Bupati Kebumen Tak Ngantor Pasca Penetapan Tersangka

254
Peresmian pembangunan 6 puskesmas yang menggunakan APBD Kabupaten Kebumen tahun anggaran 2017, di Puskesmas Karanganyar, Rabu (17/01/2018) merupakan seremoni besar terakhir yang dihadiri H Yahya Fuad. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Bupati Kebumen HM Yahya Fuad tidak datang ke kantor selama lima hari terakhir usai ditetapkan tersangka oleh Komisi Pemberatasam Korupsi (KPK) pada rapat dinas Senin (22/01/2018). Usai menyampaikan niat akan mengundurkan diri sebagai Bupati Kebumen, Fuad juga tidak nampak dalam kegiatan seremoni di lingkungan Pemkab Kebumen.

Dalam sosilisasi bantuan sosial pangan dan peluncuran bantuan sosial Rastra, Kamis (25/01/2018) misalnya, Wakil Bupati Kebumen KH Yazidz Mahfudz hadir mewakili Fuad. Sambutan tertulis yang lazimnya atas nama dan ditandatangani Bupati Kebumen HM Yahya Fuad, pada kegiatan seremoni itu ditandatangani Yazidz.

Dalam Safari Jumat, di Desa Karangtanjung, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, Jumat (26/01/2018) yang biasanya lebih sering dipimpin Fuad pun digantikan Kepala Dinas Pendidiksan Kebumen Achmad Ujang Sugiyono.

Padahal selama ini, Fuad sering menghadiri seremoni di lingkungan Pemkab Kebumen. Peresmian proyek dalam satu tahun anggaran yang oleh bupati bupati sebelumnya diselenggarakan simbolik di satu tempat, justru diselenggarakan Yahya di beberapa tempat. Sebulan terakhir peresmian pembangunan kantor kecamatan dan sarana prasarana kesehatan dilakukan terpisah. Seremoni dua kali yang tidak dianggarkan tentu sebagai pemborosan.

Baca Juga :  Pelangi Budaya Bumi Merapi Semarakkan Pariwisata

Hingga berita ini diturunkan, koranbernas.id belum bisa mewawancarai HM Yahya Fuad. Namun penggiat media sosial (medsos) dikabarkan telah mendapat akses informasi seputar Surat Perintah dimulai penyidikan (Sprindik) atas perkara yang melibatkan Yahya Fuad.

Sebab ketika Pemkab Kebumen akan menyelenggarakan Training of Trainer (ToT) pencegahan korupsi, Fuad memilih berbicara dengan penggiat medsos ketimbang kepada pers. Dialog Fuad dengan penggiat medsos didampingi Kepala Bagian Humas Pemkab Kebumen Sukamto.

Di medsos sudah beredar keterangan tertulis Fuad yang tidak lebih pembelaan atas sangkaan menerima gratifikasi. Dalam keterangan yang dirilis Kamis (25/01/2018), Fuad antara lain menyebutkan uang yang ia terima hubungan utang piutang. Ketika menjabat Bupati Kebumen, sejak 17 Februari 2016, tersirat ia membantah melakukan intervensi proses pengadaan barang dan jasa tahun 2016.

Baca Juga :  Jagoan Sumsel Byanca Raih Emas di Kelas G

Keterangan ini berbeda dengan keterangannya pada rapat dinas yang diikuti pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Senin (22/01/2018). Pada rapat dinas itu, Fuad mengaku menerima uang sebagai pengusaha bukan gratifikasi. Uang itu ia terima sebelum dilantik menjadi Bupati Kebumen.

Penetapan Fuad sebagai tersangka penerima gratifikasi pertama kali diumumkan Yahya Fuad kepada jajaran Pemkab Kebumen. Ia diduga menerima uang dari tersangka Khayub, pengusaha jasa konstruksi sebesar Rp 2,3 miliar. Uang itu sebagai fee atas pemberian proyek tahun anggaran 2016. Pemberian itu diberikan melalui tersangka lain Hojin Anshori, pengusaha jasa konstruksi/tim sukses Fuad–Yazid, pada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kebumen 2015. (yve)