Cerita tentang Guru yang Bergaji Rp 150 Ribu

1367
Anggota DPD RI M Afnan Hadikusumo (kiri) menjadi narasumber FGD Guru dan Problematika Profesionalitas, Senin (11/06/2018), di Kantor DPD RI DIY Jalan Kusumanegara. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Di balik gegap gempita Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan, terselip ironi rendahnya gaji guru tidak tetap. Dengan kerelaannya mereka tetap mengajar meski fasilitas yang diterimanya relatif sangat jauh dari ukuran cukup.

Fakta yang terjadi beberapa tahun silam itu terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema Guru dan Problematika Profesionalitas, Senin (11/06/2018), di Kantor DPD RI DIY Jalan Kusumanegara 110 Yogyakarta.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, M Afnan Hadikusumo, menceritakan kenyataan tersebut di hadapan peserta diskusi. “Saya temukan fakta, di sebuah TK di daerah Wirobrajan Kota Yogyakarta,” kata Afnan.

Cucu dari Pahlawan Nasional Ki Bagus Hadikusumo itu sempat terkejut. Waktu itu, dirinya datang untuk memberikan bantuan. Dia mendapati ada seseorang sedang membersihkan ruang kelas.

“Di situ saya melihat ada yang sedang bersih-bersih kemudian saya tanya ini petugas kebersihan dari mana? Ooo.. ternyata guru. Masuk kerja jam 06:30. Kemudian saya tanya gajinya berapa?” ungkap Afnan yang kemudian memperoleh jawaban angka kisaran Rp 150-an ribu per bulan.

Baca Juga :  Polisi Awasi Genk Remaja
Peserta FGD menyampaikan gagasan dan masukan seputar problematika dunia pendidikan. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Dari situlah kemudian dia bersemangat membantu dan memperjuangkan GTT dan PTT agar memperoleh insentif dari Pemerintah DIY. Perjuangan  tersebut berhasil, mereka kemudian menerima tunjangan. “Tunjangannya Rp 1,2 juta, tapi itu selama setahun,” kata Afnan Hadikusumo.

Meski cerita tersebut sudah bertahun-tahun silam, namun menyulut, dalam tanda kutip, kegeraman Prof Suyanto Ph D yang juga menjadi narasumber pada diskusi kali ini bersama Drs St Kartono M Hum (guru dan dosen) serta Kristianti mewakili Erbagtyo Rohan SH MH selaku Kajati DIY.

Prof Suyanto yang pernah menjabat Dirjen Dikdasmen 2010-2013 ini sempat berujar gaji sebesar itu bagi seorang guru sama artinya merendahkan martabatnya. Bandingkan dengan gaji seorang pembantu rumah tangga mencapai angka Rp 1 juta per bulan.

“Itu yang membuat pendidikan tidak menjadi baik. Mudah-mudahan para guru yang digaji 150 ribu itu kalau berdoa manjur,” ujarnya setengah bercanda.

Baca Juga :  UIN Suka Diskriminatif !

Dari forum diskusi sekaligus launching Majalah PUNDI, banyak terlontar  pertanyaan seputar dunia pendidikan di DIY antara lain soal guru yang terjangkiti “loyoisme”, tangisan para guru maupun terjadinya penumpukan golongan IV.

Dalam paparannya, St Kartono menyoroti fenomena les di luar sekolah. Salah satu indikasi keberhasilan sekolah adalah anak didiknya tidak lagi mengikuti les di luar sekolah.

“Aneh, sekolah kok masih ada les. Sekolah seperti perguruan silat. Ada sepuluh jurus tapi yang dibagikan delapan jurus, yang dua jurus disimpan,” katanya sambil bercanda.

Berbagai masukan dari para pelaku pendidikan ini, menurut Afnan Hadikusumo, merupakan bagian dari evaluasi dan dirinya siap menyampaikannya ke kementerian terkait di Jakarta, termasuk soal sertifikasi untuk kesejahteraan guru kenapa yang dipikirkan hanya yang lulus sertifikasi. (sol)