Berpetualang di Aliran Sikopyah, Perjalanan Wisata Cinta Lingkungan

380
Pesona susur Sikopyah di Desa Wisata Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga.(koranbernas.id/prasetiyo)

KORANBERNAS.ID–Destinasi wisata di Purbalingga, kini bukan hanya Owabong, Goa Lawa dan Taman Wisata Pendidikan Purbasari Pancuranmas yang selama ini sudah dikenal luas. Ada lagi yang baru, yakni wisata susur sumber mata air Sikopyah atau Susur Sikopyah di kaki Gunung Slamet.

Anda penasaran ingin tahu sumber mata air Sikopyah yang menghidupi ribuan warga Pubalingga itu?. Anda kini bisa melihatnya secara langsung sembari menikmati wisata petualangannya menuju lokasi mata air yang berada di Dusun III Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga.

Untuk mencapai mata air itu, pengelola wisata Pudang Mas sengaja menawarkan petualangan yang sedikit menantang. Dari lokasi Pudang Mas di wilayah Dukuh Kaliurip di Desa Serang, mata air ini bisa dijangkau dengan perjalanan sekitar 25 – 30 menit tergantung kemampuan fisik. Bagi warga setempat, yang sudah terbiasa dengan lingkungan pegunungan, mereka mampu menjangkau lokasi itu dalam waktu 15 menit.

Ketika koranbernas.id mencoba tracking itu, Selasa (03/10/2017), pemandu meminta agar sepanjang perjalanan tetap hati-hati dan tidak merusak tanaman sekitar. Jalur yang dilewati mulai dari jalan setapak yang tepinya terdapat jurang sungai berbatu, hingga masuk ke dalam sungai berbatu serta harus melintasi batu-batu yang cukup besar.

“Jalannya harus melewati sungai berbatu dan pepohonan yang lebat. Hutannya masih alami dan ada kera yang tinggal di sekitar hutan itu,”pesan Nurkholis (43) dan Untung (40), pengelola Pudang Mas sekaligus pemandu wisata susur Sikopyah, sebelum rombongan melanjutkan perjalanan.

Meski seperti memasuki hutan yang penuh pepohonan, ada rasa menyenangkan sepanjang perjalanan. Anda bisa menikmati indahnya ciptaan Tuhan yang masih alami. Jalur itu hampir tidak pernah dilewati orang. Warga setempat atau petugas dari PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) yang  rutin mengecek sumber mata air Sikopyah, melewati jalan setapak yang menempuh jarak sekitar 2 kilometer.

Baca Juga :  Kendalikan dari Nusakambangan, Empat Pengedar Diringkus

Rasa letih nyaris tak terasa, tertutup rasa penasaran penuh petualangan yang menantang. Sepanjang perjalanan, Anda harus berhati-hati melintasi sungai berbatu, terkadang harus melompat dari satu batu ke batu lain atau merangkak naik ke batu yang lumayan besar. Diatas, sejumlah kera kadang nampak bergelantungan seakan memberi semangat.

“Pokoknya asyik sekali. Ini wisata yang menantang dan menyenangkan,” ujar Hardiyanto, karyawan Dinas Kominfo yang mengikuti wisata petualangan itu.

Hardi sendiri, begitu antusias mengikuti susur sungai ini. Walau, tak jarang dia harus merepotkan kawannya yang lain agar dapat memanjat batu besar yang menghadang. Agar dapat melintas, kekompakan peserta memang sangat diperlukan. Kawan yang di depan harus mengulurkan tangan untuk membantu menarik. Sedangkan yang dibelakang kalau perlu harus memberikan sedikit dorongan dan menjaga agr tidak terpeleset ke bebatuan.

(prasetiyo/koranbernas.id)

Di sepanjang perjalanan itu juga masih dijumpai bunga terompet berwarna kuning yang begitu indah.

“Ternyata luar biasa keindahan alam di sepanjang jalur menuju mata air Sikopyah yang tidak biasanya ini,” kata Hardi.

Kepala Bidang Humas dan Informasi Komunikasi Publik (IKP) Dinas Kominfo Purbalingga, Ir Prayitno, M.Si yang juga mengikuti petualangan itu juga mengaku sangat kagum dengan keindahan alam yang masih perawan itu. Hutan dan tanaman disepanjang jalur itu dibiarkan apa adanya, warga tidak boleh menebang pepohonan atau tanaman di sekitar mata air itu.

Baca Juga :  Unsoed Terima 6.261 Mahasiswa Baru

“Wisata jelajah Sikopyah ini patut dikembangkan. Selain mengajak wisatawan untuk memahami arti pentingnya melestarikan lingkungan, juga diajak memahami upaya merawat sumber mata air yang berguna untuk kehidupan manusia,” kata Prayitno.

Nurkholis, pengelola wisata Pudang Mas mengungkapkan, wisata susur Sikopyah rencananya akan dibuka dalam waktu dekat ini. Harga paket masih dihitung, dan yang jelas terjangkau. Pengelola akan menyiapkan souvenir berupa tongkat rotan atau bambu untuk pegangan yang bisa dibawa pulang, air minum dan makanan kecil. Jajanan itu bisa dinikmati sepanjang perjalanan atau setelah sampai di mata air Sikopyah.

“Pantangan selama mengikuti wisata susur Sikopyah, peserta dilarang merusak tanaman atau menebang pepohonan. Begitu juga setelah sampai di sumber mata air, wisatawan tidak boleh membuang sampah sembarangan,” kata Nukholis.

Nurkholis menambahkan, mata air Sikopyah, bisa langsung diminum. Airnya sangat jernih dan tidak berbau.

“Kami juga pernah mengantar dua orang warga Papua ke mata air Sikopyah. Kami tidak tahu, darimana informasi itu diperoleh warga Papua yang meminta untuk diantar,” katanya.

Begitu sampai di sumber air, mereka meminumnya langsung dan membawa beberapa botol untuk dibawa pulang. Konon, mata air itu juga membawa berkah keselamatan bagi yang meminumnya, makanya setiap tahun digelar tradisi  upacara pengambilan air Sikopyah dan dikirab ke balai desa, serta airnya dibagikan untuk warga,” kata Nurkholis. (SM)