Calon Perwira Latihan Tempur di Waduk Sermo

272
Suasana latihan tempur di Waduk Sermo Kulonprogo. (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Para Taruna Calon Perwira Akademi Angkatan Udara (AAU) sejak Rabu (13/09/2017) hingga Jumat melakukan latihan tempur di obyek wisata Waduk Sermo Desa Hargowilis Kecamatan Kokap Kulonprogo. Mereka berlatih bertahan hidup atau survival di tengah pertempuran dan keterbatasan.

Latihan karbol AAU ini disebut Latihan Wanatirta 2017 untuk mengambil Brevet Sea and Jungle Survival Yogya Barat.

Kolonel Pnb Wibowo Cahyono selaku penanggung jawab latihan menyatakan, Karbol (Taruna) AAU tingkat III wajib mengikuti latihan bertahan hidup di darat maupun di laut (wana dan tirta).

Kewajiban ini merupakan uji latih kemampuan dasar seorang prajurit militer, terlebih sebagai seorang calon perwira.   “Bagaimana dalam keadaan darurat tetap bisa dan mampu bertahan hidup, baik sebagai seorang prajurit maupun sebagai seorang pimpinan,” ungkapnya.

Latihan Wanatirta tahun 2017 ini diikuti Taruna 95 orang dan Taruni 9 orang. Selain itu, ada juga 88 personel pendukung termasuk instruktur dan pengasuh.

Berbagai peralatan diturunkan seperti perahu karet, pesawat latih. Terdengar pula tembakan senjata serta ledakan TNT, dari para pelatih/instruktur.

Sebagian dari para Karbol  ini kelak merupakan calon awak pesawat sehingga wajib mengikuti latihan tersebut. Sedangkan sebagian lainnya akan menjadi pemimpin dari berbagai bidang di Matra TNI AU.

Wibowo Cahyono menyatakan, perwira TNI harus memiliki kemampuan bertahan dan menyerang, dan bertanggung jawab terhadap pasukannya.

“Dalam situasi darurat, seperti dalam suasana pertempuran di mana pesawat yang diawakinya jatuh di daerah konflik atau perang, maka awak pesawat yang masih hidup harus bisa bertahan. Bertahan ini tidak cukup bermodalkan kemauan saja, namun sangat diperlukan kemampuan, pengetahuan dan keterampilan tentang SERE yaitu Survival, Evation, Resistance, Escape,” jelas  Kandep Matra AAU ini.

Masalah  besar SERE adalah minimnya kemampuan, pengetahuan dan perlengkapan. “Maka harus ada latihan. Kurang  latihan dalam menyiapkan diri terhadap ketiga hal tersebut, maka hasilnya akan serba kekurangan atau tidak maksimal. Dalam kondisi ekstrem ini mereka harus mampu mengatasi berbagai situasi, serta berusaha kembali menuju pasukan kawan atau di belakang garis pertempuran,” paparnya.

Misalnya  pada tahap penghindaran (evasion), tujuannya bukan lari dari musuh tetapi menghindar dari musuh bila posisinya tidak menguntungkan. Dan  kemudian mencari saat yang tepat untuk memukul musuh sehingga dapat mengurangi risiko jatuhnya korban dari pihak sendiri.

Dalam sesi survival, Karbol tingkat III (Sersan Mayor Dua Taruna) berada di tengah hutan atau di tengah alam air. Untuk bertahan hidup mereka memanfaatkan alam sekitar, tanpa menimbulkan kerusakan, namun tetap bisa melakukan komunikasi dengan pihak kawan. Sehingga, kawan dapat menerima kode dan memberikan bantuan maupun evakuasi. (wid)