Bhinneka Life Gelar Literasi Keuangan untuk Guru se Yogyakarta

127
Direktur Operational & Marketing Bhinneka Life, Lina Bong bersama para guru SLTA Yogyakarta mempraktekan proses literasi perencanaan keuangan pada sebuah lego (mainan anak). (istimewa)

KORANBERNAS.ID–Bhinneka Life bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyelenggarakan kegiatan literasi keuangan bagi 50 orang guru mata pelajaran ekonomi di kota Yogyakarta. Penyelenggaraan literasi ini juga melibatkan Musyawarah Guru Mata Pelajaran Ekonomi (MGMPE) Tingkat SLTA Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebagai langkah awal kegiatan literasi ini akan dilakukan di lima kota yaitu Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Bandung dan Padang.

Direktur Operasional & Marketing Bhinneka Life, Lina Bong mengatakan, kegiatan literasi bagi guru SLTA ini adalah  bentuk kepedulian social dari Bhinneka Life.

“Kami juga menyerahkan sumbangan Buku “Mengenal Otoritas Jasa Keuangan & Industri Jasa Keuangan,” kepada SMA Negeri 1 Yogyakarta yang menjadi lokasi kegiatan literasi dan kepada seluruh peserta literasi,”kata Lina, Kamis (13/09/2018).

Dalam kegiatan ini, Bhinneka Life menyampaikan berbagai hal terkait dengan mengelola keuangan untuk masa depan yang lebih baik. Menurut Lina, dilibatkannya guru sebagai peserta literasi, adalah atas pertimbangan pentingnya peran mereka sebagai pendidik generasi masa depan. Pihaknya mengajak peran serta para guru mata pelajaran ekonomi dinilai sebagai langkah yang tepat dalam upaya mempercepat pemahaman masyarakat terhadap literasi keuangan yang saat ini masih rendah.

Baca Juga :  Panen Raya Kelengkeng, Pejabat dan Tamu Dibuat Kaget 

“Setelah kegiatan ini para guru diharapkan dapat menyebarluaskan materi literasi kepada para peserta didiknya. Sehingga sejak dini mereka memiliki pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan yang baik dan terencana,” katanya.

Bhinneka Life terus kata Lina, melakukan inisiatif agar masyarakat semakin mengetahui dan mengerti asuransi. Dengan demikian, guru dan siswa bisa mempersiapkan serta menyusun rencana keuangan yang lebih baik dalam kehidupannya dan pada akhirnya membantu mereka dalam mengambil keputusan yang lebih baik pula.

Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berasuransi adalah salah satu indikasi bahwa pemahaman masyarakat terhadap literasi keuangan semakin membaik.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa hingga tahun 2017, indeks literasi asuransi di Indonesia baru mencapai 15,76 persen. Angka ini turun dari survei tahun 2013 yang berada pada angka 17,84 persen.

Baca Juga :  Gusti Hadi Diusulkan Jadi HB XI

Rendahnya tingkat literasi ini berdampak kepada masih banyaknya penduduk Indonesia yang tidak terlindungi asuransi. Menurut data dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), dari total penduduk Indonesia sekitar 255 juta jiwa, baru sekitar 7,5 persen masyarakat yang memiliki  asuransi.

Kepala Sub Bagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK DIY, Asteria Diantika. (istimewa)

Kepala Sub Bagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK DIY, Asteria Diantika mengatakan dukungannya terhadap kegiatan ini. Menurut Tika, literasi sangat penting untuk mendorong pemahaman masyarakat terhadap produk-produk keuangan.

Apabila masyarakat paham, diharapkan bukan hanya mendorong kualitas pengelolaan keuangan, tapi juga menghindari berbagai persoalan terkait layanan oleh lembaga keuangan.

“Tingkat literasi di DIY saat ini 38,5 persen, lebih tinggi dari nasional yang hanya 29 persen. Masalahnya, masih saja ada masyarakat yang belum memahami hal ini. Akibatnya bukan mustahil ke depan akan menimbulkan berbagai persoalan dengan lembaga-lembaga keuangan,” katanya. (*/SM)