Cadar

196

DUNIA pendidikan tinggi di Yogyakarta tiba-tiba heboh. Pemicunya, Rektor Universitas Islam Negeri “Sunan Kalijaga” Yogyakarta Yudian Wahyudi menerbitkan larangan bagi mahasiswi bercadar. Setelah menjadi buah bibir banyak pihak, Rektor UIN akhirnya mencabut larangan tersebut. Mengapa?

Alasan Rektor UIN Sunan Kalijaga mengidentifikasi mahasiswi bercadar dan kemudian melarang pemakaian cadar, berawal dari keinginan UIN mengeliminasi gerakan radikal di kampus tersebut. Beberapa waktu sebelumnya, di UIN Sunan Kalijaga berkibar bendera HTI yang missinya membangun negara khilafah. Ini dianggap UIN ingin membubarkan NKRI.
Tiga tahun yang lalu, ketika masih berstatus institut, UIN Walisongo Semarang juga menerbitkan ketentuan yang sama. Mahasiswi dilarang bercadar. Ketentuan ini memang sempat menuai protes juga, tetapi UIN Walisongo bersikukuh pada sikapnya. Mau kuliah di UIN Walisongo, ya harus copot cadar.

Diumumkan terbuka atau tidak, sejatinya larangan bercadar memang sudah lazim di dunia pendidikan tinggi. Salah satu alasannya, untuk memastikan orang yang terdaftar dengan wujud fisiknya. Sebab, dengan bercadar sulit mengetahui, siapakah sosok di balik cadar tersebut.

Larangan bercadar bagi mahasiswi, ada yang mengaitkan dengan upaya mencegah merebaknya radikalisme di kalangan kampus. Tentu tidak dapat dimaknai bahwa mahasiswi bercadar adalah calon radikalis yang akan berkembang menjadi teroris. Bila kemudian berkembang asumsi, bahwa merebaknya radikalisme di kalangan kampus bertautan dengan mahasiswi bercadar, ini juga tidak dapat disalahkan.

Baca Juga :  Sihir Dana Desa

Cadar, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna penutup kepala dan muka bagi perempuan. Cadar, merunut sejarahnya berasal bukan dari negara Arab Saudi yang menjadi pusat agama Islam. Cadar berasal dari daerah Persia dan banyak digunakan para perempuan sebelum zaman Islam. Terutama penganut agama kuno, Zardasyt. Cadar lazim dikenakan perempuan sebagai makhluk yang tidak suci. Perempuan wajib memakai cadar karena dianggap nafas mereka yang keluar dari mulut dan hidung mengotori api suci dalam upacara persembahan yang dilakukan penganut agama Zardasyt, yang merupakan agama lama orang-orang Persia. (I Muttaqin, 2015).

Ilustrasi karya Lilik Sumantoro

***

CADAR bukan merupakan hal yang dipersyaratkan dalam Alquran bagi kaum muslimin. Cadar hanyalah sebuah tradisi atau produk budaya dari Timur Tengah. Realita yang muncul di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk dewasa ini, perempuan bercadar cenderung merupakan bagian dari kelompok orang-orang yang menganut paham radikal.
Kisah orang tua kehilangan anak perempuan dan putus kuliah, bukan cerita baru. Menurut Rektor UIN, mahasiswi baru yang semula berpakaian biasa, ketika bersentuhan dengan kelompok radikal, mengubah penampilan mereka dengan bercadar. Buntutnya, putus kuliah dan tidak kembali kepada orang tua.

Berkali-kali, ketika Densus 88 Antiteror menggerebek teroris, sebagaimana yang disaksikan melalui tayangan televisi, keluarga teroris banyak yang bercadar. Para perempuan bercadar biasanya tergabung dalam kelompok masyarakat yang eksklusif.
Cadar, bagi para penggunanya diyakini sebagai “cara paling benar” dalam menjalankan ajaran agama. Kepercayaan itu kemudian mendarah daging dan bagi mereka tidak ada lagi jalan lain kecuali satu hal yang mereka yakini. Dan tentu saja, mereka menafikan perbedaan. Realitas multi kultur yang ada di masyarakat kemudian dianggap sebagai “musuh besar” yang harus diperangi dengan segala cara.

Baca Juga :  Semakin Timpang

Semaian bibit paham radikal memang mendapatkan tempat terbaik di dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Virus yang menjangkiti calon-calon intelektual muda itu akan cepat berkembang karena dukungan intelektual yang mereka miliki.
Radikalisme yang berkembang di perguruan tinggi, tentu tidak dapat dilepaskan dari pendidikan pada jenjang-jenjang di bawahnya. Bahkan, sejak anak-anak masih berada pada usia prasekolah.

Disadari atau tidak, radikalisme di perguruan tinggi, apalagi di Yogyakarta, telah ikut berkontribusi bagi peningkatan predikat intoleran bagi Kota Yogyakarta. Kota yang dulu dikenal sebagai Kota Budaya, Kota Pendidikan dan bahkan kota dengan tingkat toleransi yang tinggi. Kenyamanan yang banyak dirasakan oleh generasi 60-an mulai tergerus.
Andai para perangkat pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lain segera menyadari keadaan dan mengambil langkah nyata, barangkali radikalisme di Yogyakarta bukan lagi ancaman. (***)