Bupati Larang Warga Setrum Ikan

492
Bupati Bantul H Suharsono melihat ikan nila dan tombro yang dipelihara warga di RT 04, Dusun Singosaren, Desa Wukirsari, Imogiri, Selasa (12/09/2017). (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Bupati Bantul, Drs H Suharsono mewanti-wanti masyarakat untuk menjaga kebersihan termasuk menjaga habitat sungai. Sehingga bagi yang hobi mencari ikan, dilarang keras melakukan penyetruman, menggunakan obat (potas) ataupun menebar jala di sungai.

“Yang saya izinkan itu dengan cara memancing. Kalau metode yang lain termasuk setrum saya larang, karena bisa mematikan ekosistem yang ada di sungai,”kata Bupati saat meninjau ikan yang ditebar warga di selokan Rt 04, Dusun Singosaren, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Selasa (12/09/2017).

Bupati bersama Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten telah menebar ratusan ribu bibit ikan ke sungai-sungai  besar yang ada di Bantul. Bahkan hal itu dilakukan oleh pensiunan anggota Polri tersebut, dua bulan paska dirinya dilantik sebagai bupati.

“Nanti ikan-ikan tersebut bisa dimanfaatkan, selain untuk menambah gizi masyarakat juga untuk sarana hiburan. Termasuk juga meningkatkan kerukunan, karena dengan memancing  akan ada interaksi sesama warga,” katanya.

Maka ketika apa yang dilakukan tersebut ternyata dilakukan oleh warga dengan inisiatif sendiri, patut diberikan apresiasi  yang tinggi. Seperti di RT 04 Singosaren, sejak Mei warga secara bersama-sama dan swadaya menyulap selokan yang awalnya penuh sampah menjadi bersih dan ada 10.000 ikan jenis nila dan tombro yang ditebar.

Menurut penuturan Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Bantul, Ir Pulung Hariyadi ikan tersebut merupakan bantuan dari dinas.

“Kita telah salurkan ratusan ribu bibit ikan kepada warga yang meminta bantuan ke kita. Termasuk yang diselokan ini,”imbuhnya.

Sementara Ketua Pemuda yang juga Relawan Imogiri Jangan Tercemar Triyana mengatakan agar air di selokan itu bersih warga secara bergotong- royong melakukan pembersihan. Selanjutnya dibendung sepanjang 100 meter dan di sisi utara diberi penyaring sampah secara berlapis yakni yang berbentuk kotak-kotak kecil dan  satunya berbentuk semacam kincir hasil desain Suhar warga setempat.

“Dengan saringan ini setidaknya sehari kita berhasil mendapat sampah hingga tiga karung. Kemudian karung sampah tadi seminggu tiga kali diambil oleh tukang,”katanya.

Diakui, kesadaran warga setempat untuk  tidak membuang sampah ataupun kotoran ke selokan sudah terbangun. Namun sampah-sampah yang masih muncul, kebanyakan berasal dari kampung diatasnya.

“Kotornya selokan dulu menjadi keluhan petani. Sehingga dari sanalah kami warga berembug dan terjadilah seperti yang kita lihat sekarang. Selain menjaga kebersihan sungai. Ini juga bisa menjadi sarana hiburan bahkan sarana wisata,”katanya.

Dampaknya adalah meningkatkan ekonomi masyarakat yang bisa menjual aneka makanan dan minuman di sekitar lokasi selokan bagi pengunjung yang datang.

“Sekarang juga orang kalau mau buang sampah ke sungai pasti eman-eman melihat ikan-ikan tersebut. Kalau dulu masih ada yang buang sampah ke selokan, sekarang  sudah tidak ada lagi,” katanya.

Lurah Desa Wukirsari, Bayu Bintoro mendukung pemanfaatan selokan menjadi kolam ikan dan dimanfaatkan warga secara bersama-sama.

“Ini juga untuk meningkatkan kerukunan dan sarana hiburan,”katanya. (Sari Wijaya/SM)