Camilan Produk Pengasih Laku di Supermarket

361
Dwi Hariyani menunjukkan produk camilan di tempat usahanya. (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID —  Usaha di bidang apapun harus didukung oleh pemasaran. Artinya, publikasi berperan penting untuk mengenalkan suatu produk agar sesuai tuntutan pasar.

Hal itu diungkapkan Kabid Informasi dan Media Massa Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kulonprogo,  Sigid Purnomo, Rabu (18/04/2018), ketika mengajak wartawan melihat usaha rumahan di Cekekan Karangsari Pengasih.

Didampingi Kabid Perindustrian Disperindag Kulonprogo, Dewantoro, dia menyatakan pentingnya menjaga dan meningkatkan kualitas produksi sehingga usaha akan lestari.

Adapun usaha yang dikunjungi tersebut adalah produksi aneka makanan camilan Dwi888, yang memproduksi 18 macam camilan.

“Pulang dari Batam tahun 2012 saya mencoba menggoreng wader, saya jual di warung-warung di Temon, Wates, Panjatan, Galur, Pengasih dan lainnya,” ujar Misron pemilik usaha ini.

Kemudian dia mencoba rengginan dan rempeyek. Pada awalnya, usahanya tidak berjalan mulus. Banyak kendala dan rintangan.

Baca Juga :  Takmir Masjid Harus Jadi Penangkal Radikalisme

“Kerja keras harus saya lakukan. Kerja sejak sore menggoreng membungkus hingga jam tiga pagi. Kemudian pagi mengedarkannya ke warung dan pasar,”  tuturnya.

Kerja kerasnya tidak hanya itu. Ketika bahan baku habis dan uang belum ada, dia harus mendatangi semua warung untuk nagih. “Jualan di warung tidak langsung dibayar. Barang dibayar ketika sudah laku,” kata Misron.

Karena ingin berkembang, Misron dan istrinya Sri Dwi Hariyani datang ke Dinas Perindag Kulonprogo untuk mencari informasi potensi dan minta bantuan.

Misron kemudian mengembangkan berbagai jenis. Dia mengolah udang dan ikan tengiri menjadi kerupuk. Juga beberapa jenis daun berkhasiat jamu menjadi rempeyek.

Pekerja mengemas produk camilan. (sri widodo/koranbernas.id)

“Karena selalu berkomunikasi dengan dinas produk kami mendapatkan sertifikasi dari beberapa pihak. Dari BP POM,  dari Dinkes dan lainnya. Produk Dwi888 ini bisa masuk di supermarket dan toko modern di DIY,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pemancing Gurita Akhirnya Ditemukan 1 Km dari Lokasi Kejadian

Menurut Dwi Hariyani,  agar produknya banyak pembeli maka kualitasnya harus dijaga. “Untuk membuat kerupuk tengiri saya pakai satu kilogram ikan tengiri dan satu kilogram tepung. Bumbu ada sesuai selera pasar,” katanya.

Meski produknya diterima di pasar secara luas termasuk pasar modern, suami istri yang mempekerjakan enam tenaga kerja itu masih ingin maju.

“Keinginan saya usaha ini ada yang kerja di rumah ini dan ada yang menjual. Saya tinggal monitor saja,” ujarnya sambil tertawa.

Pasangan ini cukup kreatif. Semula memproduksi dengan tangan,  kini pakai mesin-mesin termasuk peralatan bantuan pemerintah.

“Ada yang membuat sendiri dan ada yang beli. Untuk pengering minyak saya pakai mesin cuci ini,” kata Dwi Hariyani. (sol)