Bupati Kulonprogo Masuk Rutan

Buka Puasa Bersama Napi dan Bicarakan Pemindahan Rumah Tahanan

159
Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo saat  berbuka puasa di Rumah Tahanan  Wates. (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo, Senin (04/06/2018) petang, masuk rumah tahanan (Rutan) Wates. Orang nomor satu di kabupaten tersebut berbuka puasa bersama para narapida.

Dia berharap dalam masa jabatannya kedua ini, Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Wates sudah dapat dipindah ke lokasi lain. Idealnya bangunan di sebelah barat alun-alun adalah masjid. Tapi yang terjadi di Wates, barat alun-alun justru penjara.

Oleh karena itu penataan kota  khususnya kawasan Alun-alun Wates perlu dibenahi dengan cara memindahkan rutan ke lokasi baru. Dibutuhkan lahan seluas 3 hektar.

Hasto Wardoyo menyebutkan, rencana pemindahan rutan bukan hal baru. Untuk memulainya harus melewati sejumlah prosedur antara kementerian dan lintas pemerintah daerah serta pemerintah pusat.

“Kandidat lokasi sudah ada gambaran, seperti di salah satu titik wilayah jalur ke Waduk Sermo. Atau kalau mau dekat dengan Polres berada di Giripeni,” kata dia.

Kepala Rutan Wates, Teguh Suroso,  berharap pemindahan rutan bisa dilakukan segera mungkin. Pada prinsipnya instansi itu siap pindah kapan pun.

Pembangunan rutan baru akan menerapkan sistem ruislag. Pemerintah Kabupaten Kulonprogo melakukan penghitungan harga kebutuhan pembelian tanah dan pembangunan rutan, selanjutnya pihak rutan tinggal menggunakan bangunan jadi.

“Kami baru kirim gambar pola bangunan ke Bappeda, mereka yang hitung. Kementerian kami (Kemenkumham) tidak bisa membangun (rutan) karena prioritas pemerintahan pusat pada 2018,” kata Teguh.

Pada acara buka bersama dengan napi, Hasto membawa penceramah ustad
Sandiman Nur Hadi Widodo dari Lendah yang juga mantan napi.

Dia sengaja dihadirkan karena pernah merasakan pahitnya hidup di dalam rutan, untuk memberikan motivasi para warga binaan.

“Tadi mendengarkan seperti apa testimoni seorang ustad yang pernah menghuni rutan ini, akhirnya sekarang sudah sukses menjadi seorang ustad dan bisa memberikan nasihat kepada semuanya,” kata Hasto.

Teguh Suroso mengatakan,  ustad Sandiman merupakan salah satu contoh kehidupan yang baik. Dulunya napi  kemudian bertobat dan malah jadi ustad.

“Kalau seperti ini kan mereka mengalami betul. Begini lho di dalam, nanti di luar kamu harus begini, jadi sudah jelas ada bayangan, tidak hanya ngomong. Memang dulu dia mengalami seperti ini. Lebih mengena (bagi warga binaan),” katanya.

Untuk pembinaan napi, pihaknya sudah menyiapkan 20 orang narapidana yang dilatih keahlian tukang kayu, tukang las, tukang bangunan dan lain-lain, bekerja sama dengan PT Angkasa Pura I dan Balai Latihan Kerja (BLK). Mereka akan ikut dalam program bedah rumah yang diinisiasi Pemkab setiap hari Minggu.

“Ada juga program usaha kopi dan perawatan sepatu. Setiap Jumat teman-teman napi sekitar 3-4 orang jalan ke dinas-dinas, pas olahraga sepatu kita ambil, dibersihkan tanpa air, bayar sekitar 10-15 ribu, kalau di mal mahal sekali bisa sampai 50 ribu. Itu memberi motivasi pada mereka,” tuturnya. (sol)