Berkat Kuliner Ingkung, Kecamatan Ini Melambung Namanya

2266
Suasana Kuliner ingkung sentra Kalakijo Desa Guwosari Kecamatan Pajangan. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Kecamatan Pajangan merupakan wilayah yang berada di sebelah barat ibu kota Bantul. Secara administratif wilayah ini terbagi menjadi tiga desa yakni Desa Sendangsari, Desa  Guwosari dan Desa Triwidadi.

Adapun batasnya, di sebelah utara Kecamatan Kasihan dan Sedayu, sebelah timur Kecamatan Bantul, Kecamatan Pandak di selatan serta berbatasan dengan Sungai progo di sebelah barat.

Bentangan wilayah Kecamatan Pajangan 100 persen berupa daerah yang berbukit sampai bergunung. Daerah ini kurang subur untuk pertanian khususnya  tanaman padi.

“Masyarakat di sini kemudian memikirkan bagaimana dengan kondisi yang ada mereka  bisa meningkatkan kesejahteraan. Salah satunya dengan mengembangkan UMKM khususnya batik kayu yang memang terkenal dari wilayah Krebet,” kata Drs Sambudi Riyanto, Camat Pajangan, pekan lalu.

Di kecamatan dengan berpenduduk 30.017 jiwa tersebut, kuliner ingkung ayam kian meroket sekaligus membuat kecamatan ini melambung namanya. Pengunjung bukan hanya dari Bantul namun hingga luar DIY. “Ingkung ayam menjadi kuliner yang kini jadi ciri khas Pajangan, banyak diburu,” tambahya.

Dia berharap kuliner tersebut menjadi  salah satu ikon yang memberikan manfaat bagi masyarakat Pajangan. Warung kuliner yang kini terus bertambah jumlahnya, mampu menyerap tenaga kerja. Selain juga meningkatkan taraf perekonomian mereka. Belum lagi efek dari banyaknya rumah kuliner berimbas pula pada peternak ayam kampung, karena permintaan pasar yang tinggi.

Baca Juga :  DPRD Purworejo Rombak Pimpinan Komisi C

Tercatat sebagai pioner kuliner ingkung adalah Yudi Susanto (36) yang membuka ‘Warung Ndesso’ pada 2011. “Awal saya membuka usaha setelah berpikir biasanya kita makan ingkung hanya saat ada kendurian. Saya kemudian mencoba untuk mengolah ingkung dan memberanikan membuka warung  untuk umum,” kata Yudi. Ternyata respons masyarakat bagus.

Ingkung Pajangan yang  gurih dan lezat. (istimewa)

Menu variasi

Jika awalnya menu hanya ingkung dengan sayur khas pedesaan, kini dilengkapi olahan lain. Termasuk ada gudeng jantung pisang, ikan wader, trancam.  Jumlah pengusaha kuliner ingkung pun bertambah dan kini sudah ada 14 orang dengan nama dan menu ingkung variasi masing-masing.

Pemilik ingkung “Pandansari” Dusun  Santan, Ny Heni Kamsa, menyatakan prospeks kuliner ingkung memang menjanjikan. Banyak  orang datang ke sentra ingkung Kalakijo dan Dusun Santan, karena ingin menikmati menu tersebut.

“Banyak wisatawan yang datang ke kemari. Selain untuk kuliner mereka juga menikmati paket wisata di desa wisata,” katanya.

Banyaknya tamu, menurut  Heni, berdampak positif bagi masyarakat khususnya dalam hal pemberdayaan masyarakat dan peningkatan taraf hidup mereka.

Selain kuliner dan paket desa wisata, wisatawan juga bisa menginap di homestay milik masyarakat. Dari sana tentu memberikan  juga dampak positif bagi mereka.

Lurah Desa Guwosari, Muh Suharto, secara terpisah mengatakan jumlah pengusaha kuliner ingkung memang terus bertambah dari waktu ke waktu. Bannyaknya usaha ingkung tersebut membuka peluang bagi peternak ayam untuk bisa mensuplainya.

Baca Juga :  Ketika YGS Mulai Meredup dan Kurang Perhatian

“Karena suplai dari sini tidak mencukupi, maka pengusaha juga mengambil ayam dari luar wilayah,” katanya. Berkembangnya kuliner ingkung, menurut Lurah Suharto, merupakan nilai positif bagi pengembangan pariwisata Guwosari yang berdampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja dan peningkatan ekonomi warganya.

Kuliner ingkung ini sendiri bukan  sebatas  masakan biasa tapi juga mempunyai filosofi membersihkan (selamatan) yang punya hajat.

Ny Sariyati,  seorang juru masak  gudeng jantung pisang mengatakan awalnya jantung pisang di masa  lalu hanya dijadikan campuran pakan ternak sapi. Kalaupun ada yang memasak, tidak jarang muncul anggapan dicap orang kurang mampu secara ekonomi. Namun kini jantung pisang berubah menjadi makanan lezat, banyak digemari dan bernilai ekonomis tinggi.

Setidaknya setiap hari 6 kilo jantung mentah habis diolahnya. Jumlah itu berlipat tiga kali tatkala akhir pekan atau musim liburan. “Jenis yang  paling bagus  adalah jantung pisang kluthuk. Usia pohon pisang  tidak masalah, yang penting saat memasak kulit luarnya dibuang terlebih dahulu,” katanya.

Setelah itu jantung diiris dan dicuci bersih kemudian direbus hingga matang. Barulah dimasak menggunakan bumbu pada umumnya. “Untuk satu kilo jantung pisang bisa  untuk 5-6 porsi,” katanya.

Jantung pisang itu mereka beli dari warga sekitar ataupun dari pemasok. Harganya Rp 15.000 per kilogram. (sol)