Buka Malam, Pengunjung Banjiri Pasar Beringharjo

434
Aktivitas perbelanjaan di Pasar Beringharjo Yogyakarta saat buka malam hari, Kamis (12/04/2018). (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Kamis (12/04/2018) malam merupakan hari kedua sejak diberlakukannya uji coba Pasar Beringharjo Yogyakarta buka malam hari.

Masyarakat pun menyambutnya antusias. Terlihat pengunjung membanjiri pasar terutama di lantai satu tempat dagangan aneka busana batik.

“Yang buka khususnya di sektor batik dan busana di lantai satu. Di lantai dua dan tiga juga menggelar busana, aneka busana muslim dan pernik-perniknya,” kata petugas keamanan  yang siaga di ruang kerja utara pintu masuk utama pasar.

Untuk pengamanan masing-masing lantai, disiagakan sejumlah petugas. Semua sudah dilokalisir sebab yang dibuka hanya  sektor-sektor yang ditentukan.

Wanita keturunan India dari Jakarta mematut-matut batik di Pasar Beringharjo yang buka malam hari. (arie giyarto/koranbernas.id)

Pada hari pertama, Rabu (11/04/2018) malam, pengunjung cukup banyak. Bahkan menurut Rita, jumlah pengunjung meningkat saat mendekati pukul 21:00 sebagai batas waktu yang ditentukan.

Berapa omzet pada hari pertama, Rita yang bertugas di Sinar Tekstil menyatakan belum bisa menjadikannya sebagai ukuran. Karena baru pertama. Tetapi dilihat dari arus pengunjung dia merasa cukup prospektif.

Bagaimana perbandingan dengan penjualan siang hari, Rita menjelaskan memang masih ramai siang hari. Bisa saja, masih banyak masyarakat belum mengetahui kebijakan Pemerintah Kota Yogyakarta dalam hal ini Dinas Pengelolaan Pasar yang membuka pasar ini sampai malam.

Apalagi sebentar lagi akan datang bulan suci Ramadan dan Lebaran yang bisa menjadi  harapan banyak pedagang.

Rita menunggu pembeli di kiosnya. (arie giyarto/koranbernas.id)

Di kios busana batik itu aneka motif dan desain tersedia. Harganya mulai dari Rp 40.000, tinggal pakai. Harga tergantung kualitas kain maupun desainnya.

Kombinasi batik lurik juga mulai meramaikan pasar. Namun harganya relatif mahal karena bahan baku lurik juga sudah mahal.

Busana pun harganya di atas Rp 100.000, biasanya pembelinya dari luar kota. Sedangkan batik, menurut Rita, semua laku.

Optimisme juga diungkapkan Bintoro yang buka kios busana batik di lantai satu. Apabila masyarakat secara luas sudah mengetahui Beringharjo buka malam, mungkin mereka memilih belanja busana di malam hari.

Selain suasananya lebih nyaman, pengunjung juga tidak terlalu berdesakan dan harus berkeringat.

Busana-busana batik yang dipasarkan di Beringharjo sebagian besar produk perajin Yogyakarta dan Solo. Sebagian kecil dari Pekalongan karena harga jualnya lebih mahal.

Pantauan koranbernas.id, suasana lantai 2 dan 3 relatif masih sepi. Mungkin informasinya belum merata.

Kebijakan  Beringharjo buka malam juga berdampak pada penjual nasi pecel dan makanan kelengkapannya, sampai malam tetap laris manis.

“Kami menyiapkan makanan pukul 15:00. Jadi bukan dagangan pagi hari,” kata seorang penjual menjawab pertanyaan koranbernas.id.

Sampai pukul 20:00 sayurannya masih fresh. Demikian pula, penjual wedang ronde di selatan pasar juga laris manis.

Penjual nasi pecel di depan pintu masuk pasar ikut laris. (arie giyarto/koranbernas.id)

Rencananya, uji coba Beringharjo buka sampai malam berlaku satu bulan. Setelah itu dievaluasi untuk dilanjutkan atau tidak.

Dengan buka sampai malam, diharapkan pengunjung dari luar kota tidak kecelik, karena mengira buka sampai malam.

Membeludaknya pengunjung ini juga didukung banyaknya arus wisatawan Nusantara berdatangan ke Yogya. Kantong parkir Abubakar Ali yang biasanya sepi, selalu dipenuhi bus-bus besar.

Menilik pelat nomor polisinya, mereka datang dari berbagai kota. Tidak hanya di Pulau Jawa tetapi juga dari berbagai kota di luar Jawa.

Kebetulan sebagian kawasan Malioboro sisi barat sedang dibongkar untuk proyek penataan pedestrian, daripada ribet jalan-jalan di sana mereka memilih masuk Pasar Beringharjo.  (sol)