Cara Hindari Radikalisme, Ini Pesan Densus 26

250
Koordinator Densus 26, Ustadz Umarudin Masdar memberikan keterangan tentang penanganan radikalisme dan menghadang intoleransi di RM Bale ayu, Jalan Imogiri Timur, Kamis (22/02/2018). (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Munculnya kasus intoleransi dan radikalisme di tengah masyarakat yang akhir-akhir ini merebak, menjadi keprihatinan banyak pihak. Termasuk dari Pendidikan Khusus Ahlussunnah Waljamaah 1926 atau sering disebut Densus 26.

Mereka berharap ketika muncul kasus radikalisme atau intoleransi, masyarakat agar tidak main hakim sendiri karena sekarang banyak muncul provokasi termasuk di media sosial.

“Kalau ada provokasi seperti itu, apalagi yang kini banyak bermunculan di media sosial , masyarakat agar selalu tenang. Jangan mengambil tindakan sendiri manakala provokasi itu muncul, namun laporkan kepada aparatur terkait atau lakukan cek dan ricek kebenaran informasinya,” kata koordinator Densus 26 Ustadz Umarudin Masdar dengan didampingi para pengurus saat menggelar jumpa pers di RM Bale Ayu, Jalan Imogiri Timur, Kamis (22/02/2018).

Dalam jumpa pers mensikapi maraknya kasus intoleransi dan radikalisme ini, Ustadz Umar meminta agar di tengah masyarakat sistem keamanan mandiri dihidupkan lagi guna menghindari hal yang tidak diinginkan. Ketika ada pendatang baru ataupun ada tamu menginap agar melapor kepada RT sehingga semua terdata identitasnya.

“Sehingga jangan sampai ada orang tidak dikenal di lingkungan tempat tinggal kita masing-masing. Untuk menghindari radikalisme dan juga intoleransi di tengah masyarakat, ada hal lain yang kami harapkan yakni munculnya saluran terpadu dari pemerintah hingga tingkat dusun bahkan RT. Pusat informasi ini bisa menjadi pusat rujukan agar tidak ada informasi simpang siur di tengah masyarakat,” katanya.

Langkah lain tentu saja Densus 26 melakukan sosialisasi kepada berbagai pihak utamanya di kampus-kampus dan masjid wilayah perkotaan. Sebab berdasarkan penelitian LIPI dan Wahid Institute, pusat radikalisme diantaranya banyak muncul dari kampus dan masjid di perkotaan.

“Kami beberapa waktu lalu juga sudah menggumpulkan semua BEM di DIY. Tujuanya untuk memberikan pemahaman agar kampus terhindar dari kasus radikalisme dan intoleransi. Kita tanamkan Islam tradisional yang moderat tanpa meninggalkan tradisi sebagai bagian dari perjalanan Islam di tanah air. Kita tanamkan nilai Islam yang Rahmatan Lil Alamin,” tandasnya.

Diharapkan dengan penanaman nilai tersebut, mampu meredam bibit-bibit radikalisme. Karena Islam yang melebur dengan tradisi, akan terasa lebih soft dan bisa diterima di banyak kalangan.

Selain pemahaman di kampus dan masjid utamanya perkotaan, Densus 26 juga melakukan kegiatan pelatihan Dai dan takmir masjid yang menguatkan tradisi. Karena Islam di Indonesia memang tidak bisa dipisahkan dengan tradisi di tengah masyarakat. Bukan Islam yang kaku.

Densus 26 juga melakukan pencermatan terhadap sekolah yang sudah tidak mau mengibarkan bendera dan menghormatnya. Bisa dipastikan bibit radikalisme tumbuh di sekolah tersebut. Mereka kemudian akan memberi masukan kepada pemerintah terkait.

“Kami menilai Inilah pentingnya dihidupkan lagi penataran P4 di sekolah-sekolah. Dengan demikian dasar negara Pancasila dan cinta tanah air akan tertanam dalam diri siswa di seluruh Indonesia,” tambahnya.

Pihaknya juga meminta kian mendekatinya Pemilu ataupun Pilkada agar sentimen agama tidak dimunculkan ke permukaan. Karena hal tersebut tidak mendidik secara politik dan tidak mendidik kerukunan agama yang baik. (yve)