Biaya Hidup Mahal Kendala Studi ke Luar Negeri

209
Pengunjung dan peserta pameran Indonesia International Education Fair (IIEF) di Sportorium UMY mempersiapkan diri sebelum acara dimulai Jumat (09/03/2018). (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Hampir semua lulusan S-1 dan S-2 di Indonesia berminat melanjutkan studi ke luar negeri. Hanya saja mereka masih menghadapi kendala mahalnya biaya hidup atau living cost.

Beasiswa merupakan jalan keluarnya, namun tidak jarang beasiswa itu sifatnya setengah-setengah. Artinya, sebatas untuk biaya kuliah saja sementara biaya hidup ditanggung sendiri.

Setidaknya, inilah pengakuan Nur Ayu Diana. Lulusan S-1 dan S-2 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini sengaja datang ke Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (09/03/2018).

Bersama ratusan peserta lainnya, Nur Ayu rela antre di pintu masuk, untuk mencari informasi beasiswa pendidikan ke luar negeri yang include dengan living cost.

“Misalnya Australia. Biayanya hidup di sana mahal. Saya mau mencari beasiswa program doktoral (S-3) yang include dengan living cost,” ungkapnya menjawab pertanyaan wartawan di sela-sela acara Indonesia International Education Fair (IIEF).

Dia ingin impian dan cita-citanya itu dapat terwujud. Apalagi pameran kali ini diikuti universitas ternama dari berbagai negara. Sebut saja Osaka University dan Waseda University Jepang, Lingnan University Hongkong, Prince of Songkia University Thailand, Tomsk State University Rusia.

Sedangkan dari Australia tercatat Australian Awards, University of Adelaida, James Cook University, TIQ Victoria University, Australian National University maupun University of Newcastle.

Ada pula University of Auckland Selandia Baru, George Washington University Amerika Serikat serta University Alberta International Kanada.

Tak ketinggalan, sejumlah universitas papan atas dari negara Inggris, Irlandia, Italia, Dublin, Prancis, Swedia, Belanda, Jerman, Taiwan, ikut ambil bagian pada pameran tersebut.

Dari dalam negeri, sejumlah perguruan tinggi papan atas ikut berpameran yaitu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta selaku tuan rumah, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Institut Pertanian Bogor (IPB). Program 5.000 Doktor Kementerian Agama pun menjadi salah satu daya tarik peserta untuk datang.

Puguh Prasetyo selaku koordinator acara tersebut mengatakan, pameran beasiswa dan pendidikan tinggi internasional ini diselenggarakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).

Selain bekerja sama dengan UMY, pihaknya juga berkolaborasi dengan Indonesia Global Education Network (IGEN), start up yang fokus pada event organizer yang berkomitmen mengembangkan jaringan dan akses terhadap beasiswa dan perguruan tinggi terbaik di seluruh dunia.

Adapun peserta merupakan institusi pendidikan lebih dari 17 negara, beberapa institusi penyedia beasiswa, lembaga bahasa serta partisipasi lebih dari 50 exhibitior representatif.

Acara bertema Mendayagunakan Kapasitas Sumber Daya Manusia, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagai Akselerasi Pembangunan Menuju Indonesia Emas Tahun 2045 kali ini diisi antara lain coaching clinic, inspirational talkshow dan TOEIC dan TOEFL workshop dengan narasumber berkulaitas dan berpengalaman di bidangnya.

“Acara ini untuk mematangkan persiapan bagi yang merencanakan studi dan para pencari beasiswa. 9.500 pengunjung sudah daftar dan teregister di kami,” ungkapnya.

Indonesia International Education Fair (IIEF) berlangsung di dua kota yaitu Jakarta dan Yogyakarta. Di Kota Gudeg, event ini digelar di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (09/03/2018). Sedangkan di Jakarta berlangsung di Balai Sudirman telah terselenggara Selasa (06/03/2018) silam.

Rangkaian acara dibuka dengan program Connecting Forum pada Senin (05/03/2018) di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta dilanjutkan acara pameran yang berakhir Jumat (09/03/2018) di Sportorium UMY. (sol)