Budaya Baca Buku Mulai Ditinggalkan

435
Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI menerima cenderamata dari Pustakawan Ahli Utama Perpustakaan RI Supriyanto, Kamis (22/03/2018). (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat, Perpustakaan Nasional melakukan Safari Gerakan Nasional Pembudayaan Gemar Membaca ke berbagai provinsi dan kabupaten/kota se Indonesia.

Kamis (22/03/2018) tim Perpustakaan Nasional datang ke Sleman untuk berdialog dengan para pengelola perpustakaan di Sleman tentang upaya meningkatkan minat baca. Tim ini dipimpin oleh  Pustakawan Ahli Utama  Perpustakaan RI,  Supriyanto.

Acara yang dilaksanakan di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman kali ini diikuti siswa, para pengelola PAUD, guru SD, SMP dan SMA serta para pustakawan.

Pada kesempatan tersebut Supriyanto menyerahkan bantuan tiga unit sepeda motor angkutan buku perpustakaan ke perpustakaan Sleman, diterima Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI.

Bantuan serupa diserahkan kepada pengelola perpustakaan Desa Hargobinangun Kecamatan Pakem dan Desa Sumberharjo Kecamatan Prambanan. Sri Purnomo kemudian menyerahkan sejumlah buku karya para pelajar Sleman untuk  Perpustakaan Pusat.

Pada acara tersebut juga dilakukan dialog tentang upaya minat baca, antara para pengelola perpustakaan dengan para petugas Perpustakaan Pusat.

Tampak hadir anggota Komisi X DPR RI Esti Wijayanti, Kepala Perpustakaan  DIY  dan Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmi Dewi TP MM.

Minat baca rendah

Menurut Supriyanto,  minat baca masyarakat Indonesia masih rendah yang antara lain disebabkan terbatasnya jumlah buku yang tersedia di perpustakaan.

“Jumlah perpustakaan di berbagai daerah harus ditambah dan jumlah bukunya juga dilengkapi sehingga bisa menumbuhkan minat masyarakat untuk datang ke perpustakaan membaca buku,” kata dia.

Sri Purnomo mengatakan dalam upaya meningkatkan minat baca anak, semua sekolah di Sleman harus memiliki perpustakaan. Perpustakaan merupakan jantung sekolah.

Saat ini budaya membaca yang merupakan kebiasaan yang baik mulai ditinggalkan. Kehadiran teknologi seakan-akan menggantikan peranan buku.

Begitu pula anak-anak, budaya membaca saat ini sudah tergantikan oleh permainan-permainan individualis di berbagai gawai.

Kondisi ini menimbulkan keprihatinan khususnya di wilayah Kabupaten Sleman yang merupakan kawasan pendidikan dengan jumlah perguruan tinggi terbanyak di DIY.

“Semakin tingginya persaingan di bidang pendidikan merupakan tantangan bagi kita untuk kembali menggalakkan budaya membaca anak-anak,” kata bupati.

Membaca perlu menjadi kebutuhan. “Saya mengajak seluruh masyarakat membudayakan membaca dari lingkungan terkecil di rumah masing-masing, di sekolah, perkantoran dan di berbagai kesempatan,” kata Sri Purnomo.

Saat ini informasi tidak saja dicari di buku namun juga bisa dicari melalui e-book dan perpustakaan digital. (sol)