Desa Bantul Miliki Batik Khas. Seperti Apa?

538
Kasi Kesejahteraan Desa Bantul, Kuswandi menunjukkan batik khas desa bantul karyanya yang di luncurkan bersamaan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk, Sabtu (18/11/2017) malam hingga Minggu (19/11/2017) dini hari. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Sebuah karya batik yang begitu indah berhasil dibuat oleh Kasi Kesejahteraan Desa Bantul, Kuswandi (36 tahun). Batik yang diberi nama motif ‘Dwi Windu’ dan motif ‘Paseban’ di luncurkan oleh Wakil Ketua DPRD Bantul, Hj Arny Tyas Palupi ST bersamaan dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Warjudi Wignyosworo dengan lakon Wahyu Senopati,di Dusun Jonggrangan, Sabtu (18/11/2017) malam dan berakhir Minggu (19/11/2017) dini hari.

Hadir dalam kesempatan tersebut Lurah Desa Bantul, H Zubaidi dan ratusan penonton yang memadati lokasi acara dengan bintang tamu Nyi Titik dari Kulonprogo.

“Setelah peluncuran ini maka kami sudah melayani pembelian ataupun pemesanan dua batik khas tersebut setelah saya siapkan semuanya sejak empat bulan silam mulai ide hingga produksi,” kata Kuswandi kepada koranbernas.id di lokasi.

Saat ini batik untuk jenis cap sudah siap dipasarkan dengan harga Rp 125.000 sampai Rp 130.000 per lembar dengan warna yang bervariasi sehingga bisa dipakai semua usia. Sedangkan untuk jenis tulis dilepas dengan harga Rp 1,5 juta per lembar namun harus melalui pemesanan.

Baca Juga :  Konservasi Hutan, Pemerintah Rehabilitasi 29.000 Ha lahan

“Untuk batik ini nantinya akan menjaui unit usaha di bawah BUMDes dan sedang kita proses untuk Peraturan Desanya (Perdes). Kami berharap kehadiran dua motif batik yang sudah kami patenkan tersebut bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Desa Bantul,” katanya.

Setidaknya hingga kini untuk tenaga kerja yang sudah direkrut untuk batik ada 25 orang dan memiliki empat set alat cap batik. Dalam waktu dekat, Kuswandi melalui Pemdes Bantul akan melakukan pelatihan membatik bagi kalangan muda, sehingga pembatik akan muncul regenerasinya.

“Batik ini nantinya akan saya usulkan ke Pemkab Bantul agar bisa menjadi batik motif khas Bantul,” ujarnya.

Dijelaskan Kuswandi kalau Dwi Windu merupakan sebuah lapangan yang berada dalam satu kompleks dengan masjid Agung Manunggal serta Paseban adalah kompleks kantor bupati Bantul yang didepanya ada lapangan cukup luas dan kini dimanfaatkan untuk aktifitas masyarakat dalam berbagai bidang.

“Sebelum memutuskan desain apa yang akan saya buat, saya mengamati potensi apa yang ada di Desa Bantul. Selanjutnya saya lakukan perenungan dan hasilnya saya buat dalam gambar,” kata Kuswandi.

Baca Juga :  Ternyata Kandang Komunal Lebih Menguntungkan

Hasilnya untuk desain ‘Dwi Windu’ adalah gambar Masjid Agung Manunggal dan depannya ada padasan atau gentong raksasa tempat air. Gambar itu dibingkai dengan motif pakem satrio wibowo.

“Ini memiliki makna agar seluruh warga Desa Bantul senantiasa menjaga ibadahnya atau agamis, serta menjadi manusia yang berwibawa, satria dan berani berbuat hal yang benar,” papar Kuswandi.

Sedangkan untuk motif ‘Paseban’ berisi gambar kantor bupati lengkap dengan kuncunganya. Dibingkai juga dengan motif pakem satrio wibowo. Menurut ayah tiga putra tersebut, motif ini memiliki makna dan harapan agar mereka yang duduk di pemerintahan dan pengambil kebijakan senantiasa mengedepankan sikap jujur, satria dan senantiasa mengutamakan kepentingan masyarakat.

“Termasuk malam hari ini wayang kulit juga mengambil tema kepemimpinan. Harapnya nilai-nilai kepemimpinan akan bisa kita miliki semuanya dan kita teladani,” katanya. (yve)