Deretan Kuliner Khas Wonogiri di Nikmat Makan Nusantara

416
Drh Verawati MSc baju putih hitam merah berbincang dengan rekannya di depan stand Wonogiri.(arie giyarto/koranbernas.id)

KORAN BERNAS.ID–Penasaran dengan aneka makanan tradisional khas Wonogiri yang unik? Ada pecel gendar tanpa bleng, tiwul jangan lombok tempe mandingan, bakmi geyol dari ketela?.  Atau warga Wonogiri yang tinggal di Jogja dan sekitarnya kangen dengan makanan itu?.

Hari Rabu (04/10/2017) pecinta makanan tersebut bisa menikmatinya di Nikmat Makanan Nusantara, di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosormantri, Bulaksumur Jogja. Karena Kabupaten Wonogiri membuka stand di sana. Bahkan Drh Verawati MSc, istri Bupati Wonogiri Djoko Sutopo mengawal sendiri kesibukan ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) yang tampil dalam event itu. Dia didampingi St Pranowo dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Wonogiri.

“Makanan daerah kami memang khas. Gendar kami tanpa memakai bleng sehingga lebih sehat. Sedang mie geyol, dikunyah kenyil-kenyil karena terbuat dari tepung ketela,”katanya menjawab pertanyaan koranbernas.id.

Mengenakan batik warna merah dengan motif Wonogiri yang dimodifikasi dipadu kebaya encim warna putih, Vera lebih lanjut mengatakan, ibu-ibu KWT memasaknya mulai pukul 01.00 dinihari. Dan berangkat dari Wonogiri pukul 04.00 WIB. Ini patut diapresiasi, karena mereka menjunjung nama baik Wonigiri.

Baca Juga :  RRI Jogja Ujicoba Siaran Radio Visual

Sementara itu. St Pranowo menjelaskan, ciri khas pecel Wonogiri, kacang tanah untuk sambalnya digoreng sangrai. Tanpa minyak. Sayurannya daun kenikir dan kecambah mandingan Jawa, bukan lamtorogung. Namanya cikru.

“Wah, jadi ingat masa kecil dulu,”kata Pranowo sambil tersenyum. Kemarin disediakan 330 buah pincuk, habis hanya dalam waktu tiga jam.

Wonogiri saat ini tengah menggalakkan olahan jambu mete untuk dibuat sirup. Karena vitamin C nya sangat tinggi. Sedang ampasnya, diolah menjadi abon. Dikemas dalam alumunium foil 1 ons harganya Rp 8.000. Sayang kalau ampasnya dibuang, sedang kacang metenya berharga paling tinggi. Usaha maksimalisasi olahan jambu mete ini sudah berlangsung beberapa tahun. Memang musiman karena sangat tergantung pada musim buah saja. Saat ini kebetulan lagi musim buah jambu mete.

Baca Juga :  Catut Nama Sultan, Penipu Perdayai Petani

Potensi lain untuk mengangkat kesejahteraan warga di antaranya kerajinan. Berupa tatah sungging wayang kulit. Di desa Kepuhsari Kecamatan Manyaran boleh dikata setiap keluarga punya alat tatah sungging. Sehingga desa itu juga disebut Kampung Wayang. Pasarnya terbuka, bahkan banyak pula wisatawan asing berkunjung ke sana terutama musim liburan musim panas Eropa sekitar Juni, Juli, Agustus.

Untuk memanfaatkan kesempatan secara maksimal, muncul kemudian paket wisata. Rumah-rumah penduduk jadi homestay. Desa tersebut juga dikenal sebagai penghasil penyangga gamelan.

Sebagai Ketua PKK Kabupaten Wonogiri, Vera yang sehari-harinya bekerja di  Balai Besar Veteriner di Kulonprogo itu melihat, sebenarnya kaum wanita di Wonogiri punya potensi untuk aktif, maju dan berkembang.

“Hanya saja mereka butuh disapa,” kata wanita berkacamata itu. (SM)