Bukit Karang Bentengi Gunungkidul dari Ancaman Tsunami

898
Dari atas bukit, seorang bocah mengamati Pantai Gesing. Keberadaan bukit-bukit karang di Gunungkidul bisa dijadikan benteng dari ancaman tsunami. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Berdasarkan pendataan dan analisa BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), ada belasan desa di Kabupaten Gunungkidul yang rawan terkena bencana tsunami.

Meski demikian, dengan karateriktik wilayahnya, selama ini warga sudah diuntungkan karena berbenteng bukit-bukit karang.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki di ruang kerjanya, Senin (09/04/2018), mengakui Gunungkidul masuk kawasan zona merah jika terjadi bencana tsunami.

Meski termasuk kawasan paling rawan, namun jika nantinya terjadi bencana tsunami, jumlah korban dari Kabupaten Gunungkidul diperkirakan cukup aman.

Hal ini karena kawasan pantai di Gunungkidul bukan merupakan kawasan permukiman. Warga tinggal di pemukiman yang biasanya tertutup oleh bukit dan pegunungan.

“Bukit dan pegunungan inilah yang nantinya menjadi benteng alami warga dari terjangan gelombang laut,” katanya.

Berdasarkan pendatan dan analisa ada sebanyak 16 desa di Gunungkidul yang rawan terhadap bencana tsunami. Keenam belas desa tersebut meliputi, Desa Giricahyo, Desa Girijati, Desa Giripurwo, Desa Girikarto, Desa Giriwungu semuanya di Kecamatan Panggang.

Untuk Kecamatan Saptosari ada Desa Krambilsawit dan Desa Kanigoro. Sementara di Desa Kemadang, Desa Banjarejo, Desa Ngestirejo dari Kecamatan Tanjungsari. Kecamatan Tepus ada Desa Sidoharjo, Desa Tepus, Desa Purwodadi. Kemudian Kecamatan Girisubo di Desa Jepitu, Desa Pucung dan Desa Songbanyu.

Menurut Edy Basuki, di lokasi-lokasi zona merah tsunami tersebut, pihaknya telah melakukan upaya antisipasi di antaranya menggelar sejumlah simulasi bencana tsunami. “Ini penting agar warga bisa terlatih saat menghadapi situasi bencana,” terangnya.

Terpisah, Sekretaris Tim SAR Korwil II Pantai Baron, Surisdiyanto, menambahkan kawasan pesisir Gunungkidul bukan merupakan permukiman. Warga hanya sekadar beraktivitas sebentar di kawasan pantai atau melaut dan kemudian pulang ke rumahnya yang berada cukup jauh dari kawasan pesisir.

“Meski demikian, segala kemungkinan harus diminimalisir. Sosialisasi mengenai kebencanaan disosialisasikan kepada masyarakat,” kata Surisdiyanto. (sol)