Dari Kumpulkan Uang Receh Beli 16 Mobil Ambulans

587
Ketua LAZISNU DIY Mamba'ul Bahri S Th I (kiri) foto bersama narasumber Dyah R Andayani dari BAZNAS Pusat. (dwi suyono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Uang receh kadang-kadang diabaikan bahkan lebih tragis lagi sering disingkirkan begitu saja. Ternyata uang receh memang tidak boleh dianggap remeh.

Ini terbukti dari hasil pengumpulan uang receh yang dilakukan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY melalui LAZISNU DIY, berhasil terbeli 16 unit mobil ambulans.

“Hasilnya yang sudah kami rasakan saat ini, khusus untuk Kabupaten Bantul saja dalam waktu empat bulan kami bisa membeli 16 mobil ambulans senilai rata-rata Rp 215 juta per unit,” ungkap Mamba’ul Bahri S Th I, Ketua LAZISNU DIY, Sabtu (22/09/2018) malam.

Kepada wartawan di sela-sela acara Capacity Building Nucare LAZISNU Se-DIY yang berlangsung dua hari di Dolandesa Kulonprogo, dia menyampaikan pengumpulan uang receh atau koin tersebut merupakan program Kotak Infak NU atau Koin NU.

“Saat ini kami memang sedang fokus pada pengelolaan Kotak Infak NU se-DIY. Dalam waktu 4 sampai 6 bulan ini, sudah terkumpul sekitar 43 ribu kotak infak. Kami titipkan warga. Di rumah-rumah dan kepada siapa pun yang mau dititipi,” katanya.

Memang, Koin bisa diartikan sebagai uang receh tetapi juga bisa berarti Kotak Infak. “Kota infak itu bisa diisi uang receh tetapi juga boleh diisi uang pecahan besar Rp 100 ribu atau Rp 20 ribu, ndak masalah,” tambahnya.

Bantul memang menjadi contoh sukses Koin NU. Saat  ini, LAZISNU menggarap wilayah lain yaitu Kulonprogo. Kira-kira sudah tersebar 11 ribu kotak infak di kabupaten tersebut.

Kemudian Sleman dan Gunungkidul masing-masing tercatat ada 5 ribuan kotak infak, sedangkan Kota Yogyakarta baru tersebar sekitar 2 ribuan kotak infak.

Menurut Mamba’ul Bahri, inilah bukti kekuatan uang receh yang tidak boleh diremehkan. “Ternyata seperti itu. Dengan 43 ribu kotak infak khusus Bantul saja dalam waktu satu bulan terkumpul tidak kurang Rp 450 juta,” kata dia.

Bahkan sampai hari ini, saat kendaraan itu baru saja keluar dari dealer kemudian di-branding LAZISNU, mobil ambulans tersebut tidak pernah berhenti beroperasi. “Setiap hari ngantar pasien. Gratis,” tandasnya.

Baca Juga :  Medsos Bikin Warga Lebih Rukun

Ke depan, pengelolaan Koin NU dilakukan upgrading supaya manfaatnya betul-betul dirasakan oleh masyarakat.

Itu sebabnya pada acara tersebut, LAZISNU DIY mengundang pengurus Majelis Wilayah Cabang (WMC) NU dari 78 kecamatan se-DIY. Masing-masing kecamatan mengirimkan dua orang wakilnya.

“Mereka kami datangkan ke sini untuk mengikuti upgrade pengurus LAZISNU se-DIY terkait dengan pengelolaan dana infak, zakat dan shadaqah. Program ini untuk menata manajemen di lapangan supaya kinerjanya lebih bagus dan targetnya tercapai,” paparnya.

Target yang dimaksud adalah dana dari masyarakat harus dikelola secara baik dan manfaatnya betul-betul dirasakan oleh masyarakat.

Mamba’ul Bahri mengakui potensi zakat, infak dan shadaqah di DIY sangat besar. Cuma persoalannya, kesadaran masyarakat perlu edukasi lebih serius lagi.

“Zakat ini kan masih banyak disalurkan sendiri-sendiri otomatis tidak melalui program. Bedanya ketika melalui LAZISNU maka disalurkan melalui program terencana.  Misalnya untuk kegiatan produktif bergulir sehingga pada akhirnya uang itu tidak habis sekali pakai, ibaratnya kita berikan kail bukan ikan,” jelasnya.

Kegiatan bergulir bisa berupa ternak kambing, ternak ayam  maupun pendampingan produksi keripik. Ke depan, juga bisa diwujudkan dalam bentuk BMT.

Saat ini memang era digital. Mau tak mau LAZISNU DIY masuk ke sana. “Kita juga mengarah ke sana. Kami mendatangkan dari BAZNAS pusat untuk memberikan pengarahan terkait akuntansi, dari PP LAZISNU terkait digital dan metode fundrasing melalui medsos,” tambahnya.

Ketua LAZISNU kabupaten/kota se-DIY menyampaikan paparannya pada acara Capacity Building Nucare LAZISNU Se-DIY, Sabtu (22/09/2018) malam. (dwi suyono/koranbernas.id)

Setelah mobil ambulans di Bantul targetnya terpenuhi menjadi 17 unit sesuai jumlah kecamatan di kabupaten itu, lanjut Mamba’ul, LAZISNU DIY berencana membangun rumah sakit.

“Sedang kami hitung berapa biayanya, yang jelas dari MWC sudah mengarah ke sana untuk kegiatan yang produktif, karena bagaimana pun kita harus berpikir dana ini tidak hanya untuk konsumtif, sekali pakai habis. Kita harus berpikir uang itu bisa bergulir,” ujarnya.

Baca Juga :  Mahasiswa Asing Tertarik ke UAD, Ada Apakah ?

Salah seorang peserta, Ahmad Ponidi dari MWC NU Pleret Bantul mengakui manfaat program Koin NU. Dia berharap manfaatnya makin meningkat dan bertambah luas.

Namun demikian dia mengakui masih ada kendala di lapangan. “Tidak semua warga sadar akan fungsi zakat untuk membantu saudara yang membutuhkan,” kata dia.

Potensi zakat, infak dan shadaqah di Kecamatan Pleret sangat besar namun belum maksimal. Ini karena faktor kurangnya penggerak zakat.

“Koin NU di Pleret,  alhamdulillah, walau di awal ada kendala namun sekarang bisa jalan. Koin NU ini untuk kemaslahatan umat,” ujarnya.

Prinsipnya dia sangat setuju keberadaan mobil ambulans gratis LAZISNU melayani seluruh warga negara Indonesia tanpa memandang agama.

Di tempat yang sama, Dyah R Andayani dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznaz) Pusat sangat mengapresiasi program Koin NU.

“Potensi di NU sangat luar biasa besar dan maju bahkan sampai tingkat ranting. Dari pengumpulan koin sudah bisa untuk membeli 16 mobil ambulans,” ungkapnya.

Dia optimistis kesuksesan program Koin NU di Bantul bisa jadi model di daerah lain. “Bisa, sepanjang kemampuan manajemennya ditingkatkan dan harus banyak dipublikasi sehingga orang menjadi percaya,” tandasnya.

Sekretaris LAZISNU DIY Maulana Fiqi Ilhami ME menyampaikan pada acara Capacity Building Nucare LAZISNU Se-DIY kali ini juga diundang Ketua PWNU DIY Prof Dr Nizar Ali MA.

Sedangkan paparan terkait Manajemen dan Akuntansi Zakat disampaikan oleh Dr Arifin Purwakananta dari Deputi BAZNAS Pusat, kemudian dilanjutkan motivasi oleh Dr Achmad Sudrajat selaku Ketua PP Nucare LAZISNU.

Tak ketinggalan, Ketua LAZISNU dari lima kabupaten/kota se-DIY yaitu H Ali Kusno SE (Bantul), Slamet Riyadi SPd (Gunungkidul), Alfanuha Yushida MP Mat (Kulonprogo), Zaenal Abidin S Ag (Sleman) dan Muftihul Umam SAg selaku Ketua LAZISNU Kota Yogyakarta, menyampaikan paparannya di hadapan 150 lebih peserta.

Semua rangkaian acara tersebut ditutup oleh Wakil Ketua PWNU DIY, H Fahmy Akbar ldries MM. (sol)