Demang Gedi, Wisata Lengkap di Hutan Mangrove

609
Jalur tracking di hutan Mangrove Desa Gedangan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. (heru cn/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Jika Anda ingin memanjakan mata, lidah dan perut sekaligus dan kemudian kembali ke rumah dalam kondisi fresh, maka wisata hutan mangrove di Desa Gedangan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, menjadi pilihan yang tepat. Lokasi wisata yang dikelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) warga setempat ini sering disebut sebagai Demang Gedi, kependekan dari Desa Mangrove Gedangan Purwodadi.

Untuk menjangkau lokasi wisata Demang Gedi, tidaklah terlalu sulit. Sebuah penanda berupa tulisan Gemang Gedi dalam ukuran besar, terpampang mencolok di jalur Daendels antara Jogja-Purworejo. Dari jalur Daendels ini, hanya butuh waktu beberapa menit untuk mencapai lokasi wisata Demang Gedi. Bus wisata ukuran besar pun bisa dengan mudah menjangkau lokasi wisata.

Lokasi inti wisata Demang Gedi adalah hutan mangrove yang membentang di kiri dan kanan tepian Kali Pasir. Kondisi hutannya sangat baik dan terjaga. Pohon-pohon mangrove yang sangat lebat itu ditanam sejak tahun 2010, tepatnya 10 November 2010 oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Purworejo.

Kondisi hutan mangrove yang terawat baik itulah yang kemudian memunculkan ide warga setempat untuk dikelola sebagai lokasi wisata. Lalu dibentuklah Pokdarwis Demang Gedi, setahun lalu. Warga sepakat mengumpulkan modal untuk membangun sejumlah fasilitas pendukung demi kenyamanan pengunjung.

“Ada 40 orang yang bergabung, masing-masing memberikan saham sebesar Rp 3,2 juta. Dana yang terkumpul dari saham penduduk inilah yang kemudian dipakai untuk membangun sejumlah fasilitas pendukung, seperti jalur tracking dan sejumlah gazebo,” kata Winarto, anggota Pokdarwis Demang Gedi.

Jalur tracking yang dimaksud Winarto adalah jalur berupa jembatan panjang dari kayu yang membentang di atas lahan rawa maupun di tengah rerimbunan hutan mangrove. Di sejumlah titik disediakan spot menarik untuk selfie bagi pengunjung.

Baca Juga :  Rumah Batik Handel Kauman Tinggal Kenangan

Tiket masuk ke lokasi wisata juga sangat murah. Hanya Rp 3.000 untuk hari biasa dan Rp 4.000 untuk hari Minggu dan hari libur. Dengan tiket masuk yang sangat murah itu, pengunjung bisa sepuasnya menikmati kesegaran hutan mangrove dan bisa sepuasnya melampiaskan hasratnya untuk selfie atau foto bersama. “Ada kesepakatan sejak awal bahwa 60 persen pemasukan dari lokasi wisata ini untuk desa, sementara sisanya untuk Pokdarwis,” jelas Gunawan, Ketua Pokdarwis Demang Gedi.

Wisatawan bersantai di kawasan hutan mangrove. (heru cn/koranbernas.id)

Wisata Lengkap

Demang Gedi pada dasarnya adalah wisata minat khusus. Artinya, selain menikmati suasana hutan mangrove, pengelola juga menyiapkan sejumlah aktivitas yang bisa dipilih oleh penunjung dalam bentuk paket wisata. Beberapa paket wisata tersebut adalah menanam bibit mangrove, membuat gula merah, membuat bibit tanaman mangrove, membuat teh dari daun Jeruju, serta membuat nata de coco dari buah pohon Nipah.

“Masing-masing paket seharga Rp 15.000 per orang. Sebaiknya ada pemberitahuan lebih dulu sebelumnya, sehingga kami bisa menyiapkannya dengan lebih baik,” kata Winarto.

Bagi pengunjung yang ingin menginap di Demang Gedi, pengelola juga menyiapkan 11 homestay. Tarifnya cukup murah, hanya Rp 75.000 per kamar per malam yang bisa ditempati tiga sampai empat orang per kamar. Untuk wisatawan yang menginap, pengelola menyediakan satu kali makan.

Sedangkan bagi pengunjung yang ingin menikmati hutan mangreove di sepanjang aliran Kali Pasir, disediakan paket Kayak dan Sepeda Air serta perahu motor. Untuk Kayak dan Sepeda Air, tarifnya cukup terjangkau, yakni Rp 15.000 per orang. Sedangkan untuk perahu motor, tarifnya Rp 5.000 per orang.

“Untuk paket Kayak dan Sepeda Air, dikelola oleh pihak ketiga. Pokdarwis Demang Gedi hanya kebagian 20 persennya,” jelas Winarto.

Baca Juga :  Penanganan Masih Minim, FK UAD Fokus Kebencanaan

Dengan Kayak, Sepeda Air dan Perahu Motor, pengunjung bisa menyusuri aliran Kali Pasir sembari menikmati lebatnya hutan bakau sepanjang 1,5 kilometer. Khusus untuk Kayak, daya muatnya hanya untuk dua orang. Satu untuk pemandu, satunya lagi untuk pengunjung. Namun, bagi pengunjung yang sudah mahir bermain Kayak, diperbolehkan tanpa didampingi pemandu. Yang jelas, pengelola telah memikirkan keselamatan pengunjung dengan memberikan fasilitas pengamanan berupa jaket pelampung.

Bagi pengunjung yang hanya ingin menikmati segarnya udara hutan mangrove dan ingin memanjakan lidah dan perutnya, pengelola juga menyediakan paket makan dengan menu kepiting, udang, kerang dan sompil. Dijamin kondisinya masih segar karena kepiting, kerang dan sompil itu diambil langsung dari hutan mangrove setempat. Sedangkan udangnya diambil dari hasil panen tambak udang yang banyak terdapat di sekitar hutan mangrove.

Meski baru dikelola serius selama setahun terakhir, jumlah pengunjung ke Demang Gedi sudah lumayan banyak. Mereka berasal dari Purworejo sendiri, dari Jogja dan bahkan ada dari sejumlah kota di Jawa.

“Ada dua kendala yang kami rasakan hingga saat ini. Pertama, kurangnya sumber daya manusia di sini yang mampu mempromosikannya secara intensif di media sosial. Kedua, adanya persaingan tidak sehat dari pengelola sejenis di kawasan Kulonprogo,” jelas Winarto.

Persaingan tidak sehat yang dimaksud Winarto adalah ulah sejumlah pelaku wisata yang sengaja “mencegat” calon pengunjung Demang Gedi, dan kemudian dialihkan ke lokasi wisata Pasir Mendit di daerah Kulonprogo. Pasir Mendit adalah juga wisata hutan mangrove yang dikelola warga Kabupaten Kulonprogo. Lokasi wisata Demang Gedi memang berbatasan dengan wilayah Kulonprogo, DIY.

“Ada baiknya jika ada kesepakatan pemerintah kedua wilayah agar rebutan wisatawan tidak terjadi lagi,” usul Winarto. (iry)