Biasakan Buka Jendela di Pagi Hari, Apa Manfaatnya?

711
Tim monitoring PSN Kabupaten Sleman mewawancarai warga Dusun Serangan Sidoluhur Godean Sleman, Jumat (16/03/2018). (istimewa)

KORANBERNAS.ID – Sebagian masyarakat lebih memilih tidak membuka jendela rumahnya pada pagi hari sebelum matahari benar-benar terang sinarnya, karena sama artinya memberi kesempatan nyamuk-nyamuk dari  luar masuk mencari tempat untuk tidur di siang hari.

Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Kebiasaan membuka jendela di pagi hari justru banyak manfaatnya.

“Nyamuk DBD itu senang tempat yang gelap dan lembab, suka hinggap di tempat yang bersih. Biasakan selalu membuka jendela pagi-pagi, biar ada pencahayaan dan udaranya berganti,” ungkap Mujiyana SKM, Kepala Seksi Survailans dan Imunisasi Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman, Minggu (18/03/2018).

Sebenarnya keberadaan sarang nyamuk di dalam rumah bisa dihindari. Caranya, masyarakat perlu membiasakan hidup bersih. Penyebaran sarang nyamuk bisa dicegah dengan penataan ruangan rumah yang baik. Barang-barang yang tidak ditata rapi bisa menyebabkan penyakit menular dan tidak menular.

Dinkes Kabupaten Sleman terus menggalakkan Gerakan Jumat Bersih (GJB) dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di beberapa dusun secara bergiliran.

Jumat (16/03/2018) silam, GJB dan PSN turun ke Dusun Serangan Desa Sidoluhur Kecamatan Godean dan Dusun Kaliabu Desa Banyuraden Kecamatan Gamping.

Kegiatan tersebut tujuannya untuk menekan penyebaran sarang nyamuk penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sleman.

Di Dusun Serangan, Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) DBD Kabupaten Sleman memeriksa 66 rumah yang tersebar di 4 RT. Hasilnya, ada 20 rumah positif terdapat jentik nyamuk. Dengan begitu, Angka Bebas Jentik (ABJ) di Dusun Serangan berada di kisaran 70 persen.

Sedangkan monitoring di Dusun Kaliabu, Pokjanal DBD Kabupaten Sleman memeriksa 239 rumah. Diketahui ada 37 rumah positif terdapat jentik nyamuk. Dusun Kaliabu memiliki Angka Bebas Jentik lebih tinggi dibanding Dusun Serangan, yaitu 84,52 persen.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr Nurulhayah MKes pada acara GJB di Caturtunggal mengungkapkan, pihaknya telah melakukan upaya antisipatif untuk mengatasi penyebaran penyakit DBD.

Dinkes juga telah mengedukasi masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

“Kami telah mengaktifkan Pokjanal DBD Kabupaten, Kecamatan dan Desa untuk melakukan monitoring dan pemantauan jentik berkala (PJB). Kami juga membentuk 46 kelompok Jumantik cilik terdiri dari 3.438 kader cilik dan remaja,” jelas Nurul. (sol)