Dari 100 Kelahiran, 37 Bayi Masa Depannya Suram

103
Deputi Bidang KSPK BKKBN Pusat memukul gong sebagai tanda pembukaan acara temu regional.  Turut mendampingi Wagub DIY, Kepala Kantor Perwakilan BKKBN DIY dan tiga  direktur di BKKBN Pusat. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Saat ini terdapat 37 persen dari 100 bayi lahir hidup dengan masa depan suram. Penyebabnya adalah terganggu perkembangan otak maupun fisiknya.

Selain itu, masa produktif mereka juga terganggu. Saat menjadi lansia kelak pun mereka lima kali lebih besar terkena risiko jantung koroner dibanding anak-anak yang lahir normal.

Warning tersebut disampaikan Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Pusat, Dr dr Yani Mkes, saat memberikan materi pertama pada pembukaan Temu Regional Program Pembangunan 1000 Hari Kehidupan Pertama dan Evaluasi bagi 100 Kabupaten-Kota, Kamis (23/09/2018) malam, di Hotel Santika Yogyakarta.

Untungnya para ahli mampu menemukan solusinya sehingga 80 persen anak dengan risiko tersebut mampu lahir sehat fisik meski tidak pada perkembangan otaknya.

Masalahnya tidak mudah menemukan anak stunting tersebut karena tidak semua anak lahir terpantau. Meskipun sebenarnya apabila ibu yang punya Batita rajin menimbangkan anaknya di Posyandu  Balita maupun di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), jika ada ketidakberesan dalam timbangan badan, ukuran lingkar kepala dan lain-lain bisa segera terpantau dan segera ditangani.

Baca Juga :  Nekat, Warga Jual Raskin. Keuntungan Rp 4.500 perkilo

Stunting tidak hanya disebabkan gizi buruk meski itu yang utama, tetapi juga karena pola asuh yang salah maupun lingkungan yang tidak baik.

“Anak stunting tidak hanya muncul dari keluarga miskin. Tetapi juga bisa muncul pada keluarga kaya karena sebab-sebab di atas,” kata Dr Yani.

Karenanya setiap keluarga harus memberikan perhatian sejak ibu hamil, janin masih dalam kandungan sampai anak berusia dua tahun.

Asupan gizi dan vitamin sejak ibu hamil, pemberian ASI sampai anak usia dua tahun harus menjadi perhatian utama. Ditambah perilaku hidup sehat termasuk imunisasi sesuai perkembangan usia yang dianjurkan.

Hal ini masuk program prioritas mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia menunjang pembangunan bangsa secara maksimal.

Mengingat pentingnya program penanganan stunting ini, ke depan akan ditambah lagi dengan 60 di kabupaten kota sehingga jumlahnya menjadi 160.

Tari Golek Ayun-ayun membuat suasana pembukaan jadi terasa bernuansa Jogja. (arie giyarto/koranbernas.id)

Dia juga mengingatkan kondisi anak-anak seperti itu tidak hanya terjadi di kantung-kantung stunting. Data yang akurat sangat diperlukan terutama yang tercatat oleh Petugas Lapangan KB yang familier dengan kondisi wilayah kerjanya.

Baca Juga :  Buat Games Sendiri ? Cuma Butuh 30 Menit

Termasuk Rumah Dataku di Kampung KB juga harus lengkap dan akurat. Diharapkan persoalan yang muncul di tingkat lapangan harus bisa segera ditangani.

Di tingkat pusat penanganan stunting melibatkan 11 kementerian dan lembaga di bawah koordinasi Wakil Presiden.

Aplikasi di lapangan melibatkan provinsi, kabupaten dan kota serta masyarakat sampai tingkat dusun. Dari temu regional tersebut diharapkan ada masukan untuk penyempurnaan program 2019.

Sementara itu Direktur Bina Keluarga dan Anak BKKBN Pusat Dra Evi Ratnawati  menyatakan, temu regional ini diikuti para Kepala Kantor Perwakilan BKKBN se-Indonesia serta petugas penanganan stunting di 100 kabupaten kota. Selama empat hari, peserta menerima materi antara lain dari Bappenas, LAN serta para pakar di bidang ini.

Suasana pembukaan berlangsung “Yogya banget” dengan suguhan tarian Golek Ayun-ayun sebagai tarian selamat datang.

Peserta yang datang dari 100 kabupaten kota ini tampak sangat menikmati tari yang dibawakan empat penari lemah gemulai. (sol)