Bulan Suro, Warga Terdampak NYIA Enggan Relokasi

187
Rumah relokasi warga terdampak pembangunan NYIA. (dok. koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Rumah relokasi yang dibangun warga yang terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) sudah siap ditempati secara permanen. Namun sebagian warga masih enggan masuk rumah baru mereka meskipun sebenarnya rumah sudah dapat ditempati.

“Hal tersebut karena keyakinan terkait bulan Suro tidak baik untuk pindah rumah. Konon katanya (perhitungan hari baik), sekarang sudah boleh pindah. Rata-rata semua warga juga sudah mengusung barang-barangnya ke rumah baru dan siap menempatinya. Walaupun, ada beberapa yang belum siap pindah karena menunggu kamarnya jadi dan siap dipakai,” ujar Kepala Dukuh Bapangan Glagah Temon Kulonprogo, Suparjo, Senin (16/10/2017).

Menurut Suparjo, dari 40 rumah relokasi warga yang dibangun, sebanyak 15 rumah mulai ditempati secara permanen oleh warga. Sedangkan lainnya akan melakukan mulai menempati rumah saat acara bedol desa masuk rumah relokasi pada pada 21 Oktober 2017 mendatang.

Baca Juga :  Pemerintah Ubah Formulasi Distribusi Dana Desa

“Rencana semula tanggal 21 Oktober. Sampai sekarang belum ada kabar lagi apakah akan berubah atau tetap di tanggal itu. Tanggal tersebut bahkan Pak Bupati akan hadir,” kata Suparjo

Sementara Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo mengatakanakan segera memimpin prosesi bedhol desa atau relokasi serempak warga terdampak pembangunan NYIA dalam waktu dekat. Hasto memastikan warga akan segera menempati hunian barunya di lahan relokasi. Hunian relokasi disebutnya sudah siap huni meski belum 100 persen selesai dibangun.

“Akhir Suro nanti saya ke sana (Temon) lagi untuk usung-usung (pindahan). Saya cuma mengikuti rencana kepala desa dan warga untuk bedhol desa akhir Suro,” kata Hasto,

Sementara kegiatan landclearing lahan pembangunan NYIA di Temon kini sudah mendekati areal pemukiman warga. Di Pedukuhan Bapangan, Desa Glagah yang merupakan lokasi yang dekat calon runway misalnya, beberapa backhoe sudah menyentuh lahan-lahan kosong di dekat pemukiman warga membersihkan pepohonan. Pepohonan depan rumah mulai dirobohkan, meskipun rumah ada yang masih ditempati. (yve)

Baca Juga :  Ini Kelebihan Kayu Oak di Mata Perajin Topeng