Bertani Dengan Keuntungan Hingga Rp 60 Juta Per Hektar?. Contohlah Sleman

402
Sistem bertani Mina Padi di wilayah Sleman. Sistem Mina Padi dan Ugadi, mampu mendorong laba berlipat-lipat. (bid jalasutra/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan terus meningkatkan ketahanan pangan masyarakat melalui sistem minapadi.

“Salah satunya pengembangan pertanian beriringan dengan perikanan yang kemudian disebut dengan minapadi,” kata Sumadi SH MH, Sekretaris Daerah Kabupaten, Minggu (03/09/2017).

Menurut Sumadi, pada 2016 lahan minapadi mencapai 102 hektar tersebar di 17 kecamatan.

“Dengan minapadi petani dapat keuntungan bersih rata-rata Rp 50 juta hingga Rp 60 juta per hektar per musim tanam,” kata Sumadi.

Sumadi menambahkan konsep minapadi yang dikembangkan di Kabupaten Sleman juga mampu menjawab permasalahan keterbatasan lahan pertanian akibat maraknya alih fungsi lahan. Kabupaten Sleman sebagai lumbung padi DIY berkewajiban untuk terus mendorong intensifikasi pertanian yang dihadapkan dengan keterbatasan lahan.

Sumadi mengatakan dengan metode minapadi, produktivitas pertanian khususnya beras dan produksi ikan air tawar dapat meningkat kendati lahan terbatas.

“Melalui metode minapadi tersebut, keuntungan yang diraih berlipat ganda tidak hanya padi namun juga ikan serta keberlangsungan lahan yang produktif,” tutur Sumadi.

Sumadi mengungkapkan di Sleman juga dikembangkan sistem pertanian ugadi atau udang galah dan padi.

“Seperti halnya minapadi, metode ugadi ini juga memberikan keuntungan ganda bagi para petani,” katanya.

Ugadi Sleman sendiri telah menjadi percontohan nasional.  Ugadi  yang diterapkan oleh petani di Kumendang Candibinangun Pakem terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Karena selama ini dengan sistem minapadi mampu meningkatkan pendapatan petani.

Terlebih dengan sistim Ugadi tersebut pendapatan petani  lebih meningkat.

Dari uji coba yang dilakukan, kenaikan produksi padi dengan sistem ugadi tersebut untuk padi tertinggi mencapai12 ton/ha GKP dan terendah 8,8 ton/ha GKP. Sehingga kenaikan produksi  mencapai 20 persen dibanding dengan sistem biasa.

Disamping itu, ada pula pendapatan yang lain berupa Udang yang mencapai produksi tertinggi 173 kg dan terendah 152 kg untuk jumlah tebaran 10.000 ekor udang. (Bid Jalasutra/SM)