Delapan Kecamatan di Jogja Ini Ramah Difabel

67
Kaum difabel melewati fasilitas akses disabilitas di lingkungan Pemkot Yogyakarta, Rabu (12/9/2018). (w asmani/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Kabar baik bagi kaum difabel. Sebanyak delapan dari 14 kecamatan di Kota Yogyakarta sekarang ini sudah ramah difabel.

Sebut saja Kotagede, Tegalrejo, Wirobrajan, Gondokusuman, Kraton dan Jetis. Penetapan tersebut dalam rangka wewujudkan Kota Yogyakarta sebagai Kota Inklusi

“Saat ini di Kota Yogyakarta sudah ada delapan kecamatan inklusi, enam kecamatan lainnya akan segera menyusul. Target kami tahun depan Yogyakarta sudah menjadi Kota Inklusi,” papar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta, Edy Muhammad, saat menerima audensi penyandang disabilitas di Kantor Bappeda, Rabu (12/9/2018).

Menurut Edy, bangunan-bangunan baru di lingkungan Pemerintahan Kota Yogyakarta sudah ramah terhadap penyandang disabilitas. Bangunan yang ada sudah dilengkapi dengan jalan khusus untuk pengguna kursi roda, tempat parkir difabel, juga toilet khusus untuk penyandang disabilitas.

“Hanya bangunan lama yang belum kami lengkapi dengan faslitas penyandang disabilitas,” papar Edy.

Edy menambahkan,  tempat ibadah di Komplek Pemkot Yogyakarta hingga kini belum ada fasilitas untuk kaum disabilitas. Kedepan pihaknya akan menambah fasilitas penyandang disabilitas di tempat ibadah.

Baca Juga :  “Sebelum Meninggal Sempat Ingin Beli Kaos Seragam”

Selain Bappeda, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) juga mengadakan layanan jemput bola, petugas datang ke rumah penyandang disabilitas. Layanan berupa pembuatan KTP dan KK di rumah difabel.

Prantini, Sekretaris Bappeda Kota Yogyakarta menuturkan pihaknya sudah mensosialisasikan ke Unit Pelayanan Terpadu Daerah (UPTD) di lingkungan Pemkot Yogyarta untuk memperhatikan kebutuhan penyandang disabilitas. Pihaknya juga meminta kepada Dinas Kominfo agar fasilitas di dinas tersebut bisa diakses kaum disabilitas.

“Saya sampaikan ke UPTD agar mencermati anggaran untuk aksesbilitas d penyandang disabilitas. Dan, UPTD sudah melaksanakan dengan petunjuk teknis dalam musrenbang,” paparnya.

Nala Cinde Lintang Sae, Koordinator Organisasi Harapan Nusantra (OHANA), organisasi yang bergerak di bidang perlindungan dan pemenuhan hak difabel / penyandang disabilitas, mengungkapkan, pihaknya bekerjasama dengan Tim Arsitektur ITS Surabaya mengadakan survei aksesbilitas bagi kamu difabel di Kota Yogyakarta.

“Setelah kami beraudensi dengan Kepala Bappeda Kota Yogyakarta, kami mensurvei aksesbilitas di kantor Pelayanan Umum dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil d Komplek Balaikota,” terangnya.

Lanjut Nala, tujuan survei aksesbilitas tersebut untuk melihat kelayakan bagi kaum difabel. Selain di komplek balaikota Yogyakarta, survei juga dilakukan di sepanjang Malioboro dan berakhir di toilet internasional di depan Bank Indonesia (BI).

Baca Juga :  Mau Tahu Resep Bela Negara?. Ini Jawabannya

“Hasil temuan kami, akan kami laporkan kembali ke pemerintah Kota Yogyakarta,” jelasnya.

Kesulitan Akses

Arina, salah seorang pemakai kursi roda yang ikut survei mengaku masih kesulitan untuk melintasi jalan khusus di Kantor Pelayanan Umum Pemkot Yogyakarta.

“Saya merasakan terenggah-enggah dalam melewati jalan ini, saya kira tingkat kemiringan ini diatas angka 10, standar kemiringan untuk outdoor 7 dan indoor 8, disini terlalu tinggi,” katanya.

Dalam survei tersebut, Arina juga menemukan toilet dan sarana ruang laktasi untuk ibu dan anak sudah cukup ramah difabel. Mereka bisa masuk ke ruang laktasi dengan kursi roda.

Namun toilet yang ada di Kantor Pelayanan Umum dinilai masih kurang memadai. Di toilet yang ada tanda untuk kaum difabel, ruangan yang disediakan cukup sempit sehingga mereka kesulitan masuk.

“Mestinya ada toilet yang berukuran besar  yang diperuntukkan kami, inilah yang perlu kami laporkan,” ungkap Arina. (yve)