Capres Harus Mampu Kuasai Generasi Milenial

142
Perwakilan guru menerima penghargaan tatkala Seminar Motivasi Nasional Entrepreneur Muda Membangun Bangsa, Sabtu (11/08/2018) di Jogja Expo Center (JEC). (istimewa)

KORANBERNAS.IDTrainer dan motivator muda nomor satu Indonesia, Syafii Efendi, mengingatkan calon presiden (capres) yang maju pada Pemilu 2019  harus mampu menguasai generasi milenial.

Alasannya, jumlah suara mereka sangat menentukan. “Pemuda Indonesia memiliki kekuatan budaya, ekonomi dan politik. Seluruh capres harus bisa menguasai generasi milenial, karena itu berarti akan menguasai 70 sampai 80 persen pemilih,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (11/08/2018).

Di sela-sela acara  Seminar Motivasi Nasional Entrepreneur Muda Membangun Bangsa, Sabtu (11/08/2018) di Jogja Expo Center (JEC), pengusaha yang juga penulis empat buku best seler serta penerima dua Rekor MURI Dunia itu menyatakan, pemimpin abad ke-21 harus punya tiga syarat.

Pertama, harus bicara data. Artinya pemimpin tidak boleh mengkhayal, apabila mengambil keputusan harus pakai data. Kedua, harus berpikir kritis. “Anak muda harus berpikir kritis,” terangnya.

Ketiga, memberi solusi. “Anak muda jangan hanya caci maki. Jangan hanya nonton tapi harus  berbuat sesuatu,” kata anggota Youth Islamic Forum, Perkumpulan Pemuda Muslim se-dunia yang berpusat di Turki itu.

Baca Juga :  Salib Yesus Beri Pengharapan Baru
Syafii Efendi. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Pada acara yang diselenggarakan oleh Wimnus (Wirausaha Muda Nusantara) bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta dan  BEM UST Yogyakarta ini, Syafii Efendi mengajak pemuda aktif menggerakkan ekonomi bangsa.

“Contoh kita launching program aplikasi handphone, digunakan untuk beli pulsa milik sendiri maupun tanpai harus lewat konter. Orang tidak banya yang mengetahui, setiap tahunnya uang sejumlah Rp 749 triliun lebih hanya habis untuk beli pulsa,” tambahnya.

Sebaliknya, marketnya dikuasai oleh orang-orang tertentu saja. ”Kita mencoba pemerataan ekonomi dapat terjadi. Hari ini satu persen orang Indonesia hampir menguasai 50 persen aset negeri ini,” tambahnya.

Ini merupakan pekerjaan rumah (PR) bagi semua pihak termasuk capres sekali pun. “Kalau misalnya Jokowi berteriak ingin mewujudkan keadilan sosial, bukan hanya sekadar jalan itu bagus. Tapi bagaimana caranya uang ini sampai di kantong penduduk kita masing-masing dengan nilai dan angka yang sama. Ini adalah PR,” kata dia.

Baca Juga :  Sarinto Siap Lakukan Perlawanan. Kenapa?

Kita bukan bicara tahu atau tidak tahu tapi tentang mau atau tak mau melaksanakan revolusi mindset.” Revolusi inilah yang belum digarap  Pak Jokowi,” ujarnya.

PR yang lain, sebagian besar orang tua tidak bisa menerima perubahan zaman. “Mereka tidak ingin anak-anak itu dijadikan entrepreneur. Orang tua tidak support, karena  menurut mereka PNS lebih  baik,” tambahnya.

Paradigma ini sudah ditanam selama 3,5 abad oleh Belanda dan kita tidak berani merevolusi ini. “Kita butuh anak muda  yang berani merevolusi pemikiran. Uang dan kekuasaan harus jatuh di tangan orang-orang yang baik,” tandasnya.

Seminar nasional tersebut selain diikuti perwakilan BEM se-Yogyakarta, juga dihadiri perwakilan guru se-Kota Yogyakarta, masih ditambah  lagi sekitar 1.300 pelajar dan pemuda se-Yogyakarta. (sol)