Daftar Kekancingan kok 4.600 meter persegi

216
Bupati Hasto Wardoyo bersama penghageng Pura Pakualaman dalam sebuah pertemuan di Desa Kedundang.

KORANBERNAS.ID — Tanah Paku Alam Ground (PAG) konon dahulunya tidak selalu dimanfaatkan abdi dalem atau kerabat keturunan. Terutama di pesisir, asal seseorang memasang pathok di sebidang tanah, langsung bisa diaku menjadi hak milik.

Bayudono, salah satu kerabat Pura Pakualaman menjelaskan, untuk dapat menguasai tanah PAG hingga berkuatan hukum, syarat utama adalah harus memegang surat kekancingan, yaitu sertifikat tanah yang dikeluarkan Kadipaten Paku Alam. Dalam kekancingan hanya diberikan dengan luasan tertentu yang terbatas.

Hal tersebut diungkapkan Bayudono ketika datang di Balai Desa Kedundang Kecamatan Temon guna mengklierkan tanag PAG yang diserahkan untuk relokasi warga terdampak bandara.

“Kemarin ada warga keturunan Paku Alam VI yang mengajukan permohonan kekancingan untuk menguasai tanah seluas 4.600 meter persegi. Ya jelas itu tidak mungkin dikabulkan, kekancingan itu paling (luas) hanya 200 meter persegi saja. Saya saja yang ngurusi tidak punya kok, ” ujar Bayudono kepada wartawan di Kedundang Kecamatan Temon.

Baca Juga :  Sekjen Golkar Tak Boleh Punya Agenda Tersembunyi

Bayudono mengungkapkan, kedatangannya ke Kedundang untuk menyerahkan sertifikat tanah PAG kadipaten kepada Pemkab Kulonprogo, untuk relokasi warga terdampak bandara. “Warga terdampak yang menempati (tanah), besok (statusnya) sebagai magersari. Kita siapkan kekancingan atas nama orang per orang, sehingga warga tidak perlu khawatir ada yang mengganggu gugat,” ujarnya.

Tanah kekancingan yang diperuntukkan bagi relokasi tersebut adalah yang diajukan oleh orang per orang untuk dikuasai sendiri. Bayudono berpesan, penggarap tanah PAG agar tidak ditelantarkan.

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo menyatakan, tanah PAG untuk relokasi di Kedundang  total ada sekitar 6.000 meter persegi. Nantinya akan dibangun 50 unit rumah dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR). Di antaranya 48 untuk warga terdampak dan dua lagi untuk warga penggarap tanah PAG.

“Kita juga siapkan sarana prasarana pendukungnya seperti jaringan listrik dan air bersih,” ujar Hasto.

Lebih lanjut Hasto mengakui, semula relokasi akan menggunakan tanah PAG yang ada di Kaligintung. Namun setelah diselidiki tanah di sana sertifikatnya masih atas nama Paku Alam VIII, sehingga kemudian memilih lokasi di Kedundang yang sertifikatnya atas nama Kadipaten Pakualaman.

Baca Juga :  Outbound dengan Tank Berujung Musibah, Dua Orang Meninggal

Purwa Sugiyanta, salah seorang pengguna tanah PAG menyatakan. menerima kebijaksanaan Pemkab Kulon Progo. “Saya kan tidak punya hak, karena tidak memegang kekancingan. Namun kami sekeluarga sudah bertahun tahun sejak kakek nenek kami menempati tanah itu. Makanya ya saya manut saja direlokasi,” ujar pensiunan PNS Kejari Wates tersebut.

Menurut Purwa Sugiyata, selama ini dirinya memiliki sebidang sawah dengan luas 1.000 meter yang digarap untuk membiayai hidup ibunya. Namun, setelah menempati lahan relokasi ibunya berencana membuka warung di rumah relokasi pengganti usaha sawah.

Lebih lanjut pria yang akrab disapa Pur itu mengatakan, warga yang mengajukan kekancingan seluas 4.600 meter itu adalah saudaranya. (ros)