yang membuat tidak nyaman. Maka ada bukti empirik baru, bahwa benarlah bersih itu pangkal sehat. Tidak hanya bersih kulit luar tubuh saja, tapi darah yang bersih itu tadi.

Hujan Asam

Para ilmuwan lingkungan meneliti air hujan. Air diambil dari kota-kota besar modern yang menimbulkan polusi udara. Penggunaan bahan bakar fosil untuk kendaraan dan industri-industri bermesin dengan bahan bakar fosil mengakibatkan air hujan menjadi asam. Setiap penelitian ilmiah mengikuti standar sama, yaitu hasil penelitian hanya berlaku pada yang diteliti. Artinya, peneliti itu tidak menyimpulkan bahwa semua air hujan di muka bumi itu sama dengan yang diteliti. Yang tidak diteliti, air hujan di rumah kita kemarin, atau minggu lalu, tentu tidak akan dikatakan asam atau tidak oleh peneliti.

Tetapi, publikasi hasil penelitian yang mengatakan hujan asam, sudah menjadi virus yang merasuk dalam otak kita, yaitu menggeneralisir, nggebyah uyah, bahwa semua air hujan asam, bahkan masih ditambah bumbu pedas tidak layak konsumsi, kotor, bikin sakit kepala, merusak tanaman, mematikan ikan, dan seterusnya.

Suatu hari, datang tamu ke tempat saya sehari-hari bereksperimen air hujan di Muntilan. Ketika saya tawari air hujan untuk diminum, langsung keluar komentar, “bukannya air hujan asam, Romo?”

Baca Juga :  Dampak Siklon Cempaka Meluas, 19 Meninggal

Oh iya? Sudah pernah mengukur keasamannya?” saya balik bertanya.

“Belum, Romo. Menurut jurnal penelitian yang saya baca saja. Apa ta alat ukurnya?”

Dalam hati saya berkata, mungkin sarjana itu sudah kena virus mengutip, mengulang hasil penelitian para ahli di laboratoriumnya, tanpa membuktikan sendiri dengan mengukur air hujan yang jatuh di rumahnya.

Peneliti Mandiri

Kurun waktu empat tahun terakhir ini, ada titik balik terhadap air hujan pada kelompok-kelompok pecinta air. Ada komunitas H2Obe di sekitar Bekasi–Jakarta. Ada Komunitas Air Langit Bali, “KandhangUdan” sekitar Klaten–Yogya, Solo, Muntilan, “Oemah Udan” Semarang, “Uran Pa’kamasena Puang” di Toraja.

Apa yang dilakukannya? Berpikir positif dan cinta pada hujan! Belajar senang dan bersyukur kalau hujan turun. Memanen semampunya. Mengukur mineral menggunakan alat ukur TDS (Total Dissolved Solid) dan alat ukur keasaman, PH (Potency of Hydrogen) dan kemudian meniru mBah Jelam, “memasak” air hujan tidak dengan kompor gas tetapi dengan ilmu elektrolisa, — temuan ahli elektro kimia air Michael Faraday, — untuk menaikkan PH. Ringkasnya, mulai tumbuh budaya menjadi peneliti eksperimental secara independen, mandiri untuk diri sendiri, terhadap air hujan yang jatuh di rumah sendiri.

Berhentilah Menghina Hujan

Gunawan, pemuda dari desa Bunder, berpendidikan sarjana strata satu. Sejak meneliti dan membuktikan sendiri kualitas air hujan plus inovasi elektrolisis yang dilakukannya sendiri, ia sungguh bangkit dari “dosa” lamanya, yaitu merasa terpaksa mengonsumsinya. Sejak tahun 2014, dengan penuh percaya diri bersemboyan nyata, “air hujan untuk manusia, air tanah yang dibeli dengan harga ratusan ribu per tanki 5000 liter, untuk sapinya” (Perlawanan Dari Lereng Merapi, Kompas, 5 April 2015).

Meski bagai berteriak di padang gurun, kami ajak siapapun, bangkit dan “mentas” dari zona nyaman dengan air tanah, air dalam botol kemasan. Mari menghidupi titik balik budaya air hujan, dari meremehkan, menjadi mencintai hujan, air paling jernih yang turun dari langit. Setidaknya, berhentilah menghina mereka yang terpaksa menggunakan hujan di Wonosari, Kalimantan, Flores, Papua. Berhentilah menistakan air hujan. Selamat Paskah, berkah hujan berlimpah.(*)

Lereng Merapi Barat, Jagalan Muntilan

pada Hari Air Sedunia, 22 Maret 2018

 Kirjito, Rohaniwan, peneliti eksperimental budaya air hujan