Cerita Syafii Maarif Temui Suliyono 30 Menit di Rumah Sakit

1079
Didampingi anggota DPR RI Esti Wijayati, Buya Syafii Maarif menerima Nawala Katresnan dari Gemayomi, Sabtu (17/02/2018), di  Gedung Suara Muhammadiyah Jalan KHA Dahlan Yogyakarta.

KORANBERNAS.ID — Anggota Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), Prof Syafii Maarif, punya cerita tersendiri ketika menemui pelaku teror Gereja ST Lidwina Bedog Sleman.

Cerita itu disampaikannya, Sabtu (17/02/2018), di Gedung Suara Muhammadiyah Jalan KHA Dahlan Yogyakarta, pada acara Silaturahmi ke Guru Bangsa Buya Syafii Maarif.

Di hadapan elemen Gemayomi (Gerakan Masyarakat Yogyakarta Melawan Intoleransi), Syafii Maarif mengakui sangat kasihan dengan Suliyono. Selain berasal dari keluarga miskin, dia juga sepertinya menjadi korban karena kebodohannya.

“Saya setelah dari gereja ke Rumah Sakit Bhayangkara dan diizinkan bertemu Suliyono. Anak ini korban kedunguan dan kebodohan. Dia gunakan dalil agama dan memahami ayat untuk melaksanakan teologi maut,” ungkap Buya Syafii.

Itulah sebabnya dia mendorong institusi kepolisian memiliki ahli-ahli agama sehingga saat menghadapi kejadian seperti itu tidak kerepotan.

Mantan Ketua PP Muhammadiyah itu lebih lanjut mengatakan, saat bertemu selama sekitar 30 menit itulah dia melihat kondisi Suliyono seperti kebingungan, antara ingin pulang ke rumah dan rindu mati. “Dia bingung. Mesakke. Kita melihatnya kasihan,” tuturnya.

Beruntung, kata dia, Suliyono ditembak oleh seorang polisi senior yang akan pensiun tahun depan. “Jika ditembak oleh polisi muda mungkin dia (Suliyono) sudah mati dan kita semua kehilangan jejak,” kata Buya Syafii menyampaikan apresiasinya untuk kepolisian.

Menurut dia, Suliyono hanyalah satu orang dari sekian banyak orang di Indonesia korban ideologi rongsokan yang diimpor dari Timur Tengah.

Sudah banyak bukti negara-negara di sana hancur karena ideologi rongsokan itu. “Ini rongsokan yang diimpor dan celakanya di sini ada yang beli,” kata Syafii Maarif.

Lebih celaka, barang yang sebenarnya sudah jadi rongsokan di sana, dianggap barang berharga di sini. Ironisnya lagi, ada yang dengan sengaja memanfaatkannya untuk kepentingan politik.

Buya Syafii Maarif foto bersama usai acara Silaturahmi ke Guru Bangsa Buya Syafii Maarif.

Kenapa rongsokan jadi barang berharga? Menurut Syafii semua itu karena  kemiskinan, ketidakadilan dan ketimpangan. Dia kemudian menggambarkan satu persen orang Indonesia menguasai 50 persen jumlah kekayaan nasional.

Ideologi itu tidak lebih dari daki atau kotoran peradaban, ibarat kebudayaan sampah yang dimanfaatkan oleh politisi busuk, sehingga terjadilah carut marut seperti ini.

Sebenarnya, lanjut dia, tidak hanya agama Islam saja yang jadi sorotan. Semua agama di Indonesia menjadi sorotan dan kebetulan kejadian yang terakhir ini Islam jadi sorotan.

Syafii sepakat, semua agama tidak mengajarkan hal seperti itu. Jika saja Suliyono memahami Islam adalah agama rahmatan lil alamin maka tidak akan terjadi hal seperti itu.

Menurut Syafii, sebenarnya bukan hanya mahasiswa yang jadi korban ideologi rongsokan. Dia heran ada pula dosen ikut jadi korban.

Dengan banyaknya kejadian seperti itu, dia mengatakan, ke depan bangsa Indonesia tidak boleh berputus asa sebagai bangsa  yang akan mencerahkan peradaban dunia.

Menjawab  pertanyaan dari perwakilan mahasiswa, Prof Syafii Maarif menyemangati mereka supaya jangan lari dan jangan diam tetapi terus berbuat.

Menurut Buya Syafii, mahasiswa saat ini memang tidak lagi kebal. Mau tidak mau  mereka harus meningkatkan kepekaan literasi. “Jangan hanya bertanya pada google,” ujarnya disambut tawa para peserta yang sebagian besar mengenakan busana Jawa, siang itu.

Ditanya wartawan soal peristiwa serupa yang menimpa biksu dan ulama apakah ini ada kaitannya dengan politik, Syafii Maarif menegaskan semua pihak jangan lantas meraba-raba.

“Suliyono itu ngakunya ke saya tidak anti dengan polisi. Bahkan dia menyesal. Jadi, tuntaskan dulu apakah dia pemain tungggal atau muncul faksi baru. Ini tidak sederhana. Mereka adalah penganut ideologi maut,” tandasnya.

Syafii Maarif menyampaikan kata sambutan pada acara silaturahmi.

Nawala Katresnan

Dalam kempatan itu, Gemayomi yang terdiri dari 36 elemen di bawah koordinator Prof Dr M Mukhtasyar Syamsuddin M Hum dan Sekretaris Giharu Si Perempuan Gunung, menyerahkan Nawala Katresnan untuk Guru Bangsa Buya Syafii Maarif.

Selain dibacakan dalam bahasa Jawa lalu diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Nawala yang ditulis di kayu tersebut diberikan kepada Syafii Maarif.

Tampak mendampingi, anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) DIY Esti Wijayati dan anggota DPRD DIY Chang Wendyarto.

Pada intinya, nawala tersebut merupakan bentuk penghargaan kepada Syafii Maarif. Mukhtasyar Samsuddin menyampaikan, ada lima poin penting dari Gemayomi untuk Guru Bangsa Syafii Maarif.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Guru Bangsa Buya Syafii atas dedikasi beliau yang telah mengayomi semua golongan. Kami mendukung dan meneladani Buya Syafii Maarif sebagai sosok sejarawan dan cendekiawan yang senantiasa memperjuangkan masyarakat inklusif. Ungkapan terima kasih dan apresiasi ini kami lampiaskan dalam bentuk Geguritan Nawala Katresnan Katur Buya,” kata Mukhtasyar Samsuddin soal poin pertama itu.

Kedua, menegaskan bahwa  Buya Syafii tidak sendiri. Gemayomi bersama masyarakat Indonesia akan terus  berjuang bersama menjadikan keberagaman sebagai rahmat dalam pembangunan, bukan sebaliknya menjadi pemecah belah sekaligus menyikapi berbagai persoalan yang berpotensi mencederai rasa keadilan, kebangsaan dan kemanusiaan yang akhir-akhir ini secara beruntun terjadi di berbagai daerah.

Ketiga, Gemayomi menegaskan keberanian Buya Syafii Maarif adalah harapan masa depan untuk bangsa untuk membahagiakan semua warga negara.

“Usaha-usaha beliau harus ditanggapi secara serius melalui penguatan keterlibatan masyarakat secara aktif dan bersinergi untuk mendorong perubahan konstruktif khususnya masyarakat Yogyakarta dan Indonesia secara umum,” ujarnya.

Pada poin keempat, Gemayomi mendorong pemerintah mendukung usaha-usaha badan pembinaan ideologi Pancasila agar melakukan terobosan program-program yang  strategis, terukur dan implementatif.

Kelima, Gemayomi berharap menjadi koalisi ormas-ormas di DIY yang terus menyulam pilar-pilar kemajuan DIY dan Indonesia yang beradab dan berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, serta melawan segala bentuk intoleransi yang melukai kebhinnekaan di Republik ini.

Gemayomi yang beralamat di Jalan Soragan Tegalrejo Yogyakarta itu anggotanya berasal dari berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang  perbedaan suku, agama, ras dan antargolongan.

Gemayomi murni gerakan masyarakat yang bertekat mempertahankan masyarakat Yogyakarta yang toleran demi keberlanjutan NKRI yang berlandaskan ideologi Pancasila. (sol)