Siswa KB/TK Budya Wacana belajar di sekolah. (tugeg sundjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Memasuki Tahun Ajaran (TA) baru 2017/2018, KB-TK Budya Wacana kembali mengukuhkan visi dan misinya. Dengan motto ‘Be a Winner !’, sekolah tersebut mempertajam beragam program dan kegiatan dalam rangka menghasilkan generasi pemenang yang beriman, berkarakter, berpengatahuan dan berwawasan kebangsaan.

Sekolah tersebut melaksanakan pembelajaran berpedoman kurikulum nasional dan mengembangkan pendidikan berwawasan global sesuai dengan perkembangan jaman dan tuntutan masyarakat sesuai misinya. Sekolah juga berusaha mewujudkan keimanan pada Tuhan dengan bersikap dan berperilaku sesuai iman Kristen.

“Sekolah membentuk karakter siswa sesuai dengan karakter kristiani dan lingkungan budaya serta dapat memilah budaya yang sesuai dengan kepribadiannya. Sebagai sekolah berbasis budaya, kami juga melestarikan budaya lokal melalui pengenalan budaya setempat,” ungkap Kepala KB-TK Budya Wacana, Emanuel Rustinarni di sekolah setempat, Jumat (8/9/2017).

Menurut Nanik-sapaan Rustinarni, KB-TK Budya Wacana sengaja mendidik siswanya untuk menjadi pemenang di masa depan. Sebab meski sekolah tersebut pada tahap Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), KB-TK Budya Wacana berupaya menjawab kebutuhan 20 tahun kedepan. Sehingga pembelajaran dan kurikulum diintegrasikan dalam nilai-nilai yang terkandung dalam Alkitab.

Para siswa dididik untuk memiliki sikap mental juara dan berkemenangan sekaligus berkarakter dan berwawasan kebangsaan. Untuk memiliki sikap mental tersebut, peserta didik diajarkan ketrampilan komunikasi melalui penguasaan bahasa Inggris dan bahasa Mandarin serta public speaking.

“Anak-anak diajarkan untuk bisa mengkomunikasikan keinginan tanpa takut. Sikap mental pantang menyerah juga terus ditumbuhkan meski mengalami kegagalan agar anak-anak menghargai proses dan tidak hanya hasil akhir,” ungkapnya.

Dalam proses tersebut, anak-anak juga diajarkan untuk berserah pada otoritas Tuhan. Sehingga keimanan terbentuk bukan karena takut pada guru namun pada Tuhan dimanapun mereka berada.

Kehidupan keimanan seluruh elemen sekolah diaplikasikan dalam program
Jumat Ibadah yang dipimpin guru. Di kapel sekolah, guru membentuk kelompok tumbuh bersama, tidak hanya bagi siswa namun juga guru dan karyawan.

“Para siswa, guru dan karyawan bersama-sama bertumbuh dalam iman dan karakter. Kegiatan diisi secara variatif dengan hal-hal riil. Seluruh elemen sekolah perlu tumbuh bersama melalui proses karena karakter dan keimanan tidak tumbuh secara instan. Di dalam tahap golden age-nya, siswa lebih mudah menyerap,” ungkapnya.

Keikutsertaan guru dan karyawan dalam program Jumat Ibadah itu penting karena mereka menjadi role model pendidikan peserta didik. Apalagi anak-anak banyak mencontoh figur terdekat seperti keluarga dan guru serta karyawan di sekolah.

Nanik melanjutkan, peserta didik juga dikenalkan konsep dasar ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Diantaranya melalui pembeljaran Teknologi Informasi (TI) secara sederhana. Dengan demikian komputer tidak hanya menjadi alat bantu kerja namun sebagai bahan ajar agar peserta didik tidak gagap teknologi melalui pendampingan yang tepat dari guru.

Sekolah juga menggelar program Career Day pada November mendatang. Bekerjasama dengan orangtua murid, sekoah mengenalkan beragam karir dan profesi pada anak-anak. Hal itu dilakukan untuk membangun impian mereka kedepan.

“Kami juga meggelar one day entepreneurship untuk mennumbuhkan jiwa wirausaha anak sejak dini. Mereka bisa belajar melihat peluang dan pantang menyerah. Anak-anak juga disiapkan dalam komunitas sosial dan menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan mereka sebagai warga jogja agar bisa berdapatasi dimanapun,” imbuhnya.(yve)