Dari Daun Segar Tercipta Batik yang Indah

1499
Hastin Sholikhah melepas daun yang menempel di kain setelah proses pengukusan kain dan membentuk motif batik. (bid jalasutra/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Karya batik Hastin Sholikhah (27) warga Padukuhan Jangkang Nogotirto Kecamatan Gamping Sleman ini patut diacungi jempol, karena idenya memanfaatkan daun segar menjadi motif batik yang indah.

Ya, semua kain batik yang dipajang di rumahnya bermotif taburan berbagai macam daun. Sepintas memang tidak akan menyangka motif taburan daun itu dibuat menggunakan daun-daun asli yang masih segar.

Ide usaha kreatif Hastin, alumnus Jurusan Tekstil Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tersebut diberi nama Kaine. Hastin pun berkisah tentang usaha yang dirintisnya sejak Januari 2017.

“Ini merupakan teknik eco print batik yaitu teknik pengolahan kain menggunakan perwarna alami, tidak menggunakan kimia. Motifnya natural yaitu daun-daunan, batang daun dan bunga-bunga,” kata Hastin, Selasa (21/11/2017).

Ide menggunakan teknik eco print tercetus lantaran pewarna kimia dapat mencemari air tanah, terlebih lingkungan sekitar rumahnya merupakan persawahan dan kolam ikan.

“Pewarna kimia limbahnya bisa terserap ke sawah dan berpengaruh pada air tanah di sekitar tempat tinggal saya,” terangnya.

Selain itu, ada pula beberapa kulit manusia yang sensitif dengan pewarna kimia sehingga berbahaya bagi kesehatan.

Menurut Hastin ada berbagai jenis daun digunakan untuk motif batik produknya. Sebut saja daun jati, jarak, ketapang, ekor kucing, daun lanang, kulit bawang bombai,  kunyit dan secang.

Baca Juga :  PKS Muda Turun ke Pasar Bersihkan Sampah

Batik buatan Hastin spesial karena pola yang digunakan abstrak, hasilnya setiap batik satu dengan lainnya berbeda.

“Tahun ini penelitiannya (daun-daun yang digunakan) masih terus berkembang. Yaitu daun muda yang pigmennya belum hilang. Kainnya harus berserat, seperti sutera, agar bisa menempel warnanya,” tuturnya.

Daun-daun yang digunakan juga mudah diperoleh dari lingkungan sekitar. “Di sini masih desa, jadi masih banyak bahan baku daun untuk motif batik,” kata Hastin.

Hastin Sholikhah menempel daun untuk motif batik. (bid jalasutra/koranbernas.id)

Dia mengungkapkan proses awal pembuatan batik dimulai dari menghilangkan kanji yang ada di kain dengan cara direndam pakai tawas.

Setelah itu kumpulkan daun untuk ditata di lembaran kain, digulung dan pres kain tersebut agar warna daun keluar. Kemudian dilanjutkan pengukusan atau perebusan selama dua jam.

“Perebusan atau pengukusan sekitar satu sampai dua  jam terus  didiamkan semalam baru kemudian bisa dibuka kainnya untuk mengambil daun-daunnya,” jelas Hastin.

Kendalanya, jika musim kemarau susah. “Nggak maksimal capnya karena daunnya kering,” tambahnya. Kain-kain yang dihasilkan Hastin ada yang dijual langsung maupun dijahit terlebih dahulu.

Pameran

Kain batik karya Hastin tersebut dijual Rp 400 ribu per 2,5 meter, sementara kerudung sutera dijual Rp 100 ribu dan Rp 400 ribu. Kain batik Hastin juga dipasarkan via online.

Hastin rutin mengikuti pameran yang digelar Disperindag Sleman. Bahkan kainnya pernah digunakan di event Jogja Fashion Week (JFW) beberapa waktu lalu.

Baca Juga :  Aparat Perketat Pengamanan Gereja Ganjuran

Pameran menjadi salah satu cara bertemu dengan konsumennya. “Jadi ikut di Dinas Perindustrian dan Perdagangan, itu suka ada fasilitas pameran. Nah, dari situ saya juga mendapatkan customer,” ungkap Hastin.

Hastin memilih media sosial Instagram untuk memperluas pangsa pasarnya.  Melalui kedua model pemasaran ini, konsumen tersebar tak hanya di Indonesia tetapi hingga luar negeri seperti Singapura dan Jepang.

Omzetnya terbilang cukup besar untuk usaha yang baru saja ia mulai, yakni sekitar Rp 4-5 juta per bulan. Omzet ini bisa bertambah apabila mengikuti pameran. Sebab, ia akan menambah stok produksinya tidak hanya 20 kain, seperti yang ia hasilnya tiap minggunya.

Hastin meyakini usahanya terus berkembang. Oleh karena itu, ke depan dia terus melakukan penelitian terhadap daun-daun lain yang kiranya mengandung zat tanin sehingga bisa menjadi motif baru di kain buatannya. (sol)