Broadcast Intoleransi Viral, Sekolah Ini Membantah

2027

KORANBERNAS.ID — Broadcast lewat media sosial (medsos) yang berisi tentang sikap intoleransi salah satu sekolah di Yogyakarta viral beberapa hari terakhir. Pesan berantai tersebut menyebutkan, SMAN 8 Yogyakarta melakukan tindakan intoleransi pada siswa mereka karena melaksanakan kegiatan kemah Pramuka saat perayaan hari besar keagamaan pada 30 Maret hingga 1 April 2018 mendatang.

Dalam pesan berantai tersebut, seseorang yang mengaku memiliki keponakan yang bersekolah di kelas X SMA tersebut tidak bisa merayakan ibadah hari raya karena wajib mengikuti kemah Pramuka. Guru agama siswa sebenarnya sudah meminta kepala sekolah untuk mengganti jadwal karena bertepatan dengan perayaan keagamaan namun usulan mereka ditolak.

Setelah ada intervensi dari pihak luar baru sekolah memajukan jadwal kemah pada 16-18 Maret 2018. Namun ternyata pada 17 Maret juga merupakan perayaan hari besar keagamaan.

Waka Humas SMAN 8 Yogyakarta, Winarni saat dikonfirmasi koranbernas.id, Jumat (02/03/20118) membantah sekolah tersebut melakukan tindakan intoleransi. Menurutnya pada kenyataannya, semua peserta didik bisa dengan bebas melaksanakan ibadahnya.

“Realitanya toleransi di sma 8 tidak seperti yang diviralkan. Dari senin-jumat mengawali kegiatan dengan membaca kitab suci apapun agamnya,’ ujarnya.

Winarni menjelaskan, ada orangtua dari kalangan tertentu menceritakn dua putrinya di SMAN 8 Yogyakarta tidak pernah mengalami masalah yang berkaitan dengan agama dan ras. Rencana kemah dan semua kegiatan kedepan dilakukan pada hari yang tidak bersinggungan dengan libur keagamaan.

Baca Juga :  ACT DIY Kirim Bantuan Tahap Dua ke Lombok

“Perkemahan digeser pada hari seperti itu dan diusahakan meminimalisir kegiatan hari minggu untuk yang non muslim supaya ibadah gerejanya tidak terganggu,” jelasnya.

Secara terpisah Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (kadisdikpora) DIY, Baskara Aji mengungkapkan pihaknya akan menindak tegas sekolah yang terbukti melakukan tindakan intoleran pada peserta didiknya. Tindakan akan diberikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Jangan mengganggu anak beribadah,” tandasnya.

Aji mengungkapkan, dirinya sudah mengetahui adanya broadcast tersebut. Dia juga sudah mendapatkan laporan jadwal kemah pramuka di SMAN 8 Yogyakarta juga sudah digeser karena bertepatan dengan hari raya keagamaan.

“Sudah digeser waktunya sama sekolah,” imbuhnya.(yve)

Berikut isi broadcast secara lengkap:

PELAJARAN DARI SMAN 8 KOTA JOGJA

Saya memiliki seorang keponakan yang sekolah di SMAN 8 Kota Jogja kelas 10. Dia beragama Katolik. Beberapa hari yang lalu mengalami kegusaran seperti yang dialami siswa beragama Nasrani lainnya termasuk orang tua mereka. Pangkal persoalannya adalah Kepala Sekolah mewajibkan seluruh siswa kelas 10 untuk mengikuti kemah Pramuka yang diadakan dari tanggal 30 Maret 2018 sampai dengan 1 April 2018.

Padahal tanggal-tanggal tersebut adalah pelaksanaan ibadah Tri Hari Suci Paskah bagi umat Katolik dan tanggal 30 Maret 2018 adalah hari libur nasional keagamaan. Ibadah Tri Hari Suci Paskah merupakan ibadah khusus yang tidak sama dengan ibadah hari Minggu biasa dan banyak siswa yang mendapat tugas di gereja masing-masing.

Guru agama Katolik dan Kristen sudah menyampaikan protes kepada Kepala Sekolah, namun Kepala Sekolah tetap pada pendiriannya untuk melaksanakan kemah Pramuka tersebut. Mendapat informasi itu, saya langsung koordinasi dengan Mbak Esti Wijayati dan beliau langsung bergerak cepat. Awalnya Kepala Sekolah tetap bersikukuh pada keputusannya, namun hari ini keputusan tersebut telah diubah. Kemah Pramuka diundur pelaksanaannya menjadi tanggal 16 Maret 2018 sampai dengan 18 Maret 2018.

Tapi itu pun masih menimbulkan pertanyaan, bukankah tanggal 17 Maret 2018 adalah Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu dan merupakan hari libur nasional keagamaan? Saya belum tahu apakah ada siswa kelas 10 yang beragama Hindu di SMAN 8 Kota Jogja. Tapi apakah diperkenankan mengadakan kegiatan sekolah di saat hari libur nasional keagamaan?

Apa yang terjadi di SMAN 8 Kota Jogja bagi saya adalah benih-benih praktek intoleransi di dunia pendidikan. Tak salah apabila Setara Institute dan Wahid Institute dalam beberapa tahun belakangan menempatkan Jogja di 10 besar kota-kota intoleran di Indonesia. Apakah kita akan diam saja?

#SalamGEMAYOMI
#SalamPancasila
#SalamIndonesia
#LawanIntoleransi

 

Baca Juga :  Becak Kalah Bersaing dengan Ojek Online