Dari Sampah Hasilkan Rupiah

290
Warga Dusun Sabrang mengikuti pembinaan pengelolaan sampah, Kamis (16/11/2017). (istimewa)

KORANBERNAS.ID – Jangan anggap sepele sampah. Apabila dikelola secara benar, ternyata barang yang dianggap tidak berguna itu bisa menghasilkan rupiah. Inilah yang dilakukan warga Sabrang Giripurwo Kecamatan Girimulyo Kulonprogo. Melalui Bank Sampah “Sastra” warga di dusun ini bisa memperoleh tambahan penghasilan.

Sekretaris  Paguyuban Sastra (Sabrang,  Sehat,  Sejahtera), Dwi Suprihatin Rayahu, mengakui pihaknya sempat pesimistis Bank Sampah Sastra yang dirintis bersama PKK Dusun Sabrang itu bisa berjalan.

Di luar dugaan, setelah dibuka tempat pembelian  sampah di rumah Wagimin pada 17 September 2017,  ternyata sambutan masyarakat sangat baik. Kali pertama, sejumlah 37 warga Sabrang dan dusun di sekitarnya menjual sampah sebanyak  180 kg  senilai Rp 350.000.

Minggu Kliwon berikutnya pada 22 Oktober 2017  sebanyak 180 kg senilai Rp 188.335, terdiri dari kertas, kaca, plastik dan besi.

Pada Kamis (16/11/2017), Bank Sampah Sastra resmi dilaunching bersamaan digelarnya acara pembinaan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) DIY. Hadir antara lain Camat Girimulyo, Purwono, Kepala Puskesmas Girimulyo, Drg Lia Desire Octarina, Kepala Desa Giripurwo, Mardi Santosa, serta Dukuh Sabrang, Piyana.

Dwi Suprihatin Rayahu menjelaskan, pendirian bank sampah untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat. Masih ada warga membuang sampah seenaknya di lingkungan rumah kemudian membakarnya, sehingga mengganggu pemandangan dan mencemari lingkungan.

Adapun semboyan Bank Sampah Sastra yaitu sampah di rumah jadi masalah, di bank sampah jadi rupiah, di  Paguyuban Sastra jadi jariyah.

Drs Jito selaku Kasubbid Pengembangan SDM dan Kelembagaan BLH DIY sekaligus narasumber Pembinaan Pengelolaan  Bank Sampah Sastra Sabrang menyampaikan, tidak mudah mengubah perilaku hidup masyarakat dengan membuang sampah  di tempat semestinya.

“Asal ada kemauan dan kesadaran, tidak ada alasan  perilaku  yang salah itu bisa berhasil diubah,  dimulai dengan hal yang kecil atau dari diri sendiri dahulu,” kata dia.

Pengelolaan sampah untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat  dan indah memang harus digalakkan kembali mengingat sekarang ini budaya berkembang dan berubah sangat cepat.

Contohnya, dahulu bungkus tempe dari daun. Sekarang menggunakan plastik bahkan hampir semua bungkus tidak lagi menggunakan daun tetapi serba plastik. Hal ini apabila tidak kelalola  sejak ini dikhawatirkan akan merusak tanah dan lingkungan.

“Dibentuknya Bank Sampah Sastra meskipun di dusun sekalipun saya mengapresiasi dan menyambut baik,“ kata Jito.

Camat Girimulyo Purwono SSos seusai melaunching Bank Sampah Sastra Sabrang menyampaikan apresiasinya karena sangat cepatnya perkembangan Bank Sampah Sastra.

Perkiraan dia, awalnya bank sampah itu hanya wacana ternyata berkembang pesat dan memperoleh sambutan masyarakat. “Mudah-mudahan Bank Sampah Sastra bisa mempelopori pengelolaan sampah bukan hanya di Dusun Sabrang saja, tetapi bisa jadi contoh bagi dusun dan desa lain di Girimulyo,” kata dia. (sol)